Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Dora


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu, libur kerja menyambut hari kemenangan telah usai. Para pemudik juga telah kembali ke domisili masing-masing dimana mereka mencari sesuap nasi.


Sepulang dari kerja memilih mengurung diri di dalam rumah bersama istri dan anaknya. Malam nanti acara halalbihalal di rumah Fadia, sedang Hanum berada disana.


"Seratus.. Dua ratus.. Tiga, empat, lima, enam, tujuh. Tujuh ratus sepuluh, dua puluh. Waahh.. Mas Gadhing dapat banyak THR nya tahun ini." kata Fadia kegirangan.


Pasalnya ibu hamil dan anak laki-laki itu tengah menghitung uang pemberian sanak saudara Harry dan juga Fadil.


"Senang betul Yu.."


Fadia menoleh ke belakang melihat Harry tengah memperhatikan mereka membuat ia cengengesan.


"Iya mas, si kembar juga dapat."


"Uang mas Gadhing sama si kembar di tabung ya.. Ingat kata dokter kemarin Yu.. Jangan kelelahan."


"Siap suamiku.."


Kemarin sepulang dari Medan, keesokan nya Harry mengajak Fadia periksa kandungan. Beruntung tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan. Detak jantung dan berat badan si jabang bayi juga sang ibu normal dari umur kandungan.


"Bunda.. Gadhing boleh minta belikan sepeda?"


Sebelum menjawab Fadia melihat kearah Harry seakan meminta persetujuan dengan anggukan Harry.


"Boleh sayang.. Besok beli nya sama ayah ya.."


Mendengar jawaban sang bunda membuat Gadhing bersorak kegirangan.


"Makasih ayah.. Makasih bunda.." ucapnya sembari mengecup pipi Harry dan Fadia.


"Eehh mas Gadhing tidak boleh cium bunda terus." larang Harry langsung mendekap tubuh Fadia dari samping.


Fadia menatap Harry untuk mencari jawaban.


"Kenapa yah?" tanya Gadhing.


"Eemm.. Gadhing kan belum mandi, jadi Gadhing mandi dulu ya.."


"Baik ayah.."


Mendengar anak sambungnya menurut apa yang dikatakan menjadikan Harry tersenyum manis. Tapi tidak dengan Fadia, ia tahu bahwa Harry sedang mengelabui anaknya.


"Itu alasan kamu saja kan?"


Harry terkekeh karena ketahuan Fadia. "Jangan ngomel gitu Yu.. Kamu kan tahu kalau kamu ini hanya milik ku.."


Mendengar itu membuat Fadia menggeleng kepala. Ia masih tidak percaya jika Harry seposesif itu.


"Harry.. Anakmu itu mau nambah dua loh.. Mbok yo ngalah sama anak." gerutu Fadia sembari merebahkan kepala ke paha Harry.

__ADS_1


Satu tangan mengelus perut Fadia dan satu tangan lagi mengusap rambut Fadia.


"Ya aku tahu anak ku tambah dua lagi. Tapi tetap saja kamu milik ku Yu.. Enak saja mereka akan rebut kamu dari ku."


Fadia terperangah mendengar jawaban Harry makin ngelantur kemana-mana.


...****...


Seperti tahun yang sudah-sudah. Rumah Fadia adalah pilihan untuk teman SMA Fadia dulu untuk tempat halalbihalal. Bukan hanya teman nya saja yang datang. Mereka selalu mengajak pasangan untuk datang kerumah Fadia.


Dari yang baru pacaran, baru nikah, sudah menikah tapi belum ada anak, ada yang sudah punya anak lebih dari satu pun ikut meramaikan.


"Niko datang tidak Fad?" tanya Elsa berbisik kepada Fadia.


"Entahlah.. Kita kayak dejavu ya El.." Fadia mengingat dimana mereka ikut berkumpul di kafe Yudha dan kedatangan Sundari.


Spontan membuat Elsa cekikikan ketika mengingat hal yang sama dengan Fadia.


"Gimana ya reaksi para suami kita?"


Fadia mengedikkan bahu. "Aku harap mereka tidak buat rusuh."


...****...


Bugh


"Aduh."


Keduanya melihat siapa orang yang ditabrak dan menabrak mereka. Tatapan itu terkunci sejenak lalu si pria memutuskan tatapan itu.


Ganteng.


"Maaf mas, aku tak sengaja."


Pria itu diam saja meneliti penampilan wanita di depan nya. Merasa asing dengan wanita itu karena seingatnya tidak ada teman SMA berwajah polos dan rambut seperti Dora begitu.


Ini orang umur berapa? masih zaman pangkas kayak Dora gitu?


Pria dan wanita itu adalah Niko dan Hanum. Saat ini Niko terlambat datang dan ia buru-buru ingin menemui Fadia juga Elsa. Ingin memberi makan kesukaan kedua wanita hamil itu. Mau bagaimana pun hatinya masih berlabuh dengan nama Fadia Rahayu namun ia sudah menerima jika ia dan Fadia tidak pernah diberi izin-Nya untuk bersama.


"Mas.. Maaf tadi aku nunduk tidak lihat kalau ada mas di depan ku."


"Mas? mas paijem? sejak kapan aku nikah sama mbak mu." sahut Niko ketus.


"Hei.. Aku bicara baik-baik kenapa kamu galak begitu?"


Mata Niko mendelik mendengar ia disebut galak. Padahal ia terkenal lemah lembut pada wanita.


"Aku galak? dasar Dora. Kamu tinggal di zaman kapan? masih musim gaya rambut Dora?" tanya Niko meledek.

__ADS_1


Hanum tidak terima memanyunkan bibirnya. "Awas saja kalau mas galak ini jatuh cinta padaku. Dasar galak." Hanum menghentak kaki lalu pergi dari hadapan Niko.


Niko melihat tingkah Hanum membuat ia tertawa setelahnya masuk ke dalam rumah Fadia.


"Hai hai bumil.." sapanya pada Fadia dan Elsa.


"Ini dia, kemana saja kamu? bukan nya bantuin beresin rumah ku dulu tadi pagi malah baru datang sore." gerutu Fadia karena biasanya Niko datang lebih pagi untuk membantu beres-beres rumah Fadia untuk acara ini.


Niko terkekeh melihat Fadia cemberut. "Maaf bumil.. Aku ada urusan mendadak."


"Mendadak apanya?" tanya Elsa juga mendengar sedari tadi.


"Haaiisshh.. Aku takut pawang-pawang kalian marah. Sudah ini aku bawakan makanan kesukaan kalian." Niko menyerahkan dua bungkus mie ayam bakso dan dua kotak sostel.


Mata kedua ibu hamil itu berbinar karena sudah sangat lama tidak di izinkan makan mie ayam itu .


"Oh iya Fad, apa ada teman kita bawa istri atau pacar yang rambutnya kayak Dora?" tanya Niko entah mengapa ia penasaran.


"Dora?" tanya Fadia dan Elsa bersamaan.


"Iya.. rambutnya pendek segini."


...****...


Harry berdecak ketika matanya melihat kedatangan pria yang dekat dengan sang istri.


"Kamu kenapa Harry?" tanya Ricky.


"Itu, mantan pacar orang rumah mu Rick." tunjuk Harry mengarah ke Niko.


"Terus kenapa kamu yang sewot?" tanya Ricky sedikit tidak suka dengan sikap Harry seperti sedang cemburu.


"Itu memang mantan pacar istrimu, tapi dia cinta nya sama istriku." sahut Harry.


Ricky terperanjat mendengar itu. "Kalau gitu ayo kita datangi mereka." Ricky beranjak mendekati sang istri meninggal Harry masih terduduk disana.


"Sayang.." panggil Ricky.


"Nak kan.. satu pawang sudah datang, tinggal bos pawang nya." celetuk Niko membuat Fadia tertawa.


Harry bergeming menatap sang istri yang tengah menatapnya. Ia sudah membuat keputusan kalau Fadia tidak memanggil nya maka ia akan tetap duduk disini saja.


Sedang Fadia merasa heran mengapa Harry tidak mendatangi nya padahal ada Niko bersamanya.


"Bentaran ya Nik." Fadia beranjak menghampiri sang suami.


"Kenapa diam saja hem?" tanya Fadia sudah duduk di samping Harry.


"Aku cemburu."

__ADS_1


🌸


Bersambung..


__ADS_2