Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Istriku emak-emak


__ADS_3

Fadia melihat Harry masuk kamar dan mengunci pintu dari dalam. Susah payah ia menelan saliva lalu ia berdiri mendekati Harry yang masih menatapnya seperti singa kelaparan.


"Sayang.." panggil Fadia langsung memeluk Harry.


Kepalanya bersandar di dada bidang sang suami adalah hal menenangkan diri. Selalu merasa aman dan nyaman.


Harry tersenyum ketika mendengar kata 'sayang' terucap dari bibir Fadia. Selalu merasa hatinya berbunga-bunga jika Fadia yang mengatakan itu. Mau tahu alasan nya apa?


Alasannya karena Fadia sangat jarang memanggil nya dengan sebutan sayang.


"Kamu kenapa?" tanyanya masih membalas pelukan Fadia.


"Kangen." sahut Fadia.


Keduanya bersitatap dengan tatapan has rat tertahan. Harry membungkuk menggapai bibir tipis Fadia. Sesaat mata mereka bertemu dan tersenyum dengan bibir masih melekat.


Tidak ada yang sadar jika keduanya sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Harry menatap kedua payu dara Fadia tampak lebih besar sebelum hamil.


Fadia merasa malu di tatap seperti itu langsung menyilangkan kedua tangan di dada nya. Ia selalu merasa malu jika di tatap seperti itu oleh Harry.


"Bee.. Jangan di lihat kayak gitu.."


Harry terkekeh, ia sangat menyukai wajah Fadia yang malu-malu seperti itu. Dengan gemas ia kembali memagut bibir Fadia sembari bermain dengan kedua payu dara sang istri.


Puas dengan kedua payu dara Fadia, ia beralih membuka tempat benda kesukaan milik Fadia. Akhirnya lidah itu tiba disana. Di tatap kembali milik Fadia terlihat begitu sangat indah membuat Harry ingin berlama-lama dengan sesuatu empuk itu, lidahnya betah bermain disana mendesak masuk menggelitiki benda kecil di tengahnya.


Desa han Fadia menekan kepala Harry yang sedang asyik memainkan lidah di bawah perutnya sampai keluar sebuah cairan hangat membuat sedikit lemas.


Harry tersenyum ketika tahu Fadia telah pelepasan pertama. Tanpa rasa jijik ia menghi sap cairan itu.


Kata 'ah' terus keluar dari bibir Fadia. Sel-sel darahnya seakan ikut terhisap sehingga membuatnya semakin menggerinjal.


"Bee.." panggilnya dengan mata sayu.


Merasa cukup, ia kembali mensejajarkan wajahnya dengan Fadia.


"Sekarang Bee.." rengek Fadia membuat Harry tersenyum serta mengarahkan junior memasuki rumahnya.


Keduanya hanyut dalam permainan tiada henti. Harry seperti kehausan belum menemukan sesuatu yang membuat dahaga nya terpuaskan.


Ia selalu memuja seorang Fadia Rahayu. Sedari dulu nama itu yang menemani nya. Nama itu yang senantiasa memberi ia nasihat, memberi omelan, dan sekarang nama itu ada dibawah kukungan nya untuk membuat ia terpuaskan.


Kedua tangan yang ia genggam ini adalah tangan penuh perjuangan, hidup sendiri mengurus segalanya sebelum ia hadir. Kini ia akan menggantikan penderitaan dahulu menjadi kebahagiaan darinya.


Dua tubuh itu mengejang untuk kesekian kali. Harry harus memaksa junior untuk terakhir pelepasan malam ini. Karena ia sudah melihat Fadia sudah lemas tak berdaya karena ulah nya.


"Makasih sayang." ucapnya sembari mengecup seluruh wajah Fadia.

__ADS_1


Ia tersenyum melihat wajah Fadia sedang menikmati sisa-sisa gai rah.


"Rry.." Ucap Fadia.


"Ya.." Harry sama sekali tidak mempermasalahkan Fadia memanggil nya dengan sebutan apa. Yang terpenting Fadia selalu berada disampingnya.


"Pengen rujak ulek."


Spontan Harry menoleh menatap Fadia. Dimana mencari rujak ulek di jam 10 malam?


"Ini sudah malam Yu, besok saja ya.." Harry menolak secara halus agar Fadia tidak marah.


Namun terlambat, Fadia sudah memiringkan tubuh memunggungi Harry.


"Kamu kan gitu, semua dilarang.. Dan ini aku mau sesuatu tak kamu kasih." Dengan wajah cemberut Fadia turun dari tempat tidur dan memakai pakaian tadi dengan susah payah akibat perut buncitnya.


Fadia keluar kamar dan menutup pintu sedikit keras. Ia akan ke kamar mandi membersihkan diri.


Harry melongo melihat tingkah Fadia berubah menjadi sangar padahal tadi Fadia begitu manja saat penyatuan.


"Apa ini ngidam? padahal aku yang ngalamin hamil simpatik, tapi memang kayaknya enak rujak ulek.."


Harry bangkit memakai celana boxer nya mencari sang istri. Ia harus memastikan Fadia membersihkan diri lebih dulu baru melakukan aktivitas lain.


Terdengar gemericik air dari kamar mandi ia pun lega. "Sayang.."


"Fadia Rahayu.. Apa kayak gitu sahutan kamu ke aku?"


Fadia membuka sedikit pintu itu memasang wajah cemberut. "Iya.."


"Handuk sama baju ganti sudah dibawa?" tanya Harry karena ia tahu kebiasaan sang istri.


"Belum, lupa."


"Aku ambil sebentar, kita mandi bareng ya.. Biar aku cari rujaknya."


Fadia hanya diam dan menunggu Harry di dalam kamar mandi. Setelah Harry masuk langsung keduanya mandi. Tidak ada aktivitas seperti di novel-novel lain nya.


Harry tahu jika melakukan penyatuan di kamar mandi itu tidak di anjurkan. Cukup sekali ia melakukan itu saat Gadhing meminta tidur bersama dengan ia dan Fadia.


Harry membantu Fadia mengenakan pakaian nya. Ia cukup mengerti jika Fadia sudah mulai kesulitan memakai celana. Dengan telaten ia memakaikan pelindung payu dara Fadia lalu baju tidur, dan ia bersimpuh membantu memakaikan dalaman dan celana tidurnya.


"Sudah selesai. Ayo ke kamar kita."


"Makasih." Fadia mengecup pipi Harry.


Setelah sampai di dalam kamar, Harry menuntun Fadia untuk duduk di tepi ranjang. "Hairdryer kamu bawa?" tanya Harry.

__ADS_1


"Tidak, ketinggalan di tas khusus alat kecantikan ku. Catokan juga ketinggalan. Cuma skincare doang yang aku bawa."


"Ya sudah, jangan tidur dulu sebelum rambutnya kering ya.." Harry membantu mengeringkan rambut Fadia menggunakan handuk.


Usai membantu Fadia, ia memakai pakaian lalu berkaca di cermin.


"Jangan ganteng-ganteng." celetuk Fadia.


Harry terkekeh merasakan ke posesifan Fadia akhir-akhir ini. Entah apa penyebabnya tapi ia sangat menyukai hal itu.


"Iya, aku berangkat ya."


...****...


Harry melajukan sepeda motor menuju kota. Ia bingung harus mencari kemana. Tentulah ia tahu bahwa malam-malam begini sudah tidak ada rujak.


Lalu Harry mendapat ide untuk membuat sendiri di rumah. Ia melajukan sepeda motor nya ke supermarket untuk membeli buah-buahan lalu bahan membuat bumbu rujak ulek.


Harry keluar dari supermarket setelah membayar membuat senyuman nya mengembang. Masalah membuatnya masih ada ibu atau Mbah Google yang akan membantunya.


Langkahnya terhenti saat merasakan getaran di saku celana. Tertera nama sang istri melakukan sambungan telepon.


"Assalamualaikum Yu.."


"Mas dimana?"


"Di jalan ini mau pulang."


"Mas, tidak jadi deh rujak ulek nya."


Harry terperangah mendengar itu. Padahal semua bahan sudah ia beli.


"Tapi kenapa Yu? aku sudah membelinya loh ini.."


"Aku sudah tidak pingin mas, pulangkan saja sama penjualnya. Sayang juga uang nya mubazir. Sudah ya.. Aku tunggu kamu pulang Assalamualaikum."


Sambungan telepon itu terputus sebelum Harry menjawab nya. Ia masih mencerna perkataan Fadia.


"Pulangkan ke penjualnya? aku berasa kayak waktu kecil disuruh ibu beli ke warung. Kalau salah pasti disuruh pulangkan ke penjual warung nya."


"Aku lupa kalau istriku juga emak-emak."


🌸


Bersambung...


Para readers emak apa kabar? sehat kan?

__ADS_1


__ADS_2