Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Gosip


__ADS_3

"Hey.. Kenapa di tutupi begitu kepalanya?" tanya Harry melihat tingkah Fadia seperti saat malam pertama menjadi istrinya.


"Aku malu.." rengek Fadia menahan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Entah apa yang membuat ia menjadi malu-malu seperti sekarang. Bahkan wajahnya terus saja merona ketika Harry terus mencum bui dengan iringan kata cinta untuknya.


Harry terkekeh melihat tingkah Fadia yang menggemaskan. Semua yang ada pada diri Fadia adalah hal yang membuat ia bahagia.


"Mandi dulu Yu.. Kalau nunggu besok pagi-pagi keburu subuh nya abis." ujar Harry karena ia sudah membersihkan diri lebih dulu.


"Mas balik badan biar aku masuk kamar mandi."


Lagi-lagi ia di buat tertawa geli. Bagaimana bisa Fadia menjadi semenggemaskan ini? Ah baiklah, turuti saja.


"Jangan lari-lari. Di ember pink itu air hangat, hati-hati mandinya."


"Siap." Fadia pun beranjak berjalan santai dengan tubuh polos nya tanpa di sadari sudah di perhatikan sang suami.


"Oh shi t.. Ayolah juniorku.. Kenapa harus bangun lagi? ingat ada si kembar di dalam sana.." gerutu Harry karena miliknya sudah berdiri tegak ketika melihat Fadia berjalan berlenggak-lenggok menuju kamar mandi.


Harry memutuskan keluar kamar karena bisa dipastikan ia akan menerkam Fadia begitu melihat keluar dari kamar mandi.


Ia juga tahu, walau dokter berkata tidak masalah, tapi mana mungkin ia akan membuat sang istri lemah tak berdaya seperti biasanya. Mengurangi pelepasan adalah pilihan nya walau membuat ia pusing seperti saat ini.


Harry menuju dapur untuk membuat kopi untuk menghilangkan pikiran kotor nya. Sungguh sangat menyiksa tapi ia tidak boleh egois, ada anak-anak di dalam rahim Fadia.


Setelah membuat kopi ia ke ruang tamu menghidupkan televisi untuk menemani nya minum kopi. Tidak ada yang menarik. perhatian nya di siaran televisi tersebut.


Sudah dua jam ia duduk di depan televisi. Namun agaknya mata tidak lagi mengantuk.


Ceklek...


Harry melihat Fadia keluar kamar dengan mengusap-usap matanya lalu berjalan menuju kearahnya.


Tanpa di duga Harry, sang istri duduk di pangkuan nya menyandarkan kepala di dadanya. Seakan mencari tempat ternyaman.


"Kamu kenapa hm?" tanya Harry mengelus kepala sang istri dan sesekali mendaratkan kecupan di pucuk kepalanya.


"Aku kecarian tahu, kamu nya entah kemana." jawab Fadia dengan mata terpejam.


Harry tidak menjawab membiarkan Fadia tertidur di pangkuan nya. Mengelus perut rata Fadia dengan sangat lembut hingga ia mengetahui nafas Fadia sudah teratur pertanda bahwa sang istri sudah tertidur pulas.


Ia tersenyum dan mendekap tubuh wanita yang sangat ia cintai ini. Terbesit rasa penyesalan karena tidak datang lebih awal untuk mempersunting Fadia.


Tapi ia itulah takdir.


Sudah lama ingin menemui Fadia tapi ia selalu menuruti agar tidak bertemu dan mengumpulkan uang untuk biaya nikah.

__ADS_1


Dan sekarang? tanpa meminta dan tanpa terduga mereka di pertemukan.


Terimakasih takdir. gumam Harry dalam hati.


Ia pun mengangkat tubuh sang istri menuju kamar dan di rebahkan pelan-pelan lalu ia merebahkan tubuhnya di samping sang istri untuk ikut tidur karena hari semakin larut.


...****...


Pukul 9 pagi di stasiun Kabupaten Kota tempat tinggal Fadia. Dua orang pemuda dari Pulau Jawa baru menginjakkan kaki di Sumatera Utara.


"Telepon Harry cepat." kata satu pemuda tersebut.


"Kamu lupa kita mau kasih kejutan?"


Ya, dua orang pemuda tersebut adalah Ricky dan Yudha. Mereka ingin mencari peruntungan di kota tempat tinggal sang sahabat.


"Kata Hanum, dari stasiun naik becak terus bilang saja nama kantor Harry." kata Yudha sembari baca isi pesan dari Hanum.


"Ya sudah ayo."


Keduanya menaiki becak dan menuju kantor Harry. Di perjalanan keduanya memperhatikan apa saja yang mereka lewati.


Tidak seperti di Malang, banyak gedung tinggi disana. Sedangkan di kota kecil ini gedung tertinggi hanya beberapa. Bahkan rata-rata gedung tinggi itu bangunan Pemerintahan.


Lalu mereka melewati perkebunan kelapa sawit diyakini mereka ini adalah kebun perusahaan dimana Harry bekerja.


"Iya bang." jawab Yudha ramah.


"Mau cari kerja atau gimana bang?"


"Ya begitulah.."


"Kalau kerja disini harus ada orang dalam bang. Ada orang dalam abang?"


Yudha dan Ricky saling pandang. "Ada bang."


"Baguslah bang, tapi hati-hati abang kerja disini. Kata adek ku, Asisten Afdeling disini galak bang."


Lagi-lagi Yudha dan Ricky saling pandang lalu menahan tawa karena mereka tahu siapa yang dibicarakan.


"Kok tahu adik abang kalau Asisten Afdeling disini galak?"


"Dia kerja disini bang, apalagi kata adekku semenjak dia nikah." jawab tukang becak itu terus berceloteh.


"Loh apa hubungannya bang?" jiwa kekepoan Yudha meronta-ronta namun Ricky tetap diam saja karena ia tahu pasti Yudha sudah lebih dulu bertanya.


"Pawang nya sudah tidak kerja lagi jadi dia galak di kerjaan. Tapi kata adekku, sekarang ada gosip tentang Asisten Afdeling itu."

__ADS_1


"Gosip?" tanya Yudha dan Ricky bersamaan. Mereka terkejut karena baru pertama kali Harry jadi bahan gosipan. Biasanya Harry hanya menjadi pusat perhatian dan banyak wanita memuja nya.


"Iya bang."


"Adik abang ini perempuan atau laki-laki?" tanya Ricky.


"Perempuan lah bang. Kalau laki-laki mana mau bahas gosipan."


Keduanya manggut-manggut.


"Gosip apa bang?"


"Kata adekku, jawab istrinya ada hubungan sama Asisten Afdeling itu ketahuan sama istrinya. Terus istrinya kecelakaan padahal lagi hamil."


Keduanya terperanjat lalu saling pandang. Mereka tahu kawan dari istri Asisten Afdeling itu adalah Elsa. Tapi mereka belum yakin kalau Harry akan setega itu pada Fadia.


Tanpa terasa becak yang ditumpangi Yudha dan Ricky telah sampai di depan gerbang kantor Harry. Tapi ada yang berbeda dari raut wajah keduanya. Jika tadi wajah mereka cerah dan semangat untuk datang memberi kejutan, sekarang berbeda setelah mendengar penuturan tukang becak tadi.


Mereka berdua akan siap menghajar Harry jika gosipan itu benar adanya.


Ricky membayar ongkos becak. Ia cukup kaget ternyata ongkos nya lebih mahal dari pada di Malang.


Ricky berjalan menuju pos penjaga. "Pagi pak, apa Harry ada di kantornya?"


Pos itu pun tersenyum ramah. "Maaf. Pak Harry sedang berada di Lapangan."


Ricky tampak terdiam sebentar. "Rumah nya dimana ya?"


"Oh itu nomor 3." Tunjuk satpam kearah rumah Harry dan Fadia.


"Makasih ya pak.. Mari."


Keduanya berjalan menuju rumah Harry dan Fadia.


"Awas saja kalau gosip itu benar." celetuk Yudha.


"Aku akan menghajatnya jika benar." kata Ricky.


Mereka kaget dan kecewa pada Harry. Bagaimana tidak? dari antara mereka bertiga, Harry lah yang sangat susah jatuh cinta, sulit di dekati, dan sangat sulit hatinya di sentuh. Tapi apa ini? setelah menikah mengapa ada gosip seperti ini?


Ricky yakin bukan Harry yang memulai. Tapi Elsa lah yang mulai.


Seketika rahang nya mengeras memikirkan perlakuan Elsa.


*Lihat saja apa yang akan ku perbuat nanti.


🌸*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2