Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Canduku


__ADS_3

Ada rasa curiga di hati Fadia dengan yang di katakan Rudi setelah ia meminta maaf telah menolak pinangan nya.


"Bang Rudi, maafkan aku harus menolak mu. Cinta tidak bisa dipaksa kan bang?" kata Fadia lemah lembut berharap Rudi mengerti keadaan nya.


"Apa karena pak Harry lebih mapan dari abang dek?" tanya Rudi.


Fadia menggeleng. "Tidak bang. Kami sudah mengenal lama. Dari aku SMP sudah mengenalnya bang."


"Abang mau tanya, kau tidak curiga kalau pak Harry tidak punya perempuan lain? dimana-mana laki-laki lajang itu cari yang masih perawan dek."


Fadia terpaku mendengar nya. Ia membenarkan hal itu. Tentu ia tahu bagaimana nikmatnya bercinta dengan yang masih perawan. Sedangkan dia, sudah mengeluarkan Gadhing.


"Saya tidak mempermasalahkan janda atau perawan." sargah Harry menatap Fadia masih terdiam dengan tatapan kosong. Ia yakin Fadia memikirkan apa yang di katakan Rudi.


"Pikirkan lagi dek apa yang bilang. Kita sudah tahu bagaimana berumah tangga. Apalagi urusan nafkah batin. Jumpai abang kalau kau berubah pikiran. Abang tetap nunggu kau. Abang pulang dulu." Ia tidak memperdulikan apa yang di katakan Harry.


Harry menghela nafas setelah melihat kepergian Rudi. Kini ia menatap Fadia yang masih termenung.


Harry bangkit menghampiri Fadia. Ia berlutut di depan Fadia yang masih duduk. Ia sedikit mendongak ke Fadia karena tubuh Fadia yang mungil jadi tidak terlalu tinggi walau Harry sudah berlutut.


"Ayu.. Dengarkan aku. Jangan pikirkan apa yang di katakan Rudi tadi. Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu." Harry mencoba meyakinkan Fadia. Karena ia sendiri tidak pernah mempermasalahkan itu.


Fadia menunduk menatap Harry sehingga netra mereka bertemu. "Tapi benar yang dikatakan bang Rudi Rry. Itulah yang di cari laki-laki. Dan aku sudah tidak gadis lagi. Kamu pasti malu menikahi ku."


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Yang aku tahu kita harus menikah. Sudah itu saja. Masalah itu aku hanya mau kamu yang melayani ku. Bagaimana aku bisa tahu rasa perawan atau tidak. Wong aku tidak pernah melakukan itu." terang Harry.


"Ehem.." ibu Elsa berdehem agar Harry dan Fadia berhenti membahas itu karena ada Elsa.


"Ibu sama Elsa pulang dulu ya.. Lebih baik bahas kapan nak Harry ke rumah ibu dan kerumah mbak Fatin ya. Gadhing biar tidur di rumah Ibu."


Harry mengangguk. "Terimakasih Bu."


Harry dan Fadia hanya terdiam. Harry bangkit kemudian mengarahkan Fadia agar duduk di sofa panjang.


"Jangan berfikir untuk mundur setelah kamu menerimaku Yu."


Fadia hanya mampu mengangguk. "Lalu Sundari?"


"Astaghfirullah.. Kamu masih memikirkan dia? aku sungguh benar-benar sudah selesai dengan nya Yu.."


Fadia menunduk. "Aku takut Harry."


"Sudah jangan ada yang di takutkan. Jangan sedih lagi. Mau dengar pantun lagi tidak?"


"Pantun apa?"


"Tuku jamu karo nyawang wong ayu. Senajan kowe lemu, tetep muat ning atiku."


(Beli jamu sambil melihat orang cantik. Meski kamu gendut, tetap muat dihatiku)


Fadia melotot setelah mendengarkan pantun dari Harry. Ia pun memukul lengan Harry yang tidak berasa apapun bagi Harry. Malah ia tergelak sekarang.


"Kamu kira aku gendut gitu?" tanya Fadia dengan memanyunkan bibir.

__ADS_1


"Tidak sih.. Aku lebih suka kamu marah-marah dari pada sedih terus."


"Ya sudah aku marah saja."


"Dengarkan aku Yu. Aku serius dengan mu. Maafkan aku yang datang terlambat." kata Harry mencoba menenangkan.


"Besok kita ke makam ayah bunda kamu ya." ajak Harry.


Fadia menatap Harry. Ia tidak menyangka, bahkan ia berpikir Harry akan meminta restu pada mbak Fatin saja.


Fadia mengangguk lemah. "Apa Bapak ibu kamu merestui kita?"


Harry tersenyum. "Tentu Yu. Mau video call?"


"A-aku gugup Rry." ucap Fadia.


Harry merogoh ponsel merk apel tergigit itu langsung melakukan video call pada adiknya Hanum.


Hanum : "Assalamualaikum mas."


Harry : "Bapak sama ibu sudah tidur belum Num?"


Hanum : "Ada. Tapi aku mager mas."


Harry : "Kamu ndak malu sama calon kakak ipar mu?"


Fadia dapat melihat mimik wajah Harry yang tenang dan tidak berekspresi itu. Bahkan ia bingung, Harry sekarang sedang marah, sedih, atau senang.


Fadia tersenyum tatkala ponsel Harry sudah di depan wajah nya.


Ia menatap Harry karena ia tidak tahu siapa nama adik Harry.


"Hanum." jawab Harry mengerti maksud tatapan Fadia.


Fadia : "Assalamualaikum Hanum." Fadia tersenyum lagi.


Tampak dari layar ponsel itu Hanum bangkit dari rebahan dan sedang berjalan.


Hanum : "Waalaikumussalam mbak. Ini Ibu mbak. Sudah lama ingin melihat calon menantu nya."


Fadia tersenyum canggung mendengar itu. Ia kembali menatap Harry yang sedang tersenyum manis.


Harry : "Assalamualaikum Bu."


*Ibu : "Waalaikumussalam. MasyaAllah menantu ibu.. Pantas saja Harry jadi gila. Ternyata kamu sangat cantik."


Hanum : "Mbak Ayu kok mau sih sama mas Harry? dia itu nyebelin loh. Di ajak ngomong jawab nya cuma iya, tidak, Hem doang*."


Fadia meringis mendengar keluhan orang yang di seberang ponsel Harry.


Fadia : "Ibu apa kabar?"


Ibu : "Alhamdulillah sehat nak. Apa Harry disana aneh-aneh nak?"

__ADS_1


Fadia : "Tidak Bu. Harry baik disini."


*Ibu : "ya sudah, kamu cerita sama Hanum dulu ya.. Ibu mau pergi sama bapak kondangan."


Hanum : "Mbak Ayu kenapa mau sama mas Harry*?"


Fadia tersenyum mendengar pertanyaan calon adik iparnya.


Fadia : "Karena mas kamu itu memilih mbak Num."


Tampak wajah Hanum cemberut disana.


Hanum : "Mbak tahu, mas Harry itu kolot. Pasti mas Harry tidak tahu namanya berciuman."


Fadia terbelalak mendengar itu. Ia bingung harus menjawab apa.


Fadia : "Tidak apa-apa nanti mbak yang ajarin mas mu berciuman."


Harry yang sedari tadi hanya diam menjadi pendengar terkejut dengan jawaban Fadia. Tetapi ia senang. Seperti mendapat angin segar. Ia merebut ponsel dari tangan Fadia dan memutuskan video call sepihak.


"Kok di matikan begitu? tidak sopan Harry." tegur Fadia.


Harry bergeming, ia hanya menatap wajah Fadia tampak cantik malam ini. "Katanya mau ajarin aku berciuman." ucap Harry merapatkan duduknya pada Fadia.


Fadia merutuki dirinya sendiri atas jawaban dari pertanyaan calon adik iparnya. Bagaimana bisa ia lupa jika ia sedang bersama orang yang mereka bicarakan tadi.


Debaran jantung kedua nya sudah tidak terkontrol lagi. Yang satu niatnya asal menjawab sedangkan yang satu niatnya hanya menggoda Fadia malah ia terjerat oleh niat nya sendiri.Ia terbuai oleh situasi yang ada.


"Apakah boleh Yu?" izin Harry lirih.


Fadia menatap Harry. Sekali lagi ia merasa bangga pada Harry. Bila pria lain melakukan apa yang diinginkan tanpa meminta izin bahkan setiap ada kesempatan pasti pria lain dengan nekad melakukan lebih.


Tapi Harry? meminta izin untuk mencium nya? bahkan izin itu membuat ia malu.


"Apa jika aku mengizinkan maka aku terlihat seperti perempuan murahan?" tanya Fadia.


Harry menggeleng. "Tidak jika hanya aku yang melakukannya."


Fadia hanya mengangguk tanda mengizinkan Harry untuk mencium nya.


Fadia dapat merasakan hangatnya bibir Harry menyentuh bibirnya. Perlakuan nya yang manis dan sangat lembut itu mampu membawa Fadia lupa untuk menapakkan kaki di atas tanah.


Tak lupa Harry mengecup hidup mancung Fadia dan kening Fadia juga setelah cium an mereka terlepas.


"Sangat manis." puji Harry.


"Jangan sampai melewati batas Harry."


Harry mengangguk. "Ingatkan aku jika mulai melewati batas seperti tadi Yu. Sungguh kamu canduku."


"Aku pulang ya. Kalau ada apa-apa telepon aku." pamit Harry seraya bangkit dari duduknya.


Fadia mengangguk mengikuti Harry untuk mengantar nya pulang sampai depan rumah.

__ADS_1


Jantung ku.. Harry mencium ku? aahhh sangat manis. jerit Fadia sembari menyentuh bibirnya setelah Harry pulang.


__ADS_2