Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 120


__ADS_3

Sangat kentara sekali kalau mbak Agnes sedang memelototi ku, karena Mas Erlan masih menggenggam tanganku, namun aku abaikan saja, ''Toh yang pegang tanganku suamiku sendiri, bukan pacar apalagi selingkuhan,'' bathin ku tersenyum.


''Ayo barengan saja,'' ajak Pak Daniel pada kami berdua.


''Pak, saya ikut juga boleh kan.'' Ucap mbak Agnes ragu ragu.


''Di sebelah juga ada lift, kayaknya kosong dech!'' jawab Pak Daniel acuh tak acuh, sang asisten langsung menutup pintu lift, sehingga mbak Agnes tak terlihat lagi.


''Kamu harus jaga kandungan kamu baik baik,'' pesan Pak Daniel padaku, yang hanya melirik dari ekor matanya.


''Iya Pak, makasih sudah perhatian sama Putri,'' sahut Putri ramah.


''Tak usah se formal itu kalau kita lagi bareng gini, kamu juga adikku, jadi aku juga harus menjaga kamu dengan baik,'' Ucapnya, yang di angguki olehku dan juga Mas Erlan.


Ketika angka di lift sudah ada di angka 15 pintu lift pun terbuka, dan aku segera keluar dari dalam lift, setelah mencium tangan Mas Erlan dan juga Pak Daniel yang sudah aku anggap kakak ku sendiri sejak aku di angkat anak oleh keluarga Pak Daniel sendiri.


''Assalamu'alaikum,'' ucapku sebelum pintu lift tertutup rapat.


''Waalaikum salam,'' jawab Mas Erlan dan Pak Daniel hampir bersama'an.


Sedangkan Mas Erlan sendiri bekerja di lantai 18, dan Pak Daniel sendiri ada di lantai teratas.


Dengan langkah lesu aku melangkah memasuki ruangan di mana aku bekerja sebagai karyawan magang di sana.


''Kenapa lho lesu gituu Putri,'' tanya Sisil menghampiri ku, di saat aku baru mendudukkan bokong di kursi kerjaku.


''Aku nggak apa apa kok kak, cuma lemes saja,'' jawab ku pelan mulai menyala kan laptop di depanku.


''Belum sarapan kali,'' sahut Anjas di sebelah ku yang menjadi Staf marketing.


''Sudah sarapan kok kak, tapi masih lemes aja,'' jawab ku lagi, karena aku sendiri sudah sarapan tadi pagi sebelum berangkat ke kantor.


''Halah...! cari cari alasan agar kamu nggak di suruh suruh iya kan,'' sarkas mbak Agnes dari luar pintu yang sedang memegang kopi hangat.


''Mentang-mentang tadi bergandengan tangan dengan Pak Erlan, dan satu lift juga sama Pak Daniel, mulai ngelunjak sekarang!!'' tukas mbak Agnes dengan lantang nya.

__ADS_1


''Apa'an sich mbak Agnes ini, tapi masak ia sich Putri bergandengan tangan dengan Pak Erlan, cowok tertampan di kantor ini?'' tanya Sisil penasaran.


''Beneran Putri,'' tanya Anjas menghentikan kerjaan nya.


''Sudah sudah, nich kerjain dan cepat selesai kan, karena akan aku antar ke ruangan Presdir sebentar lagi,'' tukas mbak Agnes melemparkan tumpukan berkas ke meja ku.


''Baik mbak?'' jawab ku pelan.


''Ech... Kenapa dengan mbak Agnes Jas,'' tanya mbak Sisil pada Anjas yang juga penasaran dengan tingkah mbak Agnes yang berubah ketis dengan Putri.


''Putri, kamu beneran gandengan tangan dengan Pak Erlan,'' tanya Sisil menghampiri ku.


''Iya kak, tadi Putri memang pegangan tangan sama Pak Erlan,'' jawab ku pelan.


'Emangnya kenapa kalau aku pegangan tangan sama Mas Erlan, lawong dia suami ku kok, mau ciuman juga boleh, sah sah saja kalau aku berdua'an dengan Mas Erlan, kepo banget,'' Aku membatin.


''Jelas saja mbak Agnes kesal dengan sama kamu Putri, mbak Agnes kan suka sama Pak Erlan, masak kamu nggak tau sich,'' tanya nya, aku hanya menggeleng kan kepala menanggapi ucapan mbak Sisil.


''Mulai sekarang kamu harus jauhi Pak Erlan Putri, kalau tidak kamu dalam masalah besar,'' tambah Mas Anjas memperingatkan aku.


''Ya sudah, kamu kerjakan berkas yang di kasih mbak Agnes, mulai sekarang kamu harus hati hati ya sama mbak Agnes?!'' pesan Mas Anjas yang sudah tau watak mbak Agnes selama ini, karena Mas Anjas sendiri sudah lama bergabung dengan mbak Agnes.


''Iya Putri, maaf ya? aku nggak bisa bantu kamu, kamu kan tau sendiri kalau mak Lampir sedang marah, maunya makan manusia hidup hidup,'' bisik mbak Sisil yang membuat aku terkekeh geli mendengar nya, karena bukan cuma aku saja yang punya panggilan aneh pada mbak Agnes, tapi mbak Sisil juga punya panggilan khusus buat mbak Agnes.


''Apa yang di ketawain!!'' Ucap mbak Agnes lantang dari tempat duduknya yang cuma terhalang skat saja.


''Nggak ada mbak Agnes, cuma mbak Sisil mau ke toilet saja,'' sahut ku menumbalkan mbak Sisil. Mbak Sisil sendiri langsung melotot ke arah sambil menggerakkan bibir nya komat kamit.


''Cepat pergi ke toilet sanah,'' usir mbak Agnes pada mbak Sisil, mau tak mau mbak Sisil harus keluar dan pura pura pergi ke toilet.


'Putri bener bener ya,' gerutu mbak Sisil saat keluar dari ruangan yang ia tempati.


''Mau kemana Sil?'' Sapa Mas Erlan ramah, saat berpapasan dengan mbak Sisil di luar ruangan.


''Ech, Pak Erlan,'' jawab Sisil gugup.

__ADS_1


''Mau ke kamar mandi Pak?'' lanjutnya.


Mas Erlan mengerutkan keningnya mendengar kata kamar mandi.


''Emang ada ya, di kantor ini kamar mandi,'' celetuk teman kantor Mas Erlan.


''Mau mandi kali dia Pak,'' sambung teman satunya, yang sukses membuat mbak Sisil salah tingkah.


''Maksud Sisil, toilet Pak, iya toilet,'' Ucapnya memperjelas ucapan nya sendiri.


''Ya sudah saya mau ke dalam, Putri ada di dalam kan,'' tanya Mas Erlan menunjuk ruangan yang aku tempati.


''Putri ada sich Pak, tapi dia sedang banyak kerjaan yang harus di selesai kan secepatnya,'' kata Sisil takut takut, sembari menggabungkan jari telunjuk nya👉👈.


''Kalau Agnes ada kan?'' tanya Mas Erlan lagi sambil menahan rasa emosi nya di saat mendengar aku banyak kerjaan yang harus di selesai kan.


Mbak Sisil mengangguk, sedangkan Mas Erlan jangan di tanya lagi dia sudah menerobos masuk, di susul 2 temannya yang emang ikut dengannya hari ini untuk mengontrol semua kerjaan para karyawan.


Putri tak menyadari kedatangan Mas Erlan yang langsung menuju ke meja kerja mbak Agnes.


Saat dia menggebrak meja, baru aku ngeh kalu di sana ada Mas Erlan yang kelihatan nya sedang marah.


''Enak ya, kamu enak enakan bermain ponsel, sedangkan karyawan yang lain sedang bekerja, apa kantor ini menggaji orang pemalas, yang kerjaan nya hanya main main saja di dalam kantor, iya!!'' pekik Mas Erlan menatap tajam mbak Agnes.


''Bu...Bukan gitu Pak,'' jawab Agnes takut takut.


BERSAMBUNG


...Jangan lupa mampir juga di karya lain ku juga ya kak, ...


...-Keinginan Anastasya-...


...-Cinta Nadhira- dan...


... -Sahabat jadi cinta-...

__ADS_1


semoga suka ya kak🙏🙏😘💕💕


__ADS_2