
"Harry.. Aku pakek rok kebaya pendek ya.." tanya Fadia menyengir kuda.
Harry berdecak tanpa menjawab. Saat ini keduanya sedang bersiap untuk acara malam. Keduanya sengaja hanya saat acara wajib memakai pakaian pengantin. Malam Harry nya Harry memakai kemeja batik dan Fadia memakai kebaya serta rok batik.
"Harry.. Apa mantan-mantan mu datang?"
"Tidak tahu." jawab Harry cuek.
"Ya sudah." ucap Fadia lirih.
Harry menyadari perubahan istrinya segera menghampiri Fadia dan memeluknya.
"Aku tidak ingin lekuk tubuh mu di nikmati banyak orang sayang.. Kalau mau pakai yang pendek di depan aku saja ya.."
Fadia hanya mengangguk. Sungguh bukan hanya masalah rok pendek tapi karena tadi Harry cuekin Fadia lah membuat ia sendu.
Cup
*Cup
Cup*
Fadia mendaratkan banyak kecupan di bibir Harry. Tapi bukan nya tersenyum malah cemberut setelah memberikan kecupan tersebut.
"Kok malah cemberut?" tanya Harry.
"Kamu tinggi kali Rry.. Capek jinjit terus." ucap Fadia mengeluh.
Harry terkekeh. "Padahal aku sudah menunduk loh.. Kamu saja yang pendek.. Mungil lagi." Harry sangat suka menggoda Fadia.
"Kamu saja yang ketinggian dan kebesaran."
Harry hanya tertawa tanpa menjawab nya.
****
Waktu begitu cepat. Banyak tamu undangan yang sama sekali tidak di kenali Fadia dan lebih parah nya lagi Fadia tidak tahu apa yang mereka bicarakan dengan suaminya.
Mereka pakai bahasa Jawa halus yang tidak di mengerti sama sekali oleh Fadia.
Bahasa planet apa sih?
"Harry selamat ya.." ucap seorang wanita dengan menggendong seorang balita berusia sekitar 1 tahun.
Fadia memperhatikan Harry hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.
"Jangan kaku sama istri. Dia bukan pacar kamu yang harus ngemis perhatian mu." ucap wanita itu.
Fadia hanya mengerutkan keningnya merasa aneh dengan orang itu.
"Terimakasih." ucap Harry.
Dan sekarang wanita itu beralih ke arahnya. Tapi Fadia hanya menyengir saja. Sumpah demi apapun ingin sekali Fadia ngegas dengan orang di depan nya.
"Maaf kak. Aku tidak ngerti apa yang kamu bilang." Akhirnya Fadia mengungkapkan isi hatinya.
"Oh maaf-maaf. Saya kira kamu orang Jawa."
Fadia tersenyum canggung.
"Selamat ya.. Kamu harus bisa cari perhatian dengan Harry. Karena dia itu kaku banget." ucap wanita itu.
"Memang kakak siapa kok tahu Harry kaku?" tanya Fadia yang memang sudah penasaran.
"Intan. Mantan pacar Harry waktu SMA. Dia terlalu kaku makanya saya putusin."
Oh.. ini Intan mantan pacar pertama Harry.. Cantik sih.. Tapi cantikan akulah kemana-mana. gumam Fadia dalam hati membanggakan dirinya.
"Kenapa senyum-senyum begitu Yu?" tanya Harry merasa aneh dengan Fadia yang senyum-senyum sendiri.
Fadia cengengesan karena ketahuan senyum-senyum sendiri.
"Mantan kamu cantik ya.. Sudah nikah?"
__ADS_1
"Cantikan kamu.."
Seketika wajah Fadia memerah karena pujian dari Harry. Ia menunduk malu pada Harry.
Harry terkekeh dan ia merasa senang melihat Fadia yang malu-malu. Didekapnya Fadia di atas pelaminan.
"Dia sudah menikah dan punya anak." ucap Harry menjelaskan.
"Ya aku tahu." Jawab Fadia mendongak menatap Harry.
"Sekarang kita yang harus bekerja keras agar punya anak lagi." kata Harry mengerling kan mata.
Fadia mencebik kesal. "Harry.. Apa di otak mu itu hanya ada hal mesum?"
"Tidak juga.. Tapi saat bersama mu selalu saja membuat ku rindu. Kamu canduku Yu.."
Fadia menghela nafas. "Dasar mesum."
Tanpa terasa waktu bergulir begitu saja. Tapi sepertinya waktu tidak membuat para tamu undangan habis karena hingga malam semakin larut tamu undangan belum juga surut.
Kamu pacaran denganku
Tapi nikah dengan dia
Terdengar seseorang bernyanyi diatas pentas. Suara pas-pasan namun sepenggal bait itu membuat Fadia penasaran siapa sang penyanyi.
Berjanji bertemu di pelaminan
Nyatanya ku hanya jadi tamu undangan
Lihatlah... Betapa ingin Fadia menyusul orang itu ke atas pentas.
Dulu aku kau panggil sayang
Sekarang ku hanya jadi mantan
Ia merasa tersindir disini. "Harry.. Apa dia juga kamu panggil sayang?" tanya Fadia mulai cemburu.
"Tidak. Hanya kamu."
Berjanji 'tuk sehidup semati
Nyatanya kamu hidup, aku yang mati
Fadia semakin tidak tahan. Ia merasa seperti merebut Harry dari orang itu. "Harry.. Apa kamu pernah berjanji sehidup semati?" hardik Fadia.
"Tidak Yu.. Aku memang pernah ngajak dia menikah itu karena dia selalu nuntut perhatian padahal kan aku juga kerja."
"Lepasin iihh.." sungut Fadia yang masih mencoba melepas genggaman itu.
"Ingat kesepakatan kita Yu.. Jangan pernah meninggalkan satu sama lain saat marah." titah Harry.
Kau kirimkan undangan yang bertulis namamu
Tak habis pikirku, kau terima lamaran dia
Fadia hanya mencebik kesal pada orang yang sedang bernyanyi di atas pentas itu. Ingin sekali ia melempar kan high heels 9 cm nya itu ke kepalanya.
Baru kini ku sadari ternyata selama ini
Yang ku sayang, yang ku jaga
Ternyata jodohnya orang lain
"Baru sadar kalau Harry jodoh orang? sudah jangan sok kau yang tersakiti gitu.." sungut Fadia menjawab bait lagu yang baru saja di nyanyikan orang itu.
Kamu pacaran denganku
Tapi nikah dengan dia
"Enak di aku kan? Harry milikku asal kamu tahu." Fadia menjawab bait lagu itu lagi.
Harry terkekeh melihat tingkah Fadia yang kesal dan cemburu ulah mantan pacar nya iyang lain. Siapa lagi kalau bukan Sundari.
__ADS_1
Ia pun tidak mengerti bagaimana bisa dia datang bahkan sampai bernyanyi lagu itu. Ia sempat emosi saat tahu dia naik ke atas pentas namun emosi nya meredah karena kelakuan Fadia yang menggemaskan.
Haruskah ia memberi hadiah? tentu.
"Ayo kita naik pentas Yu."
"Mau nyanyi? Aku nyanyi ya?" Jiwa biduan kamar mandi nya meronta-ronta saat ini.
"Boleh. No joget-joget."
Lagi-lagi Fadia mencebik kesal.
Harry tetap menggenggam tangan Fadia di atas pentas dengan satu angan memegang microphone.
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Harry menatap Fadia secara intens. Ia tidak tahu arti tatapan Fadia untuknya.
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Bolehkah Fadia berteriak mengumumkan betapa beruntungnya ia dicintai oleh pria yang menggenggam tangan nya saat ini?
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Mata Fadia berkaca-kaca dan dapat di pastikan jika Fadia mengedipkan mata sekali saja maka air mata itu akan luruh dengan sendirinya.
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Ia dapat merasakan debaran jantung yang berlebih mana kala Harry terus menatapnya seperti itu. Mata tegas dan senyum merekah yang hanya tertuju padanya.
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Fadia sudah tidak tahan. Jika orang lain melihat antara keduanya, Harry lah yang tampak lebih mencintai nya. Mungkin saja Harry sependapat dengan itu karena Fadia sangat jarang mengutarakan cinta untuk Harry.
Tapi percayalah.. Fadia sungguh sangat takut Harry pergi meninggalkan nya.
Fadia menangis dalam pelukan Harry tanpa menghiraukan banyak pasang mata yang melihat dengan penilaian masing-masing.
Ada senyum haru.
Ada senyum memuakkan.
Ada yang memandang iri.
Tapi terserah mereka. Fadia dan Harry tidak mempermasalahkan hal itu.
****
Di sudut tratag duduk seorang wanita yang menatapnya iri. Bukan mantan kekasih. Dia adalah sahabat dekat pengantin wanita.
Elsa Maharani.
Ia menghela nafas panjang menonton ke uwuan sepasang pengantin baru itu.
"Andai aku yang di cintai begitu pasti aku sangat bahagia sekarang. Kenapa nasib ku gini?"
Elsa menggeleng. "Dia suami sahabat mu El. Jangan pernah. berpikir untuk berada di posisi Fadia."
Sebenarnya Elsa menyukai Harry saat pertama kali melihat foto Harry di ponsel Fadia waktu itu. Tapi ia selalu menepis perasaan itu.
Hingga ia berhubungan dengan Niko dan ia merasa perasaan nya jauh lebih baik. Tapi setelah Niko gantungkan hubungan mereka, perasaan suka pada Harry jadul kembali.
Ada rasa bersalah pada Fadia. Tapi bukan kah cinta tidak pernah salah?
__ADS_1
🌸
Bersambung..