Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Aduan Harry


__ADS_3

"Ayu.. Buka Yu. Maafin aku. Aku yang salah dari awal tidak menceritakan nya padamu. Aku takut kamu salah paham. Buka pintu nya Yu." kata Harry membujuk Fadia yang sudah mengunci diri di dalam kamar.


Harry sama sekali tidak meninggalkan rumah calon istrinya. Ia harus menyelesaikan kesalah pahaman nya. Ia siap menjadi bahan amukan Fadia asal jangan memutuskan hubungan mereka.


Ia pun bangkit untuk memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah Fadia. Ia berniat bermalam kali ini yang penting ia mendapat maaf dari Fadia.


"Yu. Buka pintunya, maafin aku. Aku sama sekali tidak ada hubungan apapun lagi dengan Sundari. Aku salah."


Harry mengusap wajahnya dengan kasar. Perasaan nya teramat menyesal. Niat nya hanya membantu walau ia tahu maksud kedatangan mantan kekasihnya dulu.


Ia tahu jika wanita butuh waktu sendiri bila marah. Tapi ia tidak ingin sampai hubungan mereka berakhir.


Sedari dulu ia tidak bisa di diami Fadia walau hanya dari telepon. Apalagi keadaan keduanya sekarang ini. Sebentar lagi akan menikah.


Bahkan sore tadi adiknya, Hanum memberi kabar besok Ibu dan Hanum serta paman nya akan datang. Keluarga besarnya meminta acara lamaran harus sesuai adat. Seperti Cungkog, Selar, Nontoni, barulah acara Lamaran.


Dapat di pastikan saat acara Cungkog Fadia akan menolak lamaran nya. Tapi ia berharap Fadia akan meminta waktu memikirkan lamaran nya agar ia bisa berusaha membuat Fadia kembali padanya.


Hatinya semakin sakit saat mendengar Fadia menangis di balik pintu kamarnya.


"Yu. Tolong buka pintunya. Maaf kan aku Yu. Tolong jangan tinggalkan aku."


"Pu-langlah Rry." titah Fadia di sela tangis nya.


Tentu itu membuat hati Harry semakin tidak karuan mendengar Fadia bicara sesegukan seperti tadi.


*****


*Di kamar Fadia.


Saat ego lebih kau pilih daripada aku


Saat ego lebih kau butuhkan dari kata maaf


Mungkin kepergian akan membuatmu mengerti.


Kita ada karena dua hati saling berbagi


Kita ada karena saling melengkapi


Lalu kita usai karena egomu lebih membuatmu berarti.


~`~~


Begitu ia menutup pintu kamarnya. Tubuhnya luruh ke lantai. Harapan nya sirna. Ia begitu kecewa pada calon suaminya.


Ia pandangi cincin emas yang melingkar di jari manis pemberian Harry setelah pulang dari Medan saat Harry meminta restu pada Fatin.


"Terimakasih telah menerima ku Yu." ucap Harry kala itu.


Fadia hanya mengangguk.


Harry meraih tangan kiri Fadia dan mengecup nya sekilas kemudian memakaikan cincin emas dengan permata berbentuk hati.

__ADS_1


"Ini berlebihan Harry." tegur Fadia memandang jemarinya yang masih berada di genggaman Harry.


Harry menggeleng. "Tidak Yu. Ini belum seberapa. Cantik dan pas di jari kamu."


"Terimakasih." ucap Fadia dan tersenyum manis.


Lagi-lagi ia menangis mengingat itu dan sekarang Harry mengecewakan dirinya.


Ada rasa sesal di hatinya memutuskan hubungan secara sepihak. Tapi apa yang ia tutur kan tadi memang benar. Entahlah.


Sekarang hanya menangis yang ia inginkan. Tidak peduli dengan Harry di luar ruang tamunya. Biarlah untuk saat ini ia memenangkan hati.


Hingga ia lelah menangis dan terlelap malam itu.


****


Pukul 3 dini hari Fadia terbangun karena kantung kemih nya penuh meminta untuk di keluarkan.


Ia memutar kunci kamarnya ke kiri dan meraih handle pintu dengan pelan takut Harry mengetahui ia keluar kamar.


Ia terpaku melihat pemandangan di depan matanya. Amarah dan rasa kecewa yang ia alami seketika menguap entah kemana karena pemandangan itu. Bagaimana tidak?


Harry sedang sholat sepertiga malam dan menangis dalam doa menyebut namanya. Samar-samar ia mendengar Harry mengadu pada sang Pendengar doa.


Ya Allah..


Hamba telah membuat kesalahan hingga membuat calon istri hamba menangis.


Hamba menyesal ya Allah.


Ya Allah..


*Maafkan hamba telah ingkar janji untuk tidak membuat Ayu menangis.


Hamba mohon..


Jangan pisahkan hamba dengan nya.


Hanya padamu hamba memohon pinta dan berharap pengabulan atas doa-doa hamba*.


Justru itu membuat ia merasa bersalah. Apa benar amarah nya telah melewati batas? salahkah ia berkata seperti tadi?


Fadia buru-buru berjalan ke dapur dimana kamar mandi terletak karena ia melihat Harry sudah menyelesaikan doa nya.


Di dalam kamar mandi Fadia hanya bisa merutuki dirinya. Mengapa harus ke kamar mandi? otomatis ia akan bertemu Harry.


Cukup lama Fadia di dalam kamar mandi karena menunggu Harry tertidur baru ia keluar pikirnya.


Ia pun membuka pintu kamar mandi secara perlahan.


"Astaghfirullah." ucapnya terperanjat karena melihat orang yang di hindari berdiri bersandar di dinding sebelah kamar mandi.


Fadia pun berjalan melewati Harry begitu saja. Jujur, ingin sekali ia berada dalam pelukan Harry sekarang ini. Tapi ia tepis pikiran itu.

__ADS_1


"Ayu.. Maafin aku." ucap Harry sembari mengikuti Fadia bak seekor anak ayam yang mengikuti induknya.


"Sudah malam. Tidurlah. Kamu besok harus bekerja juga bukan?" ujar Fadia yang terus berjalan.


"Aku tidak akan tidur sebelum kamu maafin aku dan hubungan kita lanjut."


Damn it. Demi apa? Harry mulai mengancam atau bagaimana. Kenapa muka nya lucu seperti itu?


"Jangan kayak anak kecil Harry. Aku mengantuk. Pulang atau tidur lah di sofa." ujar Fadia berbalik badan ke arah Harry.


"Aku tidak mau." tolak Harry.


Fadia berdecak sebal. "Ya sudah. Aku mau tidur." Fadia berbalik menuju kamar.


Tapi lihatlah. Harry terus mengikuti hingga sampai di depan kamar Fadia.


"Mau ngapain?" tanya Fadia saat tahu Harry mengikutinya.


"Ke kamar lah. Kamu tidak mau maafin aku ya terpaksa aku harus melakukan itu biar kamu tidak pergi dariku."


Seketika kedua tangan Fadia menyilang menutupi dada nya.


"Kamu mesum. Jangan melewati batas Harry." sanggah Fadia.


"Hanya itu cara untuk menjerat mu agar tidak pergi dariku Yu." terang Harry.


Fadia menyadari jika ia terus menolak dan marah dengan Harry maka calon suaminya ini bisa melewati batas.


Fadia pun menghela nafas panjang. "Baiklah. Besok kita bahas lagi. Kamu mau tidur dimana?" ucap Fadia melembut.


"Tidur sama kamu boleh?" tanya Harry.


Fadia yang di tanya seperti itu hanya bisa menelan saliva dengan kasar.


*Glek


Gawat*.


"Tidur di depan tv saja ya.. Ada tilam busa di kamar Gadhing." hanya ide itu terlintas di otak Fadia.


"Tapi bareng kamu kan?"


Fadia mengangguk. Niatnya hanya sampai Harry tertidur saja. Setelah itu ia kembali ke kamarnya.


Harry pun menggelar tilam busa ukuran 160cmX200cm itu. Fadia meletakkan dua bantal di tilam tersebut.


Fadia sudah merebahkan bobot tubuhnya sedangkan Harry masih berada di dapur.


Fadia masih berselancar pada lamunan nya menatap langit-langit ruang tamu. Saat menyadari ini adalah pertama kalinya Ia akan menemani Harry tidur membuat hatinya berdesir dengan debaran jantung yang bertalu-talu.


"Harry apa yang kamu lakukan?"


🌸

__ADS_1


Bersambung...


Kira-kira apa yang di lakukan mas Harry ya??


__ADS_2