
"Kenapa berdandan terlalu cantik sayang?" Tanya Harry memeluk Fadia dari belakang yang sedang mencatok rambutnya.
"Biar yang lihat aku bisa cuci mata loh.." jawab Fadia santai masih mencatok rambutnya.
Harry mencebik bibirnya. "Kalau begitu kita di rumah saja." Ia semakin mengeratkan pelukan nya.
Fadia tertawa geli melihat wajah Harry yang selalu terlihat lucu saat cemburu dimatanya.
"Kamu sangat menggemaskan Bee.." ucap Fadia lalu mengecup pipi Harry.
"Kamu serius memanggil ku Bee?"
Fadia mengangguk pasti. "Bolehkan? aku akan memanggil mu mas saat di depan keluarga kita."
"Baiklah..Senyaman istriku saja. Apa Gadhing sudah bersiap?"
"Sudah. Dia sedang bermain di rumah Elsa."
"Bapak sama ibu benar tidak ikut?"
Fadia menggeleng. "Tidak. Hanya Elsa yang ikut Bee.. Dan itu juga cuma 4 hari disana. Dia akan pulang bareng Mbak Fatin."
"Hei.. Jangan sedih. Elsa kan harus kerja dan mbak Fatin juga harus pulang ke Medan kan?"
Fadia hanya mengangguk tapi tangan nya menghalangi dada Harry yang akan memeluknya.
Harry mengernyitkan keningnya karena Fadia menolak pelukan nya.
"Aku sudah berdandan Bee.. Nanti baju mu kotor karena bedak ku."
Harry terkekeh karena jawaban Fadia. "Oh ayolah istriku.. Kamu dulu bau keringat, bau pupuk, dan bau berondolan aku dengan senang hati memeluk mencium mu."
Fadia hanya mencebik bibir tanpa menjawab dan membiarkan Harry memeluknya.
"Kamu kangen aku tidak Yu?"
"Tidak biasa saja. Wong ketemu tiap saat."
Lagi-lagi Harry mencebik bibir gemas dengan jawaban Fadia yang terlalu jujur.
"Ayo kita keluar kamar. Aku takut akan memakan mu dan kita tidak jadi berangkat."
Fadia terkekeh. Sebenarnya ia sengaja menjawab tidak agar kejadian yang diinginkan Harry menguap.
****
"Beb.. Benar ini aku di ajak ke Malang?" tanya Elsa berada di dalam mobil yang sengaja di sewa Harry untuk berangkat ke Bandara Kualanamu.
Fadia mengangguk. "Aku pasti tidak punya kawan disana."
"Salah. Akulah yang tidak punya kawan disana. Kau pasti sibuk sama suami mu." Elsa cemberut.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan mu sendiri disana."
"Benar? nanti bohong."
"Benar. Kita akan norak bersama disana." bisik Fadia karena ini adalah perjalanan jauh pertama nya termasuk pertama kali naik pesawat.
Keduanya pun tertawa meramaikan suasana di dalam mobil yang sedari tadi senyap karena pada tidur termasuk Harry.
__ADS_1
"Sayang.. Ada apa? kenapa tertawa begitu keras?" tanya Harry dengan suara serak khas bangun tidur. Tapi itu terdengar sexy di telinga Fadia.
Fadia dan Elsa pun berdehem. Tidak mungkin Fadia mengatakan hal norak yang di bicarakan tadi.
"Tidak Bee.. Tidur lagi ya.."
Harry hanya mengangguk karena dari malam ia tidur hanya beberapa jam karena perasaan bersalahnya.
Ia pun menggeser posisi menjadi memeluk Fadia dan tidur di dada Fadia.
"Astoge.. Lakik mu sangat manja rupanya." Elsa cekikikan.
****
"Bunda.. Gadhing akan naik pesawat." ucap Gadhing girang.
Fadia hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Ia begitu merasa takut saat pesawat akan take off.
"Jangan takut" bisik Harry mengetahui ketakutan istrinya.
Fadia tersenyum dan mengangguk.
****
Akhirnya pukul 22.45 WIB rombongan Harry dan Fadia baru saja landing di Bandara Udara Abdul Rachman Saleh dan mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang karena Bandara terletak 17km arah timur dari Kota Malang.
"Katanya rumah kamu di kota kenapa jauh sekali?" tanya Fadia. Ia sudah ingin rebahan karena ia mengalami jetlag begitu juga dengan Elsa.
"Bandara nya yang jauh dari kota sayang.. Maaf ya. Nanti sampai rumah langsung istirahat."
Fadia hanya mengangguk. Jangan tanyakan Gadhing bagaimana keadaan nya. Anak itu sudah tidur di kursi penumpang paling belakang bersama Dita.
****
Fadia merentangkan tangan nya ke atas menetralkan tubuhnya yang letih.
"Bee.. Ini rumah siapa? kenapa sepi?"
"Rumah kita. Ayo.."
"Rumah kita?" ulang Fadia yang mengikuti Harry dengan menggandeng Gadhing.
Keluarga Fatin dan Elsa mengikuti mereka di belakang.
"Iya sayang.." Harry memutar kunci hingga rumah sederhana itu tampak rapi dan bersih dengan lantai keramik putih menambah kerapian nya.
"Mbak Fatin bisa tempati kamar depan. Kamu Elsa di kamar yang satunya. Maaf rumah nya kecil."
"Tidak Harry.. Terimakasih." jawab Fatin yang sedari tadi diam saja.
Sepintas Harry melihat Fadil sedang menatap Fadia. Ia tahu tatapan itu adalah tatapan seorang pria ke wanita bukan tatapan abang ke adiknya. Tapi ia menepis pikiran buruknya.
"Kita tidur dimana?"
"Ke rumah Ibu.. Tidak jauh dari sini. Kita hanya perlu jalan ke depan. Kalian tidak apa-apa kan?"
Fadia dan Gadhing mengangguk kompak.
"Udara disini lebih dingin dari pada di Medan ya Bee?"
Harry mengangguk setuju. "Iya. Tapi tetap saja di Sumatera tempat ku pulang."
__ADS_1
Fadia menoleh ke arah harty yang menggendong Gadhing. "Kenapa begitu?"
"Karena di Sumatera ada kalian."
Fadia terharu ia pun berjinjit mengecup pipi Harry. "Terimakasih.."
Harry hanya mengangguk dan kembali menggenggam tangan Fadia melanjutkan perjalanan.
Di sepanjang jalan banyak yang menyapa Harry dan bertanya Fadia siapa. Tentu dengan bangga Harry mengatakan Fadia adalah istrinya dan Gadhing adalah anaknya.
Kini keluarga kecil itu telah berada di depan rumah orang tua Harry yang sudah ada tratag dan tarub disana tapi masih tampak sunyi dan pintu masih tertutup karena masih sangat pagi.
"Ini rumah bapak dan ibu." kata Harry.
Fadia tersenyum memandang rumah mertuanya itu. Tampak asri karena ada beberapa pohon dengan halaman yang cukup luas.
"Kalau rumah kakek dan nenek?"
"Dekat dengan rumah kita. Besok setelah kita fit kembali aku ajak kesana ya.. Tapi ya gitu banyak sapi dan kerbau nya."
"Oh ya? bagus dong.. Pasti Gadhing suka. Dia pasti tidak akan bosan disana."
Harry mengangguk lalu mengecup bibir Fadia. Sebenarnya sudah dari berangkat ke Medan, hingga di pesawat sampai naik mobil lagi ia sudah gemas dengan bibir Fadia yang menggoda tapi apalah daya ada Elsa yang selalu nyerocos tidak memberi ruang untuknya dengan Fadia.
"Bee sudah cium nya.. Ayo kita masuk. Kasihan Gadhing." rengek Fadia.
"Assalamualaikum." ucap keduanya.
"Waalaikumussalam... Alhamdulillah menantu ibu sudah sampai? Pasti capek ya.. Ayo masuk. Harry.. rebahkan cucu ibu di kamar adik mu saja biar menantu ibu yang urus."
Harry mencebik bibir selalu saja ia yang di abaikan. Terkadang ia berpikir kenapa profesi dirinya sebagai anak di geser oleh Fadia yang sialnya istri tercinta nya.
"Istriku tidur di kamar ku ya Bu.. Jangan ibu pengaruhi untuk tidur di kamar lain." terang Harry masih tidak terima.
Setelah merebahkan Gadhing di kamar Hanum, ia masuk ke kamar mandi di kamarnya untuk membersihkan diri. Usai itu ia mengganti pakaian nya.
Harry sengaja tidak membawa pakaian karena masih banyak pakaian yang ia tinggalkan di rumah nya ini. Sedangkan pakaian Fadia dan Gadhing masih tertinggal di rumah kontrakan nya.
Fadia masuk membawa dua gelas teh hangat untuknya juga Harry.
"Kamu sudah mandi?" tanya Fadia melihat Harry tampak lebih segar.
Harry mengangguk mendekati Fadia. Ia memberikan kecupan di seluruh wajah istrinya dan melu mat sebentar bibir tipis Fadia.
"Hampir tumpah Bee.." gerutu Fadia.
Harry terkekeh. "Minumlah teh nya dan segera mandi. Kita lupa bawa baju ganti mu Yu. Pakai baju ku dulu ya."
Fadia hanya mengangguk. "Tapi celana ku?"
"Pakai celana boxer ku Yu."
"Ya ampun.. Dalaman ku gimana?" ia menjadi panik sendiri.
"Gampang sayang.. Si kembar tidak pakai apa-apa seperti biasa kalau kamu tidur dan cela na dalam nya pakai celana boxer ku saja." Harry tersenyum nakal.
"Itu mah mau kamu. Dasar mesum."
🌸
Bersambung..
__ADS_1
Like nya jangan lupa ya..