
Sedari tadi Harry tidak tenang. Ia uring-uringan menatap pintu rumah Fatin. Berharap wanitanya segera pulang karena sudah tiga jam wanitanya itu keluar bersama Fatin dan Elsa.
"Sudah pak. Perempuan kalau belanja begitu. Lupa waktu." celetuk Niko sedari tadi melihat Harry gelisah.
"Ini sudah sore Niko. Saya khawatir."
Tiga puluh menit kemudian ketiga wanita itu pulang dengan menenteng kantung plastik besar di kedua tangan mereka.
Ada rasa lega di hati Harry melihat calon istrinya tampak bahagia.
"Belanja apa saja Yu?" tanya Harry setelah Fadia meletakkan dua kantong plastik besar di meja.
"Belanja daster Rry. Lumayan disini lebih murah dan aku juga beli Bika Ambon untuk kamu, untukku, untuk Bapak dan Ibu. Juga untuk pak Seto. Tidak apa kan?"
Harry hanya mengangguk tetapi pikiran nya sedari tadi memikirkan daster yang Fadia beli. "Itu bukan daster tipis kayak yang kamu punya kan?"
"Tidak. Aku beli daster yang bisa di pakai keluar rumah. Aku beli daster floral, daster ruffles kerut. Daster Damara juga, Ini lihat lah. Daster Moza cantikkan? Ini juga daster model qloora. Cantikkan Rry?" tanya Fadia sedari tadi menunjukkan model-model daster yang ia beli.
Sedangkan Harry memperhatikan bentuk model daster yang Fadia beli. Tubuhnya panas dingin menatap bentuk model leher daster itu terbuka di bagian dada.
"Kamu mau keluar pakai baju daster itu?" tanya Harry.
Fadia mengangguk. "Kan model daster nya tidak kuno. Jadi bisa di pakai keluar." Fadia masih belum mengerti yang di maksud Harry.
Harry melihat ruang tamu tidak ada orang pun mendekati Fadia yang masih melipat kembali daster-dasternya.
"Aku tidak rela orang lain melihat dada mu Yu. Apalagi setelah aku menyentuh nya tadi." bisik Harry.
Demi apa?
Fadia menjadi kikuk. Tubuhnya meremang merasakan hembusan nafas Harry di telinganya. Bau mint yang menyegarkan.
Pipi nya kembali merona mengingat kejadian di bawah pohon mangga tadi siang. Seketika pikiran nya traveling dengan adegan itu.
"Harry. Menjauhlah sedikit." ujar Fadia.
Harry terkekeh. Walau ia juga sama dengan Fadia yang sedang memikirkan adegan tadi, tapi ia harus bisa menguasai diri dari naf su untuk sekarang. Tidak tahu setelah menikah.
Ia sangat gemas melihat pipi Fadia yang merona. Kulit putih alami Fadia membuat pipi itu merah sangat kentara di lihat orang lain.
Cup
Harry mencium pipi Fadia tiba-tiba. Kemudian mengacak rambut Fadia karena dilihat wanitanya diam mematung. Dan ia tahu itu karena ulah nya.
__ADS_1
Harry tersenyum. "Jangan di pakai di luar rumah ya daster nya kalau tidak ada aku." ujar Harry.
Fadia hanya mengangguk karena ia masih gugup berada di dekat Harry.
Ah selalu saja jantung ini tidak bisa di kondisikan. Kalau begini terus bisa aku yang kebablasan. Harry.. kau sungguh memabukkan. Jerit Fadia dalam hati.
"Kamu tahu rasa nyaman yang sempurna itu gimana?" tanya Harry.
Fadia hanya menggeleng.
"Rasa nyaman sing sempurna yo iku lek kowe gelem meluk aku."
(Rasa nyaman yang sempurna ya itu kalau kamu mau peluk aku)
Fadia terkekeh. Selalu saja Harry memiliki kalimat menenangkan dalam bahasa Jawa. Haruskah ia memeluk Harry?
"Mau di peluk?" tanya Fadia.
Harry mengangguk pasti.
"Halalin adek bang." kata Fadia dengan merayu.
Harry tergelak mendengarnya. Tidak biasanya Fadia seberani itu. Walau beberapa kali Fadia menantang dirinya.
Entahlah. Ia begitu mengagumi pria ciptaan Tuhan ini.
"Jadi tidak mau halalin adek ini?" tawar Fadia.
"Mau dong. Bahkan sudah tidak sabar. Oh iya, sepulang dari sini kita langsung cari kebaya ya. Mau beli di toko atau kita bawa ketempat tukang jahit saja?"
"Ke tukang jahit saja ya. Kan biar bisa pas ukuran nya."
Harry mengangguk. "Mau mahar apa Yu?"
"Tidak tahu. Bolehkah aku bertanya sebelum kita melangkah jauh?" tanya Fadia menatap Harry dengan seksama.
Harry mengangguk.
"Harry.. Kamu pasti tahu bukan? dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah yang berbunyi begini. Hendaklah kalian menikah dengan perawan, karena mereka lebih segar mulutnya, lebih banyak anaknya, dan lebih ridha dengan yang sedikit." Fadia bicara sangat lembut karena takut Harry tersinggung dan meragukan perasaannya untuk Harry.
"Ya aku tahu. Terus?" tanya Harry tenang.
"Kamu masih bisa memikirkan lagi keputusan mu untuk menikahiku."
__ADS_1
Harry menghela nafas panjang. Ternyata belum seutuhnya ia bisa meyakinkan wanitanya ini. Tapi ia cukup takjub pada Fadia bertanya seperti itu untuk meyakinkan dirinya melalui hadist.
"Benar yang kamu bilang Yu. Tapi, menikahi gadis bukan sebuah kewajiban dalam agama. Anjuran ini juga berlaku untuk perempuan. Kamu juga bisa mengutamakan lamaran dari pria perjaka ketimbang duda." jawab Harry sangat yakin atas jawaban nya.
"Banyak keuntungan menikahi janda Yu. Meneladani Rasulullah SAW, dapat pahala, masih banyak lagi keuntungan menikahi janda dan yang paling aku senangi itu, janda lebih berpengalaman." goda Harry sembari tersenyum nakal.
"Jangan mesum iihh..." rengek Fadia.
Harry terkekeh. "Rasulullah SAW juga menikahi janda-janda. Hanya ummi Aisyah R.A seorang gadis. Itu artinya tidak ada yang salah untuk menikahi janda Yu selagi niat kita baik untuk beribadah." terang Harry agar Fadia tidak lagi meragukan perasaan nya.
"Dan jadikan aku seperti ummi Sayyidah Khadijah Harry. Jadikan aku perempuan satu-satunya hidup bersama dengan dirimu sebelum aku berpulang. Tolong jangan gantikan aku dengan perempuan lain sebelum aku berpulang." tutur Fadia.
"Hei.. Jangan bicara seperti itu. Kamu akan menjadi satu-satunya perempuan yang aku nikahi. Aku janji." Ucap Harry sembari memeluk Fadia.
****
Di dalam kamar Fatin mendengar perdebatan manis Fadia dan Harry di ruang tamu. Ada rasa sedikit lega kaki ini karena ia merestui hubungan sang adik.
Ia dapat melihat ketulusan Harry untuk Fadia dan Gadhing. Melihat Gadhing begitu dekat dengan Harry.
"Andai kau datang lebih awal Harry. Mungkin adikku tidak akan merasakan kesakitan itu sendiri. Bukan aku tak sayang pada adik ku membiarkan dia tinggal sendiri di desa. Tapi aku tak cukup berani untuk menunjukkan kasih sayang ku padanya. Aku tak ingin dia menangis. Aku tak sanggup melihat adikku menangis di depan ku."
"Bohong jika aku tak menangis melihat nasib adikku. Tidak ada kakak yang setega itu."
Fatin menangis sesenggukan di dalam kamar. Ia masih teringat Fadia remaja kala itu melihat tubuh kedua orang tua nya yang kaku. Diam bagai patung. Tidak berbicara pada siapapun. Ritual memandikan dia saksikan, pemakaian kapan dia saksikan hingga ke liang lahat.
Fadia tidak menangis. Tapi wajahnya memucat. Sakit saat melihat Fadia berlari setelah penguburan selesai. Fadia mengunci diri dalam kamar menangis histeris.
Hingga sampai kisah rumah tangga bagai neraka dunia itu di alami adiknya membuat Fatin merasa bersalah. Andai dulu ia tidak memberi restu pasti tidak akan begini.
Dan ia juga tahu mengapa Fadia tidak ingin tidak dengan nya. Itu karena rumah di desa adalah pengobat rindu untuk Fadia.
"Jangan menangis, semua telah usai istriku." ucap Fadli menenangkan istrinya.
"Aku yang salah bang."
🌸
bersambung...
__ADS_1
Like dan komen ya..