
Aku yang mendengar penuturan nya tersenyum dan langsung memeluknya erat.
''Jangan lupa juga, do'akan Kak Putri semoga bayi yang di kandung nya sehat sehat sampai esok melihat dunia,'' seru Bu Widya semangat.
''Kak... Kak Putri sedang hamil?'' tanya nya kaget sekaligus tersenyum bahagia, dia juga mencium pipi ku dan berkata lagi, ''Selamat ya Kak Putri, semoga adik bayinya sehat di dalam sini,'' memegang perutku dengan lembut.
Akupun mengangguk pelan, dan tak lama kemudian Ibu pengurus Yayasan menghampiri kita berempat di teras Yayasan, aku tersenyum melihat Ibu pengurus yang datang langsung menyambut kedatangan rombongan ku.
''Ya sudah Kak, kami pergi dulu mau bantuin Pak Qosim,'' Ucap gadis kecil yang tadi mencium ku.
''Iya, hati hati berat lho,'' tutur Kak Sandra yang mulai membuka suara nya.
''Kalian kok nggak bilang bilang mau datang ke sini,'' tanya Bu pengurus, aku tersenyum mendengar ucapan nya, karena aku sengaja nggak bilang bilang karena mau bikin suprise buat adik adik di Panti ini.
Aku mencium tangan Bu pengurus seraya berkata, ''Putri kan mau bikin kejutan buat Ibu dan adik adik di sini,'' jawabku sopan.
''Ya sudah kita masuk dulu, kita lanjut ngobrol nya di dalam saja biar enak,'' kata Bu pengurus mengajak kami berempat ke dalam.
Sedangkan barang yang kami bawa sudah berada di dalam semua, karena adik adik membantu mengeluarkan dan membawanya ke dalam Panti.
Aku sangat senang melihat semua adik adik pada senang dan gembira dengan barang yang aku bawa. Kemarin kemarin hanya makanan dan juga beberapa macam snack yang aku kirim ke Panti, namun aku sendiri tak datang menjenguk mereka semua.
__ADS_1
Yayasan ini sudah menjadi rumah kedua ku yang paling ternyaman, setelah rumh orang tuaku di kampung, ya aku belum ngasih tau Ibu dan juga Bapak di kampung kabar gembira ini pada mereka semua.
Aku memilih pergi ke kamar bayi untuk melihat bayi bayi yang di titipkan orang tuanya di sana. Aku mengambil bayi laki-laki yang masih merah, karena usianya baru 10 hari.
''Sayang, ternyata kamu sudah pintar menggendong bayi ya,'' tanya Bu Widya saat melihat aku mendekat dengan menggendong bayi kecil.
''Iya emang sudah sangat pintar Bu Widya, sudah waktu nya nak Putri bikin baby, biar di tengah-tengah keluarga kecilnya ada suara yang begitu menggemaskan,'' sahut Ibu pengurus, aku hanya tersenyum dan terus menggoyang goyang kan si baby yang sedang aku gendong, agar tak terbangun dari tidur nya.
Ibu pengurus masih belum tau, kalau aku sedang mengandung saat ini, makanya beliau berkata kayak gitu, belum juga aku menjawab ucapan Ibu pengurus, Ibu Widya sudah menjawab lebih dulu.
''Sebentar lagi bakalan suara tangisan bayi di rumah makan Putri kok Bu? dia sedang hamil sekarang, sudah menginjak minggu ke 7,'' gumam Bu Widya yang membuat Ibu pengurus terperanjat kaget, dia segera menghampiri ku dan bertanya sendiri, ''Apa benar nak Putri sedang hamil,'' tanya nya sedikit tak percaya.
Aku mengangguk pelan seraya berkata, ''Yang di katakan Bu Widya benar Ibu pengurus, sekarang Putri sedang hamil dan kehadiran Putri ke sini sekarang untuk berbagi kebahagiaan, sekaligus berbagi rezeki yang Allah kasih pada Putri selama ini, Putri bersyukur banget atas apa yang Allah berikan pada Putri, termasuk janin yang ada di rahim Putri sekarang ini,'' jawabnya panjang lebar.
''Iya Bu, terima kasih atas do'anya, semakin banyak yang mendo'akan Putri, semakin senang pula Putri menjalani kehidupan ini,'' tiba-tiba bayi laki-laki yang aku gendong menangis sejadi-jadinya, aku panik tak tau harus berbuat apa menghadapi bayi kecil yang sedang menangis, aku goyang goyangkan masih tetap menangis.
''Bu...?'' lirih ku karena tak tega melihat si bayi menangis.
''Nggak apa apa, mungkin dia haus sekarang,'' jawab Ibu pengurus.
Mbak Minah menghampiri ku dengan satu botol susu formula di tangan nya, lantas dia memberikan botol susu tersebut padaku.
__ADS_1
''Dia haus, berikan botol ini pada nya,'' auruhnya padaku dengan dingin, mbak Minah emang orang nya dingin, namun dia sangat baik pada semua adik adik di Panti ini.
Aku memilih duduk di dekat Ibu pengurus sembari menyodorkan botol susu pada si kecil, dia sangat lahap ketika aku baru menyodorkan nya, hatiku terasa sakit melihat bayi yang aku gendong sudah di buang oleh orang tuanya.
Tapi aku masih bisa bersyukur, karena Ibu bayi masih menaruhnya di depan Panti, nggak seperti Ibu Ibu yang khilaf yang langsung membunuh darah dagingnya sendiri dengan sadis.
Aku meneteskan air mata melihat bayi kecil yang tak berdosa ini sudah berada di dalam Panti sejak ia masih bayi, kemarin Ibu pengurus menemukan dia masih berlumuran darah dan tali pusarnya belum juga di potong.
Aku mengelus perutku, dan aku bertekad untuk mengasuhnya sendiri tanpa bantuan dari seorang pengasuh.
Ibu pengurus menepuk-nepuk punggung ku dengan pelan, agar tangisan ku segera berhenti.
''Sudah jangan nangis lagi, kasian baby yang ada di sini juga ikutan sedih.'' kata Ibu pengurus menenangkan aku.
Lalu Kak Sandra menghampiri ku dan mengambil bayi mungil yang sedang aku gendong, ''Sini adek bayi nya, aku juga mau gendong dia,'' gumam Kak Sandra lembut.
Aku memberikan bayi yang aku gendong pada Kak Sandra dengan sangat hati hati, karena aku tau Kak Sandra belum pernah menggendong bayi kecil.
Kak Sandra membawa bayi tersebut menuju Bu Widya, ''Ini Ma, kasian ya Ma bayi tampan seperti di buang oleh Ibu nya yang tak punya perasaan itu.'' Ucap Kak Sandra namun aku kira Kak Sandra kesal dengan Ibu dari bayi yang ia gendong sekarang ini, karena dari nada bicaranya sudah sangat berbeda.
''Kalau saja aku sudah punya suami, pasti Sandra akan mengasuhnya Ma, tapi Sandra juga belum menikah,'' Gumamnya yang terus menatap bayi mungil di gendongan nya.
__ADS_1
''Kamu nggak usah sampai memikirkan hal itu sayang? cukup kamu sempat kan untuk selalu datang ke sini ketika ada waktu luang, mereka bakalan senang kok,'' jawab Bu Widya pada Kak Sandra.
''Insya Allah Ma, semoga...? kelak Sandra punya penghasilan sendiri, pasti Sandra akan sely datang ke sini, kalau sekarang kan Sandra masih numpang sama Mama, belum punya penghasilan sendiri,'' Ucap Kak Sandra yang mengundang tawa seisi ruangan Ibu pengurus.