Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Fadia Rahayu


__ADS_3

Fadia melakukan senam yoga dengan di latih oleh pelatih yoga di tempat mereka nge-gym hari ini. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya.


Harry dengan setia menunggu sang istri setelahnya baru ia memulai gym. Sedangkan Gadhing sudah memulai gym nya menggunakan dumbbell.


Ia terus mengawasi kedua prioritas nya saat ini. Selalu saja meringis tatkala melihat Fadia seakan kesusahan melakukan yoga itu.


"Mau minum?" tawarnya ketika Fadia beristirahat sebentar.


Ia bangkit mengambil botol air minum dimana di letak tadi. Tanpa di duga ia tak sengaja menabrak seseorang. Bukan.. Bukan ia yang tak sengaja namun orang itu yang lebih dulu menabrak nya hingga terserobok ke lantai.


"Auwh.."


"Maaf." ucap Harry tanpa menolong wanita yang menabraknya ia hanya mengambil botol milik sang istri dan botol minum milik wanita itu.


Wanita itu berdiri dengan senyuman manis menatap Harry. Tampak jelas ia terpesona dengan ketampanan seorang Harry Setiawan.


Bagaimana tidak terpesona? sekarang ini Harry tengah mengenakan baju tanpa lengan hingga menampakkan otot-otot yang menonjol dan celana pendek. Urat tangan yang menonjol menambah pesonanya.


"Maaf." tegur Harry karena merasa risih dengan tatapan memuja wanita di depan nya.


Wanita itu tergagap lalu menerima botol air miliknya. "Makasih abang ganteng.." ucapnya dengan centil.


Kejadian itu tak luput dari pandangan Fadia dan ia merutuki ketampanan sang suami. Ia menghela nafas, mood nya mendadak buruk melihat Harry di pandangi begitu oleh wanita lain.


Umpatan dalam hatinya terus terucap kala melihat wanita itu memperhatikan Harry sedang berjalan menuju ke arahnya.


Ia tidak bisa memungkiri bahwa ketampanan dan bentuk tubuh Harry lebih menonjol di tempat ini dan ia berdecak kagum melihat Harry sedang membuka botol air minum untuknya saja tampak sangat keren.


"Makasih abang ganteng.." ucap Fadia centil menirukan wanita tadi.


Harry mengernyitkan hingga satu alis naik ke atas. Heran sejak kapan sang istri memanggilnya abang. Lalu ia menyadari sang istri tengah cemberut.


Lalu ia memberikan air minum untuk Gadhing tengah duduk di sebelah sang istri. "Sudah siap?"


"Sudah." jawab Fadia singkat.


"Ya sudah kamu istirahat dulu ya.. Aku sama Gadhing kesana dulu." Harry berujar sembari menunjuk alat-alat gym yang akan digunakannya.


"Hem.." Fadia berdehem menatap punggung kedua pria beda generasi itu.


Ada apa dengan mu Fad? apa ini yang namanya cemburu? Hah.. Sesak kali dadaku nahan nya. Baru ku ingat terakhir kali aku cemburu pas 17 san.


Fadia berdecak ketika melihat wanita tadi sengaja berpindah di dekat sang suami.

__ADS_1


"Idiihh centil." celetuk Fadia sewot.


Fadia terus memperhatikan bagaimana telaten nya Harry mengajari Gadhing gunakan dumbbell karena hanya alat itu yang bisa Gadhing gunakan.


Ia terus tersenyum melihat ayah dan anak tak sedarah itu. Selalu ia bersyukur dihadirkan suami seperti seorang Harry.


Ia berdecak kala arah pandang mata mengarah ke wanita itu yang selalu memperhatikan Harry dengan tatapan memuja.


"Resiko punya lakik ganteng gini. Banyak ngenes nya kalau sudah di luar rumah. Apa tak cukup para karyawati saja yang kagum sama lakikku? Astaghfirullah... Rasanya pengen ku kurung saja di rumah itu suami."


Fadia terus mengomel dan menggerutu dengan apa yang ia lihat. Akhirnya mendatangi suami dan anak adalah pilihan tepat karena ia sudah tidak tahan dengan wanita yang kecentilan di dekat suaminya.


"Sayang.." seru Fadia dengan sengaja padahal jarak antara ia dan Harry juga Gadhing masih beberapa meter lagi.


Harry dan Gadhing menoleh ke arah Fadia berjalan menuju ke arah mereka dengan tangan melambai.


Harry tersenyum begitu juga Gadhing. Kedua pria beda generasi ini bisa dikatakan fans fanatik seorang Fadia Rahayu.


"Sayang.."


"Bunda.."


Fadia tersenyum puas ketika melihat raut wajah wanita itu berubah muram.


Rasain.. Dia itu suamiku. Ledek Fadia dalam hati.


Fadia menggeleng dan tersenyum saat Harry mengecup perut buncitnya beberapa kali.


"Geli mas.."


Harry berdiri masih cecengesan yang selalu membuat Fadia jatuh cinta pada ketampanan sang suami. Senyum mengembang menampakkan gigi putih rata dengan mata menyipit itu menambah nilai plus untuk kadar cintanya.


"Enak ya kak punya suami ganteng dan cinta lagi." celetuk wanita yang membuat mood Fadia buruk.


"Iya." jawab Fadia singkat karena sudah badmood dibuat wanita itu. Dengan sigap ia merangkul lengan Harry posesif.


"Boleh dong jadi madu kakak."


Fadia menoleh ke arah wanita itu. Sedari tadi ia sudah terganggu dengan wanita itu di tambah perkataan nya barusan membuat hatinya kian memanas.


Dilepas rangkulan tangan tadi lalu meraih tangan Gadhing. "Ambil saja mbak biar nanti saya cari suami lain."


Lalu ia menatap Harry. "Makasih abang ganteng." Setelah mengatakan itu Fadia berjalan menggandeng Gadhing keluar dari tempat itu.

__ADS_1


Sebenarnya Harry sudah tahu Fadia marah dan cemburu dari sang istri mengucapkan 'makasih abang ganteng'.


Mau tahu apa yang di rasakan Harry?


Bahagia.


Ya dia bahagia akhirnya sang istri cemburu pada wanita lain. Dan ia sangat menikmati wajah cemberut Fadia kala memperhatikan dirinya melatih Gadhing dengan ada wanita itu berada di dekatnya.


Dan rasanya ia ingin tertawa saat Fadia dengan sengaja memanggilnya padahal jarak Fadia berdiri masih beberapa meter.


Kini ia melihat sang istri keluar dari tempat ini ada rasa cemas di hatinya.


"Jadilah perempuan terhormat agar kamu di jadikan satu-satunya perempuan di hidup suamimu. Jangan mencoba berpikir untuk menjadi yang kedua berharap di nomor satukan dan melupakan yang kesatu itu lebih terhormat dari yang kedua."


"Dan satu lagi. Kamu tidak ada apa-apa nya dibanding istri saya." sambung Harry.


Harry keluar dan mendapati sang istri dan anaknya tengah berdiri di sebelah sepeda motor mereka dan wajah Fadia yang masih cemberut.


"Ngapain lama di dalam?"


"Tidak ada sayang.."


Fadia mencebik bibir. "Seneng sudah ada calon madu? sudah tukaran nomor WhatsApp kan?" cerca Fadia dan dijawab Harry dengan gelakan.


Fadia semakin tersungut pun mencubit otot Harry yang terekspos.


"Geli Yu.. Kamu sengaja ya buat aku geli?" tanya Harry memegang tangan Fadia yang mencubit nya.


"Iihh aku itu cubit kamu bukan gelitiki kamu." Fadia semakin cemberut karena merasa Harry tenang-tenang saja saat ia marah.


Harry mengecup kening Fadia dan Ghading bergantian lalu naik ke atas sepeda motor menunggu istri dan anak nya naik juga.


"Jangan jauh-jauh Yu.. Nanti jatuh." tegur Harry karena ia tidak merasakan perut Fadia menempel di belakang tubuhnya dan yakin jika Fadia membuat jarak padanya.


Sementara Fadia bergeming lantaran masih marah dengan Harry yang merasa senang karena ia marah.


"Fadia Rahayu." tegur Harry lagi dan hal itu berhasil membuat Fadia menurut.



🌸


Bersambung...

__ADS_1


*Kopi dong kopi..


Bunga mawar juga boleh*..


__ADS_2