
Fadia menangis bukan karena masalah ia dan Harry, namun karena rasa alpukat di lidah nya tak kunjung hilang. Padahal ia sudah kumur-kumur berulang kali begitu juga ia sudah sikat gigi berulang kali. Tapi tiap kali ia menyecap mulutnya sendiri, rasa alpukat itu masih kentara dilidahnya.
"Ayolah hilang dari mulutku.. Kenapa kau sungguh tega siksa aku alpukat.." gerutu Fadia masih berada dalam kamar mandi.
Ia usap air mata yang masih mengenang di pelupuk mata.
"Awas saja kalau dia tidak minta maaf. Enak saja dia bilang aku lebih dekat sama Niko. Apa dia tak sadar kalau dialah salah satu prioritas ku. Bahkan dia sama penting nya kayak Gadhing. Memang Harry gendeng."
Setelah puas mengatai suaminya, Fadia pun keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang suami sedang menatap ponsel merk apel tergigit itu.
Dasar nyebelin.. Tidak ada rasa khawatirnya sama sekali. Padahal aku muntah-muntah karena minum jus alpukat dari dia. Lihat saja.. Siapa duluan yang ajak ngomong.
Fadia berjalan ke brankar lalu menaiki nya kembali tak lupa ia juga mengambil ponsel merk apa dalam bahasa Jawa.
Diliriknya Harry yang masih fokus pada ponsel membuat ia mendengus kesal. Akhirnya ia membuka akun sosial media dan menscroll apapun yang ada di sana.
Satu jam berlalu namun agaknya Harry tetap dal posisi duduk dan mode diam. Lagi-lagi Fadia mendengus sebal dengan diam nya Harry padahal 3 jam lagi ia sudah di perbolehkan untuk pulang.
Ia pun turun dari brankar mengambil tas dan merogoh isi dompet.
"Bi, tolong belikan keperluan dapur dan mandi untuk stok sebulan ya.. Bibi jangan balik lagi kesini, tunggu di rumah saja karena sebentar lagi saya sudah boleh pulang." ujar Fadia.
Bukan tidak ada maksud menyuruh art pulang lebih dulu. Ia ingin punya waktu berdua dengan Harry.
"Baik Bu, apa Gadhing ikut saya atau bagaimana?"
"Gadhing ikut nenek saja." jawab Gadhing.
Fadia mengangguk. "Hati-hati ya Bi.. Bibi juga kalau mau beli sesuatu boleh saja."
"Terimakasih bu."
...****...
Sebenarnya ada rasa bersalah di hati Harry melihat Fadia muntah-muntah karena minum jus alpukat yang ia bawa. Namun rasa cemburunya lebih besar sekarang. Ia tidak tahu cemburu di bagian yang mana.
Apa karena cemburu Niko membawakan buah dan makanan untuk sang istri?
Apa karena Fadia tidak muntah saat menyicipi es lilin dan minum jus yang ia berikan muntah-muntah?
Atau karena cemburu pada Niko yang dekat dengan Fadia?
Ia tahu kalau Niko lah yang membuat perkenalan antara ia dan Fadia, tapi kembali lagi bahwa ia tidak suka miliknya di dekati orang lain.
Apalagi itu menyangkut dengan sang istri. Perlu ia tekankan lagi bahwa Fadia adalah hidupnya, miliknya.
__ADS_1
Hingga timbul lah ide di pikiran nya. Ia ingin tahu sejauh mana Fadia berusaha untuk memperbaiki keadaan.
Disengaja untuk tidak perduli walau itu sangat sulit. Hati ingin mendekap dan mencium sang istri namun logika meminta ia untuk mencoba tidak perduli sebentar.
Nyatanya Harry sangat sulit menahan agar tubuhnya tetap duduk diam. Akhirnya ia memilih bermain ponsel dan membuka galeri dimana banyak tersimpan foto-foto sang istri.
Sesekali ia lirik Fadia yang uring-uringan. Bahkan beberapa kali ia memergoki sang istri tengah menatapnya lalu mendengus.
Kamu sangat lucu Yu.. Ah kenapa aku tidak bisa marah padamu?
Ia semakin senang kala Fadia meminta art pulang lebih dulu. Itu berarti Fadia ingin punya waktu berdua kan? baiklah, kita ikuti permainan.
Tapi tunggu, apa itu? sang istri malah acuh begitu. Bahkan kini tengah menikmati dessert alpukat sembari menatap ponselnya.
Apa Ayu sengaja?
Harry menghela nafas lalu beranjak keluar kamar rawat inap Fadia. Hati nya kembali bergemuruh. Ia tahu alpukat sangat dibutuhkan Fadia. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk membiarkan Fadia memakan nya.
Harry tercengang melihat Fadia cekikikan menatap ponsel dengan memakan brownies alpukat. Hal itu menjadikan dirinya kesal sendiri. Keluar dari ruangan mungkin lebih baik, pikirnya.
Brakk..
...****...
Fadia terjingkat kaget saat pintu ruangan nya di tutup lumayan keras oleh sang suami. Ia pun menjadi bingung. Hal apa yang membuat Harry begitu karena ia sedari tadi asyik menonton drama China.
Ia pun mengakhiri tontonan nya karena ingin menunggu seberapa lama suaminya itu di luar.
Tiga puluh menit sudah terlewati namun pintu belum juga terbuka dan itu sukses membuat Fadia kian kesal dan sang suami.
*Kenapa tak ada yang mau ngalah sih..
Braakk*..
Lagi-lagi Fadia terjingkat kaget karena suara pintu yang cukup keras. Di lihatnya Harry berlari menuju kamar mandi.
Hooeekk.. Hooeekk...
Fadia tersenyum penuh kemenangan. "Hihihi.. Si kembar satu geng sama ku rupanya."
Fadia pun turun brankar menuju kamar mandi menyusul Harry. Mau bagaimana pun, rasa khawatir selalu ada selama Harry mengalami kehamilan simpatik.
Di pijat tengkuk leher Harry yang sedang berjongkok. Kalau cuma nunduk pastilah Fadia tidak bisa menjangkau nya.
"Kamu dari mana?" tanya Fadia lembut setelah memijat tengkuk leher Harry.
__ADS_1
"Dari kantin."
"Hei.. Kenapa kamu jadi ketus begitu?" gantian Fadia yang cemberut.
"Aku minta maaf mas.." sambungnya lagi.
...****...
Akhirnya istriku minta maaf juga.. Hah.. resiko punya istri tidak peka ya gini. Untung sayang.
"Hem.." Harry hanya berdehem lalu keluar kamar mandi dengan Fadia mengekori dari belakang.
"Iihh kok cuma hem doang? kamu lupa kesepakatan kita?" seru Fadia.
Mendengar kesepakatan ia menghentikan langkahnya. Ia tersenyum menyeringai sebelum membalikkan badan kearah Fadia.
"Kesepakatan apa?" tanya Harry datar.
"Tidak boleh keluar rumah sebelum masalah selesai dan berakhir dengan kasur bergoyang." jawab Fadia polos.
Ah istriku.. asal kamu tahu, hanya menatap bibir mu saja sudah buat penduduk di bawah sana bangun.
"Jadi.. Mau di kasur rumah sakit atau di rumah saja?"
Fadia mengerutkan dahi, sedetik kemudian ia terbelalak menyadari kesalahannya.
"Mas.. Ingat aku hamil."
"Mas tahu sayang.. Kan dokter juga bilang boleh.. Dan gaya apa yang harus kita praktikkan juga mas tahu.. Dan kamu tahu gaya misionaris adalah gaya kesukaan kita kan?"
Fadia menelan saliva kasarnya. Sungguh ini di luar rencana nya agar Harry mau memaafkan masalah tadi.
Mengapa gaya misionaris menjadi kesukaan keduanya? karena Harry lebih suka mendominasi setiap permainan. Seperti sudah kodratnya, sebagai pria ia ingin menjadi pemimpin.
Jika itu alasan Harry, maka berbeda alasan dari Fadia. Ia suka gaya misionaris karena suka melihat wajah Harry terlihat sangat tampan dan sek si saat dalam keadaan berkabut gai rah. Dan itu terlihat jelas ketika ia berada di bawah kukungan Harry.
"Mau di sini atau di rumah sayang? mas sudah beli satu kotak kon dom."
Kenapa mendadak gugup gini sih? padahal baru libur seminggu.
"Di rumah saja ya.."
🌸
**Bersambung...
__ADS_1
Hai hai.. yok kasih emak bunga atau kopi yok**..