Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Cinta membawa damai


__ADS_3

"Bundaa.." Panggil bocah anak laki-laki itu dengan suara serak khas bangun tidur.


Suatu kebiasaan Gadhing bila bangun tidur akan mencari Bunda nya.


Fadia yang merasa di panggil langsung tersentak dan mencoba bangkit namun gagal. Ia merasa ada sesuatu yang berat menimpa perutnya.


Ia pun menunduk melihat apa itu. Matanya terbelalak melihat lengan seseorang melingkar di perutnya. Tentu ia mengenal sang pemilik lengan yang masih tertidur pulas di belakang nya.


Seketika pipinya merona mengingat kejadian dini hari tadi. Ia menggeleng kepala karena kejadian itu.


"Bundaa.." panggil Gadhing lagi turun dari tempat tidurnya.


Fadia panik lalu menepuk lengan Harry. "Harry bangun."


"Emm." gumam nya seraya mempererat pelukan nya.


"Gadhing sudah bangun Rry. Malu ah."


"Biarkan saja Gadhing tahu kita tidur bersama. Biar dia tahu kalau aku tidak akan pergi Yu." kata Harry dengan suara serak dan mata masih terpejam.


"Ini sudah jam 6 Harry. Bukan nya kamu harus pimpin apel pagi?"


"Kasih dulu first kiss biar aku semangat kerja." goda Harry seraya membalikkan tubuh Fadia.


"Ogah. Lepaskan iihh.." rengek Fadia.


Harry dan Fadia terus berdebat sampai lupa waktu. Padahal Harry harus tiba di kantor setengah jam lagi dan Fadia satu jam lagi.


"Ayah juga tidur di rumah Gadhing?" tanya Gadhing keluar kamar mencari sang Bunda.


Harry dan Fadia menoleh ke asal suara kemudian saling pandang. Tersadar posisi mereka yang terlihat intim tidak pantas dilihat anak seusia Gadhing, mereka gelagapan dan buru-buru duduk.


"Iya ayah nginap tadi malam."


"Gadhing mandi ya, gosok gigi nya. Bunda mau masak dulu." ujar Fadia bangkit.


"Iya bunda." jawab Gadhing ikut berjalan ke dapur untuk ke kamar mandi.


Sedangkan Harry masih duduk dengan senyuman yang merekah. Ia mengingat kejadian dini hari tadi. Walau harus tersiksa karena menahan hasrat tapi ia senang karena Fadia tidak memutuskan hubungan mereka.


Ia melirik jam dinding masih ada waktu setengah jam lagi pikirnya. Ia pun beranjak menghampiri calon istrinya sedang sibuk menyiapkan sarapan.


Sebelum menghampiri Fadia, ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajah lebih dahulu.


"Bisa mandi sendiri Gadhing?" tanya Harry.


"Bisa. Ayah.. Gadhing malu."


Harry tersenyum kemudian mengacak rambut Gadhing. "Mandilah. Maaf ayah masuk tidak izin dulu. Jangan di tutupi. Ayah juga punya." kata Harry ambigu.


Fadia yang mendengar itu hanya geleng-geleng kepala. Ia mengira hanya dengan nya saja Harry bicara tanpa filter itu.


"Masak apa calon istri?"


Fadia mencebik. "Bukan calon istri kalau si Sundel masih disini." kata Fadia tanpa mengalihkan pandangan di depan kuali.

__ADS_1


"Sundel?"


"Iya Sundari Sundel bolong."


Harry terbahak mendengar nya. "Ada saja kamu Yu. Tapi makasih loh untuk yang tadi."


Demi apa? bisakah Harry menghilangkan kebiasaan nya untuk tidak membahas apa yang telah mereka lewati. Ia sangat malu.


"Itu karena kamu mengancam ku." sanggah Fadia.


"Maafkan aku." Harry memeluk Fadia dari belakang.


"Harry, kita sudah terlambat. Aku tidak ingin di marahi pak mandor nanti."


"Baiklah. Aku mandi di sini saja."


Fadia tidak menjawab. Ia sibuk menyiapkan sarapan. Pagi ini ia hanya memasak nasi goreng serta telur mata sapi untuk Harry dan telur dadar untuknya dan Gadhing.


Fadia sudah mulai paham makanan yang Harry suka dan tidak. Ada perbedaan persoalan makanan keduanya. Seperti telur ini. Harry lebih suka telur mata sapi dan Fadia telur dadar.


Gadhing sudah selesai memakai seragam sekolah. Fadia pun membantu merapikan. Gadhing sudah terbiasa hidup mandiri. Walau ada saat Gadhing terlihat manja. Dan itu sering saat bersama Harry.


*****


Beberapa saat lalu.


Setelah selesai menggelar tilam busa, Harry beranjak untuk ke dapur. Sebenarnya ia sedang menetralkan tubuh dan pikirannya. Bagaimana bisa ia tidur dengan Fadia? bisa-bisa adik Gadhing hadir sebelum pernikahan pikirnya.


Berulang kali ia menarik nafas dalam-dalam. Debaran jantung nya sudah tidak bisa berkompromi padanya. Ia lakukan ini demi mendapatkan maaf dari calon istrinya itu.


Sejurus kemudian Harry sudah berada di atas tubuh Fadia. Di kukung tubuh mungil wanita tercinta nya itu.


"Harry apa yang kamu lakukan?" pekik Fadia yang terkejut atas perlakuan Harry.


Demi apapun Harry merutuki tindakan nya yang berakibat benda pusaka masa depan nya itu sudah meronta ingin di keluarkan.


Tapi ia merasa gemas dengan wajah terkejut Fadia saat ini. "Kamu sudah maafin aku belum?"


"Belum. Aku masih kecewa sama kamu." cicit Fadia.


"Menyingkirlah." ujar Fadia karena ia tidak nyaman. Ia takut dia lah yang lepas kendali.


Siapa yang tidak ingin di sentuh oleh pria tampan nan maskulin di atas tubuh nya ini. Apalagi melihat otot yang menonjol di balik kaos hitam membungkus tubuh Harry.


Fadia menelan saliva nya saat menyadari pikiran nya sudah traveling melanglang buana.


Begitu juga dengan Harry. Tampak jakun Harry naik turun sedari tadi.


"Maafin aku." Harry membelai rambut Fadia dengan sebelah tangan sebagai tumpuan.


Dada Fadia semakin terasa sesak saat ia dapat merasakan di bawah sana sudah menonjol keras di paha nya dan tubuhnya bagai di sengat aliran listrik atas belaian dari Harry.


"Harry, menyingkirlah. Ini tidak baik untuk kita berdua." ucap Fadia yang masih sedikit sadar dan ia mulai meliuk-liuk kan tubuhnya agar Harry menyingkir.


"Jangan bergerak Yu atau Gadhing akan punya adik sebelum pernikahan kita." ujar Harry yang sedari tadi menahan hasrat nya. Bahkan suara nya sudah berat di telinga Fadia.

__ADS_1


Fadia bergeming. Takut akan kedua nya melewati batas akhirnya ia mengalah. "Kamu mau maaf dariku kan?"


Harry mengangguk.


"Baiklah aku maafin. Sekarang menyingkirlah dari badan ku."


Tapi Harry bergeming. Kedua mata mereka bertemu. Seakan sama-sama terbuai dengan tatapan sendu keduanya tanpa sadar Harry mendekati wajah Fadia yang sudah terpejam seakan menunggu kedatangan nya.


Hembusan nafas keduanya menguar di hidung masing-masing.


Cup


Harry masih bisa mengendalikan dirinya. Ia hanya mengecup bibir dan dahi Fadia. Kemudian ia merebahkan tubuhnya kesamping Fadia.


"Segitu saja cukup. Lanjut setelah menikah saja ya." Bisa di pastikan jika Harry meneruskan aksinya maka akan terjadi malam yang panas.


Tapi lihatlah Fadia diam saja bahkan wajahnya tampak cemberut. Ia seakan kecewa karena Harry hanya mengecupnya.


Fadia pun memunggungi Harry. Sekarang ia malu dengan pikiran dan tubuh nya sendiri. Seakan menginginkan sentuhan Harry.


Harry memeluk Fadia dari belakang. Ia berbisik di telinga Fadia. "Akupun menginginkan nya Yu. Tapi aku mau melakukannya setelah kamu halal untuk ku. Maafkan aku."


Fadia tertegun. Ia tidak menyangka Harry mengerti maksud dari kekecewaan nya.


"Aku memalukan ya? Apa aku seperti perempuan murahan?" tanya Fadia masih memunggungi Harry.


"Sama sekali tidak sayang. 'Kan sudah ku bilang, asal melakukan nya sama aku." terang Harry sembari mengeratkan pelukannya.


"Maafkan aku Harry. Aku perempuan yang sudah pernah di sentuh laki-laki. Maaf aku sempat menginginkan nya tadi."


Harry mengangguk sembari menghirup wangi tubuh Fadia di berikan lehernya.


"Aku hampir lupa. Ibu dan Hanum akan datang Yu. Ibu mau melakukan prosesi sebelum acara lamaran."


Fadia terbelalak. "Kenapa baru kasih tahu sih.."


"Kamu lupa kalau kita tadi berantem? Aku dan Sundari tidak ada hubungan apapun. Hanya kamu dari dulu yang ada di hatiku."


"Ngibul."


"Tentu saja tidak. Bagaimana bisa kamu tidak percaya? semua tentang diriku kamu tahu. Dari aku mimpi basah pertama kali pun kamu tahu karena semua nya ku ceritakan padamu."


Ya benar. Harry memang selalu terbuka pada Fadia. Masalah Sundari inilah pertama kali nya Harry sembunyikan dari nya. Fadia tidak pernah bertanya tentang masalah pribadi Harry sebelum Harry yang bercerita maka ada rasa kecewa di hati Fadia.


"Jangan kecewa kan aku dan Gadhing Harry."


Harry mengangguk pasti."Iya maafkan aku calon istriku."


Obrolan terus berlanjut dengan Fadia memunggungi Harry dan Harry tetap melingkar kan lengan nya di perut rata Fadia.


Akhirnya dua sejoli itu berdamai hingga keduanya tertidur untuk satu jam lamanya sebelum fajar tiba.


🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2