Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 94 Kejutan untuk semua orang tuanya


__ADS_3

Hari yang di tunggu tunggu akhirnya datang juga, pagi-pagi sekali Putri sudah di rias oleh perias pengantin untuk acara ijab kabul yang akan di adakan pada pagi ini jam 7 pagi.


Acara tersebut tidaklah rame, hanya sebagian keluarga besar Erlan dan juga keluarga dari Anastasya Putri dan beberapa dari para tetangga nya yang datang untuk mengabadikan acara ijab kabul yang akan di ucapkan oleh Erlan sebagai calon mempelai laki-laki nya.


''Saya Terima nikah dan kawinnya Anastasya Putri binti Pak Amin dengan Maskawin tersebut di bayar tunai,'' Ucap Erlan dengan satu tarikan nafasnya.


''Gimana para saksi, sah?'' tanya Pak penggulu kepada para saksi.


''Sah...?'' jawab para saksi dengan serentak.


''Alhamdulillah,'' Ucap Pak penghulu di lanjutkan dengan do'a.


Putri di bawa keluar dari kamar nya oleh istri kakak iparnya. Di tuntun nya Putri untuk menemui sang suami.


Putri mencium tangan Erlan dan Erlan pun mencium kening Putri. Sidul sepupu Erlan mengabadikan momen tersebut lewat ponsel nya.


Pada malam harinya keluarga Putri dan juga Erlan mengadakan resepsi, hanya untuk mengundang kerabat jauh serta teman dan para tetangga yang berhalangan hadir di waktu pagi tadi, tak banyak yang mereka undang hanya berapa ratus orang saja yang datang dalam acara resepsi pernikahan Erlan dan juga Putri.


Putri tak lupa mengumbar senyumnya menyambut tamu tamu dari kedua orang tuanya.


Erlan nampak mengelap keringat di dahi Putri istri kecilnya.


Putri nampak tersenyum melihat Erlan yang sangat perhatian padanya.


''Makasih,'' Bisik Putri tersenyum.


''Sama-sama sayang?'' sahut Erlan membalas senyuman gadis kecilnya yang sekarang sudah sah menjadi seorang istri.


Jam sembilan malam para tamu sudah banyak yang pulang, hanya tinggal beberapa kerabat jauh Putri dan Erlan yang belum pulang, mereka terpaksa menginap di rumah Putri yang tak terlalu lebar namun bisa menampung kerabat kerabat jauh nya.


Putri sengaja merenovasi rumahnya agar lebih besar sedikit dari dulunya.


Dan kini keinginan Anastasya Putri yang belum tercapai hanyalah memberangkat kan Orang Tuanya dan juga kedua Mertuanya untuk menunaikan rukun islam yang ke-lima yakni ibadah Haji.


Ingin rasanya Putri dengan segera memberangkat kan mereka berempat, karena untuk membalas jasa jasa nya dari dia kecil sampai sekarang.

__ADS_1


''Kak?'' sapa Putri pada Erlan ketika sudah ada di dalam kamar nya.


''Iya, kenapa sayang?'' tanya Erlan lembut menatap wajah cantik istri kecilnya.


''Putri ingin segera memberangkat kan Ibu dan juga Ayah ke tanah Suci, sebagai mana janji Putri di saat Putri sudah sukses dan memiliki sebagian uang,'' Gumam Putri menengadah melihat wajah Erlan yang sudah menjadi suaminya.


''Besok kita bahas ini pada Ibu dan Ayah, sekarang sudah malam dan waktunya untuk tidur,'' sahutnya menyuruh sang gadis untuk tidur, karena sedari tadi sudah mulai menguap beberapa kali.


Akhirnya Putri terlelap dalam tidurnya, Erlan memilih menemui para kerabat yang belum juga tidur di ruang tamu yang lumayan besar untuk berkumpul nya keluarga.


Erlan yang tak pernah pulang ke rumah Putri selama rumah di renovasi. Erlan takjub dengan interior bangunan rumah Putri yang sekarang.


''Pengantin baru nggak jadi malam pertama nich,'' ledek kerabat nya.


''Apaan sich, aku bukan kamu yang langsung tancap gas untuk mencoblos pasangan lho,'' celetuk Erlan membalas ledekan dari kerabat nya.


Semuanya pada tertawa, mentertawakan ocehan Erlan yang menurut mereka terlalu absurd.


''Emang pilihan Pilkades, harus mencoblos,'' balasnya lagi.


Erlan hanya bisa garuk garuk kepalanya yang tak gatal, karena nggak tau harus menjawab apalagi.


''Sudah lah nggak usah bahas itu lagi pada pengantin baru, mereka belum punya pengalaman hidup untuk menikmati surga dunia,'' Celetuk Pak Dhe dari Erlan, di selingi dengan kekehan.


''Pak Dhe bisa saja, mereka sudah sangat lama bersama, masak belum merasakan surga dunia yang Allah berikan pada nya,'' jawab yang lainnya.


Erlan memilih menutup telinga nya dengan henset dan mendengar lagu dari ponsel nya untuk menghindari ledekan dari kerabat nya lebih parah lagi.


Dan tak sadar Erlan memejamkan matanya di lantai yang hanya beralaskan karpet berwarna hijau. Semua kerabat Erlan terkapar di lantai semua sesudah meledek pengantin baru.


Pagi harinya para kerabat Erlan berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing, setelah selesai sarapan.


Sedangkan Putri dan juga Erlan sibuk membereskan rumahnya yang bisa di bilang sangat berantakan.


Kertas di mana-mana, dan ada juga gelas minuman kemasan di dalamnya.

__ADS_1


Hampir seharian Putri dan Erlan membantu orang tuanya untuk berbenah rumahnya.


Selesai nya beres beres, Putri dan Erlan mengajak orang tuanya duduk di ruang tamu guna membicarakan keberangkatan mereka untuk naik Haji.


Mengunjungi rumah Allah dan serta mengunjungi makamnya Rosulullah Saw.


''Ibu dan Ayah....'' Ucap Putri menjeda ucapan nya.


''Bapak dan juga Ibu, Putri dan kak Erlan ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting untuk kalian,'' lanjut Putri menatap ke empat orang tuanya sekarang.


''Kenapa Nak, kamu hamil,'' tanya Pak Enggar Ayah Erlan tiba-tiba.


''Ayah, dengerin istri Erlan ngomong dulu baru memberi kesimpulan, lagian mana mungkin Putri hamil Erlan kan belum ngapa ngapain,'' Ucap Erlan jujur yang membuat Putri melototi nya.


''Tu kan, Ayah sich gara-gara nya, Erlan deng yang kena,'' tambah Erlan.


Putri menepuk paha suaminya karena nggak mau berhenti untuk ngomong sendiri.


''Putri dan kak Erlan, mau Ibu dan Ayah dan juga Bapak, untuk pergi Haji ke Baitullah,'' ucap Putri lalu tersenyum pada ke empat orang tua di depannya.


''Bapak nggak salah dengar ian Nak?'' tanya Pak Amin pada puteri nya.


Putri menggeleng seraya berkata, ''Nggak kok Pak, Bapak nggak salah dengar, ini semua keinginan Anastasya sejak dulu dan sebelum mempunyai penghasilan seperti sekarang. Putri sudah mengatakan ini semua pada Kak Erlan, dan kak Erlan menyetujui niat Putri,'' jelasnya.


''Bukan cuma Ibu Putri saja yang harus berangkat Haji Bu, tapi Ayah dan Ibu juga,'' tutur Putri menghampiri kedua Mertuanya yang sedari tadi hanya menyimak perkataan Putri sang menantu.


''Ayah sama Ibu kayaknya nggak usah pergi dech Nak?'' Ucap Pak Enggar pelan tersenyum pada menantu nya.


''Nggak, Ayah dan Ibu juga harus pergi,'' Ujar Putri memberikan paspor pada sang Mertua.


''Gimana, masih nggak mau berangkat juga,'' Ucap Erlan melipat kedua tangan dan menaruh di dadanya.


''Itu semua sudah di persiapkan dari tahun kemarin Ayah. Istri Erlan sudah mempersiapkan semuanya sebelum Erlan mengetahui ini semua,'' tambah nya lagi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2