
Putri melangkah dengan lesu menuju ke tempat percetakan, ''Kenapa akhir akhir ini aku gampang sekali lelah nya,'' gumam nya sembari terus melangkah kan kakinya ke tempat percetakan.
Putri menaruh kertas yang ia bawa di atas meja, dan diapun mendudukkan bokong nya duduk santai, Putri menghela nafas panjang untuk mengusir rasa lelah nya.
''Istirahat sebentar nggak apa apa kali ya,'' Gumam Putri pada diri sendiri.
Tempat percetakan nya lumayan jauh dari ruangan yang Putri tempati, dia masih ber selonjoran di tempat percetakan tersebut, Putri menutup mulut nya karena menguap, ''Anech banget sich, masih jam segini sudah ngantuk gini,'' Ucap nya pelan.
Sampai akhirnya ada teman yang sama-sama magang di perusahaan Daniel menyapa Putri.
''Putri, kok selonjoran di sini,'' tanyanya tiba-tiba, sedangkan tangannya mulai bekerja menaruh kertas kertas yang akan di copy satu persatu di atas mesin, seraya menekan tombol tombol tersebut.
''Putri masih capek kak, istirahat dulu sebentar sambil selonjoran gini enak,'' jawab Putri seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya.
''Entar malah di susul lagi sama karyawan lain ke sini Putri, ayo cepat ach selesain tugas kamu,'' kata sang teman memperingatkan Putri.
''Aku masih capek kak, rasanya lelah banget plus ngantuk juga,'' kata Putri menghentikan langkah sang teman.
''Kamu sakit,'' tanyanya menghampiri Putri dan memegang kening Putri.
Putri menggeleng pelan, ''Putri nggak sakit kok kak, cuma lelah saja,'' sahutnya menurunkan kakinya dan beranjak dari tempat duduk nya.
''Ya sudah saya duluan ya Putri, yang semangat. Oke,'' ucap nya melangkah pergi.
Setelah kepergian sang teman, Putri menaruh kepalanya di atas mesin foto copy, Erlan memandang ke arah ruangan foto copy dan dia melihat sang istri yang sedang menaruh kepalanya di atas mesin foto copy, Erlan sempat berhenti melangkah lalu menatap sang istri dari jauh, kelihatan sekali wajahnya sangat pucat.
''Kenapa Erlan,'' tanya sang teman ketika melihat Erlan berhenti melangkah.
''Nggak apa apa,'' jawab Erlan sembari menyunggingkan senyuman nya.
''Kalau nggak ada apa-apa, ayo lanjutkan rapat sebentar lagi,'' ajak sang teman seraya melangkah mendahului Erlan.
__ADS_1
Dengan terpaksa Erlan melanjutkan langkah nya menuju ruang rapat. Sedangkan di ruangan lain, seorang Staf sedang menunggu Putri yang di tugaskan untuk mengcopy lembaran kertas kerja yang sebentar lagi akan di presentasi kan di ruangan rapat.
''Coba kamu samperin Putri di ruangan sebelah,'' suruh seorang Staf yang ada di ruangan tempat Putri magang.
Rini, teman sesama magang bergegas menghampiri Putri, tak butuh waktu lama Rini untuk sampai di tempat percetakan, karena Rini sendiri berlari menuju ruangan tersebut.
''Putri, sudah selesai belum,'' tanya Rini setelah sampai. Masih dengan nafas ngos ngosan Rini bertanya pada sang teman.
''Sudah, ini tinggal di beresin saja,'' jawab Putri yang sedang merapikan kertas kertas yang ia copy.
''Lama banget sich Put?'' tanya Rini lagi.
''Staf di sana sudah lama nunggunya tau, bahkan dia sempat ngomel ngomel juga lho,'' kata Rini pelan sembari membantu Putri merapikan kertas kertas tersebut.
''Ya maaf banget, sudah bikin kalian di omelin sama Staf,'' sahut Putri merasa bersalah.
''Aku kayaknya lagi nggak enak badan dech Rin? rasanya badanku berat banget, terus ngantuk juga,'' Putri menambahkan.
Kini wajahnya sudah terlihat sangat pucat, ''Kamu sakit?'' tanya Rini memegang dahi Putri.
Putri hanya menggeleng kan kepala nya pelan seraya berkata, ''Rini, tolong bawa ini dulu, takut nya pak Toni tambah marah marah kalau semakin lama nunggunya,'' jawab Putri meminta tolong pada sang teman yang baru ia kenal 1 minggu yang lalu.
''Kamu sendiri masih mau kemana,'' tanya Rini sedikit khawatir, karena Putri meminta dia membawa kan semua kerjaan nya barusan.
''Aku mau duduk di sini dulu sebentar, rasanya sudah tak tahan aku ngantuk banget,'' keluh Putri pada temannya yang masih setia untuk menunggu nya.
Selang berapa menit setelah kepergian Rini, sang CEO melewati ruangan percetakan, di mana Putri berada.
Daniel yang melihat Putri meletakkan kepalanya di atas meja menghentikan langkah nya sejenak, dan menoleh pada sang sekretaris yang ada di belakang nya.
Sang sekretaris hanya menggeleng kan kepalanya tanda tidak tau.
__ADS_1
Lalu Daniel menghampiri Putri seraya berkata, ''Sedang apa di sini,''
Putri terperanjat kaget mendengar suara dingin Daniel sang bos, lantas dia mendongak menatap orang yang berada di depannya. ''Maaf Pak, Putri hanya istirahat saja sebentar di sini, kalau gitu Putri pamit kembali ke ruangan kerja sekarang,'' Ucap Putri gugup seraya beranjak dari tempat duduk nya.
''Kamu sakit?'' tanya Daniel saat melihat wajah pucat Putri, masih dengan suara dinginnya, sedangkan satu tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
''Nggak kok Pak, Putri cuma ngantuk saja,'' jawab Putri menundukkan kepala karena tak berani memandang ke arah sang Bos.
Erlan yang mau menuju ke ruangan rapat melintas di depan ruangan di mana sang istri berada, ''Ada apa dengan Putri,'' Gumamnya pelan sehingga tak terdengar oleh teman kantor nya yang juga ikutan rapat.
''Kenapa Erlan?'' tanya sang teman.
''Nggak apa apa, cuma lihat Pak Daniel saja di dalam,'' ucap Erlan yang terus menatap sang istri yang sedikit pucat.
''Saya permisi Pak,'' pamit Putri seraya melangkahkan kakinya guna meninggalkan tempat tersebut, namun baru beberapa langkah saja Putri hampir jatuh, beruntung sang Bos memegang pundak Putri sang karyawan, sedangkan dari luar Erlan reflek berteriak dan dengan segera menghampiri sang istri.
''Maaf Pak,'' Gumam Putri sembari memegang keningnya.
''Nggak apa apa?'' jawab Daniel sang Bos.
''Putri, kamu nggak apa apa kan,'' tanya Erlan setelah berada di samping sang istri.
Putri hanya menggeleng pelan, ''Nggak apa apa kok, hanya sedikit pusing saja,'' jelasnya pada sang suami.
''Erlan, kamu bawa Putri ke ruangan istirahat, biar dia istirahat di sana, dari pada pingsan di sini,'' suruh Daniel pada Erlan.
Erlan mengangguokan kepalanya dan merangkul sang istri, walaupun di kantor tersebut tak ada yang tau kalau Erlan dan Putri adalah sepasang suami istri, hanya Daniel dan sekretaris nya yang tau, kalau mereka berdua adalah suami dan istri.
Namun sebelum kepergian nya, Erlan sempat bertanya pada sang Bos, ''Bagaimana dengan rapatnya Bos,'' Ucap Erlan sopan, sedangkan Putri sudah mulai lemas di rangkulan Erlan, Erlan segera menggendong sang istri sembari menunggu jawaban dari sang Bosnya.
''Kalau kamu mau ikut rapat silahkan, biar saya saja yang jaga Putri,'' jawab Daniel singkat.
__ADS_1
BERSAMBUNG