Jodoh KEDUA

Jodoh KEDUA
Suka dan Duka


__ADS_3

"Harry.. Kamu dimana?" tanya Fadia.


"Aku di kantor sayang.. Ada apa?" tanya Harry di seberang telepon.


"Bisa ke RSUD sebentar?" tanya Fadia meringis mendengar suara terkejut suaminya.


"Kamu kenapa sayang? aku kesana."


Panggilan telepon terputus begitu saja. Seperti yang ia pikirkan pasti Harry akan sepanik itu. Ia merutuki dirinya sendiri mengapa harus pergi dari kantor suaminya.


Kenapa tidak menyelesaikan masalah?


Kenapa memilih menghindar jika imbas nya seperti ini. Terlebih ia mengkhawatirkan janin yang ia kandung. Sangat berharap tidak terjadi hal buruk pada janin nya.


...****...


Dengan tergesa-gesa menuju sepeda motornya menuju RSUD. Pikiran-pikiran buruk sudah bersarang di pikiran nya. Namun ia berusaha keras menepis hal itu.


Tiba di parkiran RSUD, Harry bergegas ke meja resepsionis bertanya nama sang istri. Padahal Fadia belum mengatakan siapa yang masuk rumah sakit tapi hatinya berkata istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ruang anggrek nomor 2 ya pak. Ruang angrek ada di sebelah sana ya pak."


"Terimakasih sus."


Dengan langkah cepat menuju ruang anggrek sesuai yang dikatakan suster tadi. Bayangan hal buruk kembali bersarang di pikiran nya. Ia begitu takut dan khawatir.


Ceklek..


Harry terpaku melihat Fadia terluka. Sungguh hati nya teriris melihat itu. Ia tidak tega melihat punggung tangan Fadia terpasang infus.


"Sayang.." panggil Fadia.


Tampak mata Harry memerah berjalan mendekati Fadia dengan bibir tetap tertutup. Hatinya mencelos mana kala melihat tangan Fadia terluka.


Di pegang kedua tangan Fadia menatap luka-luka nya disana. Lalu ia memeriksa kaki istrinya. Tangan lalu melihat dahi sang istri.



"Aku tak apa Harry.." ucap Fadia karena sedari tadi keduanya tidak ada yang membuka suara.


"Bagaimana kamu bisa bilang tidak apa-apa? Lihat luka mu Fadia Rahayu.."


Baiklah. Fadia memilih diam saja karena untuk pertama kalinya selama sudah menikah suaminya menyebutkan nama lengkapnya.


Ia menelan saliva dengan kasar mengingat sesuatu yang sangat penting belum ia sampaikan.


"Maaf." cicitnya.


"Bagaimana bisa kamu kecelakaan begini Yu?"


Fadia menunduk tidak memiliki keberanian menatap mata Harry yang menyiratkan ke khawatiran dan amarah yang tertahan.


"Tadi aku ke kantor." jawab Fadia cepat.


Harry mengerti dengan jawaban Fadia, itu berarti istrinya tahu dan mendengar perdebatan dirinya dengan Elsa.


"Apa kamu lupa dengan perjanjian kita sayang? Tidak boleh meninggalkan rumah sebelum masalah kita selesai dan berakhir dengan kasur yang bergoyang?" cerocos Harry masih dengan rasa khawatir nya.


Fadia mengerutkan keningnya dengan masih menunduk.


Masih sempat-sempatnya suamiku ini bicara kasur bergoyang.


"Maaf." ucap Fadia lagi.


Harry menghela nafas lalu menangkup wajah Fadia. Di tatapnya mata Fadia dengan penuh cinta.


"Aku takut kamu kenapa-kenapa." Suara Harry mulai berat.

__ADS_1


"Maafin aku.. Sungguh aku tidak bermaksud mencelakai kami Rry.. Maaf."


Harry mengerutkan dahinya. "Kami? Kamu sama siapa Yu? Gadhing masih sekolah."


Mendadak Fadia merasa takut mengatakan kenyataan sebenarnya yang seharusnya ini adalah berita bahagia namun keadaan sekarang berbeda.


"Aku hamil." ucap Fadia cepat mengalihkan pandangan ke lain arah agar tidak bersitatap dengan suaminya.


Deg


Harry seketika mematung mendengarnya.Ia menatap Fadia seakan belum sepenuhnya mencerna 2 kata yang baru saja di ucapkan Fadia.


"Ha-hamil?" tanya Harry tergagap dengan mata berkaca-kaca dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Fadia.


"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Harry yang sudah mengeluarkan air mata di pelupuk matanya.


"Kamu membuat kejutan yang tidak pernah ku pikirkan. Suka dan duka kamu berikan di waktu yang sama." ungkap Harry sembari memeluk Fadia.


"Apa kamu senang aku hamil?"


"Senang."


"Tapi kenapa kamu terlihat biasa saja?"


Harry mengurai pelukannya. "Dengarkan aku, setiap seorang suami pasti sangat senang bila mengetahui istrinya hamil. Tapi, aku lebih senang jika istriku baik-baik saja, sehat wal'afiat ada atau tidak nya anak di antara kita."


"Kenapa begitu?"


"Karena kamu hidup ku Yu... Kamu adalah tujuan ku hidup. Aku lebih baik kehilangan dia dari pada kamu."


"Kamu tidak menginginkan dia?" Fadia masih belum paham maksud dari perkataan Harry.


"Anak bisa kita buat lagi tapi jika aku kehilanganmu, bagaimana aku bisa hidup?"


Fadia tersenyum tatkala mengerti maksud Harry. Ia adalah cintanya Harry.


"Tidak." jawab Fadia cepat.


"Apa maksud tidak Yu? apa dia sudah pergi?" tanya Harry dengan wajah sendu.


"Tidak. Tapi ia ingin ayah nya menyapa nya."


"Menyapa? apa kamu ingin aku menyapanya di kamar ini?"


"Iya."


Harry menatap dalam mata Fadia. Ia menyetujui jika menatap mata Fadia saja hatinya sudah bergejolak. Ia pun mencium bibir Fadia melu mat nya dengan lembut.


Plak


"Auwh.. Sakit Yu.." Harry mengaduh sakit saat lengan nya terkena timpukan Fadia.


"Aku suruh kamu menyapa calon anak kita bukan malah mencium ku." sungut Fadia.


Harry menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kan aku mau sapa bunda nya dulu." kilah Harry.


Harry menatap perut rata Fadia, ia tidak menyangka ada kehidupan makhluk kecil di dalam nya. Makhluk kecil tak lain adalah keturunan nya, darah dagingnya.


Di julurkan tangan nya ke arah perut Fadia. Di elus nya perut rata itu. Terharu, tidak menyangka secepat ini ia di berikan amanah.


Keduanya menangis haru penuh kebahagiaan.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Harry yang juga menangis.


"Ya kamu kenapa menangis?" Hal itu membuat keduanya terkekeh sembari menghapus air mata masing-masing.


...****...

__ADS_1


Dua jam setelah membiarkan Fadia istirahat, kini Harry membawa Fadia ke ruang praktek dokter obgyn di RSUD tersebut.


Fadia duduk di kursi roda berdampingan dengan tiang infus di sampingnya.


"Harry.. Gadhing dimana sekarang?"


"Dia sedang di rumah pak Seto, aku titip disana dulu."


Harry mendorong kursi roda Fadia untuk masuk ke ruangan dokter obgyn tersebut. Ia bersyukur sang dokter berjenis kelamin perempuan. Jika dokternya laki-laki dapat di pastikan ia akan membatalkan pemeriksaan kali ini.


"Selamat siang ibu Fadia Rahayu.." sapa sang dokter bernama Dr.Siti.


"Siang ibu dokter.." Fadia tersenyum.


"Kapan kecelakaan nya Bu?"


"Tadi pagi Bu dokter."


Dokter Siti manggut-manggut sembari melihat luka-luka yang di alami Fadia.


"Ada keluhan?"


"Perut saya kram Bu dokter."


Sedari tadi hanya Fadia dan sang dokter yang berbicara sedangkan Harry menjadi pendengar budiman saja.


"HPHT datang tamu nya kapan ya Bu?"


"25 Oktober terakhir selesai Bu." jawab Fadia.


Harry menyela pembicaraan antara Fadia dengan dokter Siti. "HPHT itu apa sayang?"


"Hari Pertama Hari Terakhir datang tamu bulanan." jawab Fadia singkat.


"Dari hitungan HPHT usia kandungan ibu sekitar 6 Minggu tapi kalau mau lihat tepatnya lebih baik kita USG dulu ya Bu."


Kedua nya mengangguk. Tapi masih ada yang mengganjal di hati Fadia hingga ia memberanikan diri bertanya.


"Bu dokter.. Kenapa saya tidak merasa mual muntah-muntah kayak kehamilan pertama saya ya?"


Dokter Siti tersenyum hangat dan memberikan penjelasan.


"Jika Bumil tidak mual-mual, kemungkinan ini disebabkan oleh tubuh Bumil yang bisa beradaptasi dengan cepat dengan kenaikan hormon kehamilan. Jadi, Bumil justru bisa dibilang termasuk dalam kelompok ibu hamil yang tubuhnya kuat dalam menghadapi perubahan pada kehamilan loh.." seru sang dokter, ia senang memiliki pasien yang keingin tahuan nya tinggi.


"Tapi saya mual dan muntah kalauencium parfum orang lain, mencium bau masakan, merasa pusing kalau terlalu panas pas siang hari." celetuk Harry.


"Berarti kalau aku masak, kamu di dalam kamar mual Rry?" tanya Fadia yang baru mengetahui nya.


Harry hanya mengangguk saja.


"Dia ini ya dok kayak orang hamil, minta nya aneh-aneh dan sensitif banget ke aku." Fadia mengeluh pada sang dokter.


"Itu namanya Kehamilan Simpatik." jawab dokter lugas.


"Kehamilan Simpatik?" tanya keduanya bersamaan.


"Iya. Kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung."


Sang dokter menjelaskan dengan penyampaian yang mudah di mengerti agar pasien-pasien nya dengan mudah mencerna apapun yang ia jelaskan.


Fadia mengerti dengan penjelasan dari sang dokter lalu ia memikirkan keadaan Harry selama 2 Minggu. Ia tahu betul rasanya mengidam saat trimester pertama. Itu sungguh menyiksa bagi siapapun yang merasakan nya walau finalis tersiksa itu ada rasa bahagia untuk menyambut buah hati yang akan tumbuh di rahimnya.


"Bu dokter, bisa tidak ngidam nya di pindahkan ke saya saja?"


🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2