
Erlan tersenyum pada sang istri saat melintasi guna menuju ke dapur untuk mengambil piring.
''Beli di mana, lama banget!!'' tanya Zein tiba-tiba menyelidik.
''Ya di tempat biasa nya lah Zein, lama karena banyak yang beli jadi harus antri dulu,'' jawab Reno.
''Sudah, sudah nggak usah debat terus, nich gorengan nya makan dulu mumpung masih ngebul,'' kata Putri meletakkan gorengan di meja.
Reno langsung mengambil gorengan seperti biasa nya, seperti kemarin sebelum Putri menikah dengan Erlan.
''Reno sopan dikit, di sini sudah ada Erlan,'' tegur Zein.
''Nggak apa apa kok Zein, kayak sama siapa saja,'' sahut Erlan memandang keduanya.
''Thu dengar sendiri Erlan bilang apa?'' cakap Reno yang merasa di bela oleh Erlan suami teman nya.
Putri tersenyum dan menggeleng kan kepala nya melihat kedua sahabat nya yang sedang berdebat.
''Kalau kalian nggak mau makan biar aku habiskan sendiri gorengan nya,'' celetuk Putri yang membutlat ke tiganya tercengang.
Erlan mengangkat satu alisnya dan tersenyum smirk pada sang istri.
''Sayang, kalau kamu bisa menghabiskan semua nya, Mas akan kasih hadiah,'' Ucap Erlan lembut.
''Kalau Putri yang habisin semua nya, kasian Reno dan Zein yang cuma lihatin Putri makan saja, dan yang ada Putri tambah gemuk lagi,'' gumam nya mengerucut kan bibir ranum nya, membuat Erlan menelan ludah nya dengan susah.
''Nggak apa apalah kamu gemuk Putri, sebentar lagi kamu kan bakalan jadi seorang Ibu juga, lagian kalau jadi Ibu kurus krempeng kan nggak seru,'' celoteh Reno yang asal jeplak.
''Kalau Putri kayak tong gelinding gimana, malah pada ninggalin Putri semua dong!'' jawab nya cemberut.
''Sayang?? jangan cemberut githu, bikin Mas nggak tahan saja ingin memakan mu malam ini,'' bisik Erlan pada istri kecilnya.
Putri membelalak kan matanya mendengar ucapan suami tercinta nya.
''Mungkin ini sudah waktu nya, Putri memberikan hak kak Erlan,'' batinnya.
''Ngomong apa sich kak?'' ucap manja Putri yang membuat Erlan semakin tak tahan untuk menahan kerinduan nya lebih lama lagi.
__ADS_1
''Putri ke kamar dulu,'' ucap nya beranjak dari tempat duduk nya.
Erlan memegang tangan istri nya seraya berkata, ''Masih jam segini sudah mau tidur,'' tanya nya.
''Putri mau ambil buku, ada tugas yang belum sempat Putri kerjakan, tadi siang Putri bantuin Ibu Ibu di dapur, jadi belom sempat,'' Jawab nya terkekeh renyah sembari melepaskan pegangan nya dari sang suami.
Putri menuju ke kamar nya untuk mengambil buku yang ada tugasnya dan akan di kumpul kan besok.
Putri mendudukkan kembali di samping suami nya dengan memegang buku yang harus di kerjakan.
''Sulit nggak,'' tanya Erlan.
''Tak terlalu sulit sich, tapi itu tadi cuma malas saja mau ngerjain tugas nya,''
''Kamu ini, sejak kapan kamu jadi pemalas Putri,'' tanya Reno penasaran, karena selama ini Putri paling rajin dalam mengerjakan segala hal.
''Entahlah, Putri lebih senang ada di dapur sekarang, ngobrol dengan Ibu Ibu pekerja,'' jawab nya sambil mengerjakan tugas nya.
''Jangan di biasakan sayang, dan ingat kamu harus banyakin istirahat sekarang, Mas nggak mau kamu sakit,'' jelas Erlan memperingatkan istri kecilnya.
''Iya kak, Putri ngerti kok?''
Lagi lagi Putri menolak suruhan Erlan untuk memanggil nya Mas, ''Tapi Putri sudah terbiasa memanggil kakak,'' gumam nya menunduk.
''Mulai sekarang, biasain manggil Mas bisa kan sayang??'' sungut Erlan.
Putri tersenyum tak percaya kalau suami nya adalah seorang pemaksa kelas kakap.
''Insya Allah akan usahain ya, jangan githu terus tambah jelek,'' ledek nya yang membuat Erlan makin cemberut.
Putri tak lagi menggubris ucapan suami dan juga kedua sahabat nya, Putri mulai fokus pada tugas kampus nya yang belakangan ini terbengkalai karena kemalasan Putri.
''Akhirnya selesai juga,'' gumam nya seraya menutup buku dan merentang kan kedua tangan nya yang pegal.
Putri sekilas menatap Jam dinding nya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, Putri yang ngantuk langsung berpamitan pada suaminya dan kedua sahabat nya untuk tidur lebih awal.
''Kak Erlan, Zein dan Reno, Putri tidur duluan ya, ngantuk berat nich nggak bisa nemenin kalian begadang,'' Ucap Putri beranjak dari duduk nya.
__ADS_1
''Iya, selamat malam,'' ucap Zein dan Reno.
Putri melangkah kan kakinya menuju kamar nya, lalu meletakkan buku buku yang masih ia pegang di atas nakas.
Putri bergegas menuju kamar mandi guna mengambil wudhu dan melaksanakan sholat Isya' yang belum ia kerjakan.
Setelah selesai Putri langsung membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur yang setiap saat menemani tidurnya.
Sedangkan di luar, Erlan, Reno dan juga Zein masih mengobrol sampai jam menunjukkan pukul 11 malam, baru kedua nya berpamitan pulang ke kosan nya, yang tak begitu jauh dari rumah kontrakan Putri.
Setelah kepergian Zein dan Reno, Erlan mengunci pintu depan dan mengecek pintu belakang, takutnya belum di kunci oleh sang istri.
''Terkunci semua,'' ucap nya.
Erlan berjalan menuju kamar nya, dia menghampiri sang istri yang sudah terlelap dalam tidur nya.
Erlan mencium kening istri kecil nya yang masih terbalut dengan mukenah nya, karena Putri tak membuka mukenah terlebih dahulu sebelum dia terlelap.
''Sayang? kamu kebiasaan banget sich, pakai mukenah di dalam tidurnya,'' bisiknya, sekilas mencium bibir ranum istri nya yang sangat menggoda iman nya.
Erlan membuka mukenah yang istri nya pakai, Erlan terhenyak melihat sang istri hanya memakai tengtop.
''Ya Allah, aku sudah nggak bisa menahan nya lagi,'' gumam nya pelan, menciumi istri nya yang sedang tertidur lelap.
''Sayang, Mas sudah nggak bisa menahan hasrat ini,'' Bisiknya di telinga sangat istri.
Tangan kekar nya mulai meraba kemana-mana sambil terus menciumi pipi Putri yang sudah sahabat menjadi istri nya selama hampir 2 bulan lamanya.
Putri yang merasa terusik pun membuka matanya, dan melihat sang suami sedang menciumi nya.
Putri memegang tangan Erlan yang sedang ******* ***** kedua bukitnya, ''Kak Erlan sakit,'' bisik Putri namun ia tak bisa menahan ******* nya saat di perlakukan seperti itu oleh suaminya.
''Sayang? Mas sudah nggak tahan lagi, kamu mau ya,'' pinta Erlan setengah mengiba.
Putri yang melihat suami nya seperti itu, tak bisa untuk menolak permintaan suami nya, akhirnya Putri mengangguk pasrah.
Erlan tersenyum seraya berterima kasih pada sang istri karena sudah mau untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai sepasang suami istri, tak henti henti nya Erlan menciumi istri kecil nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG