
"Sudah ku duga. Kau pasti kesini kalau lagi galau ataupun marah." ucap seseorang pada Fadia.
Fadia mendongak melihat seseorang yang dekat dengan nya saat masa sekolah. Ia pun melengos karena masih merasa kesal.
"Jangan menggangguku." Ia melanjutkan makan nya.
Saat ia meninggal semua orang di pasar malam tadi, Fadia pergi ke tempat yang sering pertumpuan nya saat galau atau pun marah. Warung mie ayam bakso dekat dengan sekolah SMP nya dulu.
"Tidak. Aku hanya khawatir." ujar nya mendudukkan bobot tubuhnya di depan Fadia.
"Kemana Elsa?" tanya Fadia tetap fokus pada mie ayam bakso nya.
"Masih disana sama adik ipar mu."
Fadia hanya diam, ingin sekali menanyakan Harry dimana setelah bertemu dengannya. Tapi mendadak gengsi bertanya hal itu.
"Harry masih disana." kata orang itu.
"Apa kau bahagia dengan nya Fad?" sambungnya lagi.
Fadia menatap orang itu. Fadia mengangguk pasti. "Tentu."
Fadia tahu orang di depan nya ini masih memiliki perasaan untuknya. Tapi ia tidak boleh memberi harapan untuk orang itu. Terlebih ia sudah memiliki Harry dan orang itu sekarang adalah pacar sahabatnya.
"Fad. Perasaan ku masih sama seperti SMP dulu. Aku masih menyukai mu, aku masih sayang padamu." ungkap orang itu lirih.
Orang itu adalah Niko pacar Elsa. Dulu Fadia dan Niko sangat dekat, apalagi setelah Fadia mengenal Harry. Ia sering bersama Niko untuk belajar bahasa Jawa. Karena Niko dan Fadia satu kelas, menjadikan keduanya banyak menghabiskan waktu di sekolah.
Berbeda dengan Elsa. Walau Fadia dan Elsa sahabat dari kecil, tetapi ketika di sekolah keduanya bebas bermain dengan siapa saja.
"Ayolah Nik. Kita sudah pernah membicarakan masalah ini bukan? Aku tidak mau hubungan kita yang dekat akan renggang jika kita pacaran lalu putus." terang Fadia.
"Ya aku tahu." jawab Niko lirih.
"Eh Niko ya? Sudah lama sekali tidak ke warung bapak. Fadia saja sering datang kesini." ujar sang penjual mie ayam bakso.
"Iya bang. Aku lama di Riau untuk pendidikan satpam." jawab Niko.
"Oh pantes. Jadi ini janjian sama Fadia ya?"
"Iya bang. Mie ayam bakso satu ya."
Hening. Kedua nya terdiam dengan Fadia masih memakan mie ayam bakso nya dengan lahap tanpa menjaga image di depan Niko.
Niko sendiri terkekeh melihat cara makan Fadia tidak pernah berubah.
"Kau masih seperti anak SMP kalau makan." ledek Niko.
Fadia mencebik tanpa menjawab ledekan dari Niko.
Pesanan Niko pun sudah di depan matanya. Asap mengepul dan wangi kuah mie ayam bakso nya sangat menggugah selera.
Niko pun mengaduk mie dan bakso nya. Kemudian ia memindahkan bakso nya ke mangkuk Fadia. Ini adalah suatu kebiasaan saat makan bersama Fadia saat masih sekolah dulu.
__ADS_1
Bahkan hingga SMA mereka beda sekolah masih sering janjian makan di warung mie ayam bakso ini. Sayang nya setelah tamat SMA Niko melanjutkan pendidikan satpam di Riau tanpa memberi kabar Fadia dan Fadia akhirnya menikah.
"Niko.. Aku sudah kenyang." rengek Fadia saat semua bakso Niko berpindah ke mangkuk nya.
"Biar cepat tinggi Fad." sindir Niko.
"Kau masih saja menyebalkan." sungut Fadia namun ia memakan bakso dari Niko.
"Boleh aku tanya Fad?"
Fadia mengangguk.
"Kalau misalnya Harry tidak datang, apa aku bisa mengejar cinta mu?"
Fadia menatap Niko dengan seksama. "Mungkin bisa, karena waktu itu aku sama sekali tidak berharap Harry datang."
"Tapi sekarang keadaan berbeda Nik.. Aku segera menikah. Dan kau sudah ada Elsa." sambung Fadia.
"Ya aku tahu." jawab Niko lirih.
"Aku yakin kau pasti bahagia. Kenapa tidak menikah saja?" tanya Fadia dengan masih mengunyah bakso nya.
Niko menggeleng. "Aku belum ada pikiran menikah. Target ku menikah umur 27 atau 28."
"Lalu Elsa bagaimana? kalau menunggu umur segitu ya Elsa sudah tua untuk menikah."
Niko mengedik bahu tanda acuh. "Aku tidak tahu, aku pacaran sama dia tidak serius Fad. Aku jalani mengalir saja."
Fadia menghela nafas. "Terserah kamu, tapi jaga Elsa Nik. Jangan kamu rusak karena aku tahu dimana tempat kalian mojok kalau abis keluar."
Kedua nya tertawa. Sejenak Fadia melupakan kejadian sebelumnya. Ia tidak marah dengan Harry, karena ia mulai paham jika Harry termasuk orang yang tidak tegaan. Ia hanya kesal karena Harry tidak memberitahu nya saja.
"Elsa dan adik ipar mu sudah membawa Gadhing pulang Yu. Ini Elsa kirim aku pesan. Kalau mereka sudah di rumah."
"Dan Harry masih mencari mu." sambung nya lagi.
Fadia mengangguk. Ia tahu Harry mencarinya karena sedari tadi ponsel nya bergetar.
"Biarkan saja, aku masih ingin makan bakso ini."
Satu notifikasi pesan WhatsApp di ponsel Fadia. Dan ia tahu itu dari Harry.
Harry :
Jenang ayu seko pasar triwindu, Hai cah ayu.. I here with you.
Dari sekian banyak pesan WhatsApp dari Harry baru ia buka. Dan di suguhkan pantun ala Harry. Ia pun tersenyum.
"Dari Harry?" tanya Niko karena ia memperhatikan Fadia sedari tadi.
"Iya."
Fadia membalas pesan WhatsApp Harry.
__ADS_1
Fadia :
Dolan neng Kalimantan numpak kapal.
Ketemu mantan pengen tak untal.
Harry :
Maaf sayang. Kamu dimana?
Fadia :
Di warung mie ayam dekat sekolah SMP aku. Kesini. Aku takut pulang sendiri.
****
Setelah membaca balasan pesan dari Fadia, ia segera ke tempat dimana Fadia berada. Beruntung saat ini ia tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Sedari tadi ia begitu khawatir. Belum lagi ia di marah-marah oleh adik nya sendiri. Belum lagi ia akan di marahi sang ibu karena bisa di pastikan adiknya akan mengadukan semuanya.
Lagi-lagi ia merutuki sifat nya yang tidak tegaan yang sangat mudah di manfaatkan orang lain.
Setelah sampai di warung mie ayam yang di katakan Fadia, Harry turun dan menyugarkan rambut hitamnya kebelakang sebelum melangkah masuk kedalam.
Langkahnya terhenti saat melihat calon istrinya dengan seorang pemuda yang ia kenal sebagai pacar sahabat calon istrinya.
*Kenapa bisa makan bersama?
Bukankah tadi bersama Elsa?
Apa ada hubungan tersembunyi yang belum di kasih tahu Ayu padaku?
Aku cemburu kamu tertawa begitu bahagia dengan orang lain Yu.
Tapi aku takut kamu marah karena aku sudah melakukan kesalahan lagi*.
Dengan berat hati Harry melangkahkan kaki nya ke meja Fadia dan Niko dengan wajah kusut,masam, cemberut, dan sendu.
"Sayang.." Rengek Harry karena Fadia masih saja tidak peka.
"Sini duduk Harry. Mau pesan?" tanya Fadia.
Harry menggeleng dan duduk di sebelah Fadia. Ia menatap Niko dengan tajam. Ia curiga dengan Niko dan Fadia sekarang.
Fadia sadar dengan gelagat Harry yang berbeda. Ia menggenggam tangan Harry yang berada di atas paha sang empunya tangan.
Harry menatap Fadia karena tangan nya di genggam. Ia tersenyum tatkala Fadia menggeleng kan kepala seakan mengisyaratkan tidak ada hubungan apapun.
Tapi tak di pungkiri jika ia cemburu.
*Aku akan menghukum mu di rumah nanti Yu karena sudah membuatku cemburu.
🌸*
__ADS_1
Bersambung..
Lanjut gak?