Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Extrapart (Niko)


__ADS_3

POV Niko


Malam ini kami menjenguk istri dari mantan kekasih istriku. Sesaat aku melihat tatapan sendu dari Yudha untuk istriku. Lalu ku alihkan perhatikan bagaimana balasan tatapannya untuk Yudha.


Tatapan mereka sama.


Aku bisa apa?


Marah?


Tentu tak akan ku lakukan karena hingga kini rasa dihati ku masih terpaut untuk sahabat ku, Fadia Rahayu.


Maafkan aku istriku.


Aku melihat ketika istriku, Elsa, dan wanita yang ku cinta hingga kini berjalan memasuki kamar istri mantan istriku.


Aku bukan fokus kesitu, fokus ku berada pada Yudha yang memperhatikan istriku.


Tapi aku tak bisa marah karena aku juga curi-curi pandang melihat wanita yang ku cinta menggendong Daffa.


Maafkan aku istriku, kita terjebak dalam belenggu cinta masa lalu.


Andai Yudha masih sendiri, aku rela kamu memilihnya dan aku pergi menjauh dari keluarga kalian yang begitu baik memperlakukan aku.


Aku tahu aku pengecut, tapi aku sudah berusaha sekuat dan semampu ku untuk mengikis perasaan ku.


Nama dia yang selalu menguasai hatiku membuat dadaku sesak ketika mata kami tak sengaja bertemu. Aku yakin istriku juga mengalami hal itu ketika matanya bertemu dengan mata Yudha karena aku melihat bagaimana istriku menarik nafas dalam-dalam.


Jantung ku selalu berdegup kencang hanya membayangkan namanya. Maafkan aku sekali lagi istriku.


Aku masuk ke dalam ruang tamu ketika suara riuh para wanita disana. Lagi-lagi jantung ku bertalu-talu hanya karena dia tersenyum padaku dan aku hanya mengangguk hormat padanya yang sekarang menjadi kakak ipar ku.


"Kau dari mana Nik?"


"Keluar sebentar merokok."


Aku beralih melihat ke arah Harry yang sudah berwajah masam. Terkadang aku kesal dengan sifat Harry yang cemburuan. Padahal aku sendiri tidak berniat merebut Fadia dari nya.


Mau bagaimana aku mencintai dia, tapi aku tak ingin merusak kebahagiaan nya.


"Maaf lama mas." ucap istriku.


Aku mengangguk. Lagi-lagi ku lihat Yudha masih menatap istriku, tatapan lembut penuh cinta.


"Kalau begitu kami pamit pulang Yudh." ucap Harry dan di anggukin Yudha namun tatapan itu tetap ke arah istriku.

__ADS_1


Sengaja aku terakhir memasuki mobil karena aku ingin bicara dengan Yudha. Setelah semua orang masuk ke dalam mobil, aku melihat lagi Yudha menatap kearah mobil dan ku yakin fokusnya hanya pada istriku.


"Bang." panggilku dan membuat Yudha terperanjat.


"Ya." Suaranya terdengar sungkan.


"Terimakasih telah mencintai Hanum." ucapku tulus.


Yudha menoleh kearah ku dengan wajah terkejut, aku tahu pasti dalam hatinya bertanya mengapa aku bisa tahu akan hal itu.


"Maafkan aku belum bisa melupakan Hanum." ucapan nya terdengar lirih di telingaku.


Aku tersenyum. "Tak apa, tapi setidaknya bersikaplah profesional kepada istrimu. Jangan dilupakan rasa cinta mu bang. Tapi buatlah itu sebagai teman mu."


"Kamu tidak marah?"


Aku menggeleng. "Tapi satu pintaku, jangan melewati batas saat kamu juga memiliki istri. Dia juga membutuhkan mu."


Yudha menggeleng. "Hubungan kami tidak sehat, anak itu bukan anak ku Nik. Aku di jebak istriku agar bisa menjadi ayah nya."


Aku terkejut mendengar itu. "Jadi istri abang udah itu?"


"Ya."


"Apa kamu benar-benar tak marah kalau aku masih mencintai Hanum?"


"Jadi siapa ayah dari anak istri abang? kemana dia?"


"Dia kekasih istriku dan dia sudah menikah dengan perempuan lain."


Aku terbelalak mendengar itu, ternyata ada yang lebih menyedihkan dari pada kisah cinta ku. Sekali lagi aku berpikir.


Apa aku penghalang cinta mereka?


"Hanum masih mencintai abang." kataku membuat Yudha menatap dalam ke arahku mencari. sebuah kejujuran disana.


"Aku rela bila kalian bersama tapi aku tak ingin Hanum menjadi orang ketiga diantara kalian walau hubungan kalian sudah tak baik-baik saja. Hanum begitu berharga dan tak pantas mendapat luka lagi dari abang. Aku pulang dulu."


Aku pamit dan masuk ke dalam mobil. Wajah penduduk mobil itu sudah terlihat masam karena aku terlalu lama bicara dengan Yudha.


POV Author


"Kok lama mas?" tanya Hanum penasaran.


Niko tersenyum melihat istrinya lalu menarik tengkuk lehernya dan mengecup keningnya.

__ADS_1


"Hanya mengobrol saja."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman Ricky dan Elsa.


Fadia tampak sudah terlelap di dada Harry dengan menggendong Daffa dengan kain jarik dan Raffi berada di gendongan Harry. Malam ini Gadhing tak ikut karena saat berangkat tadi Gadhing sudah di ajak ke rumah kakek lebih dahulu.


Harry mengusap kepala Fadia dengan sayang. Ia semakin bahagia menikahi Fadia, istrinya kini jauh tampak lebih mempesona.


Dengan balutan hijab syar'i dan wajah berseri setiap saat. Sungguh di matanya Fadia adalah bidadari yang di kirim Tuhan untuknya.


Perubahan Fadia begitu terasa karena sejak istrinya itu memutuskan untuk menutup aurat ialah yang sering di ajak untuk beribadah.


Harry tak malu mengajari Fadia mengaji yang benar. Pernah beberapa kali istrinya meminta mengaji pada guru mengaji namun Harry menolak. Bukan karena malu, namun Harry ingin menikmati keindahan yang disajikan Fadia itu sendiri.


Mengajarkan ilmu agama yang ia tahu selama ini kepada istri dan ketiga anaknya itu sesuatu yang sangat membahagiakan ditambah waktu nya sekarang jauh lebih lenggang daripada dahulu di Sumatera Utara.


Ia tersenyum mengingat tadi sebelum berangkat kerumah Yudha, setelah selesai sholat Maghrib maksud Harry libur mengaji dan di lanjut besok saja namun ucapan Fadia membuat ia jatuh cinta lagi padanya.


"Suamiku, ayo jangan menolak ku. Katanya senang lihat aku mengaji kenapa diliburkan? kayak mengaji ada dinas nya saja Sabtu Minggu libur."


"Nanti isya di susul Yu.."


"Ayo ajari aku. Nanti aku servis deh."


Senyuman Harry merekah bila urusan itu. "Ayo. Sekarang?


"Ya sekarang lah. Keburu kak Ricky sama Elsa datang."


"Ya sudah ayo." Harry menggendong Fadia yang masih berbalut mukenah putih itu.


"Harry.. Maksud ku ngaji nya sekarang." pekik Fadia mulai panik.


"Tapi kamu sudah batal wudhu nya, sekarang laksanakan kewajiban dan hak dulu ya.."


Harry melepaskan mukenah itu dan melipat nya dengan rapi. Kecupan berulang kali ia layangkan di bibir Fadia yang cemberut. Bahkan ia e mut bibir itu membuat Fadia melotot.


"Harry ih." sungut Fadia namun takenolak atas perlakuan Harry.


Harry terkekeh setiap kali penolakan Fadia ketika mengawali permainan namun akan sangat liar bila sudah berada di atas tubuhnya memimpin permainan.


"Kamu cantik." ucap Harry membuat pipi Fadia bersemu merah.


Setelah itu Harry memulai permainan dengan sekali pelepasan saja karena mereka harus sholat Isya lebih dahulu barulah pergi ke rumah Yudha.


🌸

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2