Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 153


__ADS_3

Malam itu di rumah Putri begitu ramai. Dengan acara makan malam bersama rekan kerja sekaligus keluarga Aditama beserta calon menantu nya, sesekali mereka bercanda tawa membuat suasana nya semakin asik dan ke keluargaan banget, namun para rekan rekan kerja Putri masih saja merasa canggung ketika sang tuan besar dan tuan muda nya juga ikutan nimbrung pembicara'an mereka.


''Sudah nggak usah terlalu canggung githu,'' celetuk Putri yang ngomong seenak jidad.


Rekan kerjanya hanya menatap Putri yang sedang asik makan buah mangga muda.


''Putri nggak makan?'' tanya kak Anjas heran, soalnya dia hanya makan mangga muda dari tadi.


''Makanan nya cuma ini saja, semenjak dia hamil istri kecilku ini tak suka makan nasi,'' jawab Erlan seraya mencubit pipi sang istri.


''Isshh....! Mas Erlan sakit tau!'' Ucapnya mengelus pipi yang di cubit.


Pak Seno dan lainnya hanya melirik dengan ekor matanya, karena di samping pak Seno ada tuan Daniel dan tuan besarnya yang ikutan duduk lesehan di lantai, hanya beralaskan karpet ungu saja.


''Kapan kapan kita makan kayak gini saja, lebih asik duduk di lantai kayak gini Ma?'' kata kak Sandra, di sela sela kunyahan nya.


Tuan Daniel mencuri curi kesempatan untuk memandang sang karyawan, dan juga teman kuliah adik angkatnya.


'Gadis sederhana, tapi membuat aku selalu memikirkan dia?' batinnya.


''Ach...!'' Ucap tuan Daniel membuat semua nya menoleh padanya.


''Kenapa kak?'' tanya Bryan heran.


''Nggak apa apa! cuma kena makan cabe saja,'' jawabnya berbohong dan meraih air putih yang berada di depannya. Tuan Daniel menegak habis air di dalam gelasnya.


''Pak Daniel kayak baru pulang dari sawah saja,'' celoteh Putri yang mendapat kan tatapan dingin dari nya.


Putri memanyunkan bibir nya mendapatkan tatapan dari tuan Daniel. ''Putri kan ngomong apa adanya?'' Gumam nya pelan, yang hanya di dengar oleh-nya saja.

__ADS_1


Selesai makan malam, para wanita membereskan alat-alat makannya yang di gunakan barusan buat makan semua nya. Selesai dengan kegiatan masing-masing, rekan kerja Putri berpamitan pada semua nya, terutama keluarga CEO nya.


''Maaf merepotkan, kalau begitu kami semua pamit pak, Tuan besar dan tuan muda,'' Ucap Pak Seno yang emang di tugaskan untuk ngomong.


''Kalian ke sini barengan?'' tanya tuan Daniel dingin menatap Khumairoh yang tetap saja menunduk kan kepalanya.


''Tadi kami barengan tuan kesini, tapi sekarang Khumairoh mau naik taksi,'' jawab Pak Seno.


''Kenapa githu!'' tanya tuan Daniel mengerutkan keningnya.


''Jalan rumah kita nggak se arah tuan, jadi saya memesan taksi online saja,'' sahut Khumairoh takut takut.


''Ya sudah, kalian semua balik nya hati hati ya, biar Daniel saja yang mengantarkan Khumairoh?'' sambung Pak Aries.


''Pa...!!''


''Nggak usah repot repot tuan besar, saya bisa sendiri kok, makasih sebelum nya tapi Khumairoh sudah memesan taksi online,'' jelas Khumairoh, yang pasti Khumairoh merasa tak enak hati harus merepotkan tuan muda nya, di sisi lain Khumairoh juga takut terjadi sesuatu pada nya ketika berada di dalam taksi online nya yang ia pesan.


''Sudah, ayo jalan?'' titah tuan Daniel berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah Putri. Tuan Daniel menunggu Khumairoh di dalam mobil nya.


''Sudahlah mbak Iroh, Pak Daniel nggak gigit kok, kan dia bukan grandong?'' candanya yang di selingi dengan kekehan.


Putri mengantarkan Khumairoh menuju ke mobil bos dingin nya, tuan Daniel kaku ketika berada di depan seorang wanita yang menurut dia hanya bisa mengganggu konsentrasi kerjanya saja.


Tuan Daniel menatap Putri dan juga Khumairoh yang masih mengobrol di luar mobilnya. Tiba-tiba tuan Daniel membuka suaranya, membuat Khumairoh terperanjat kaget mendengar nya.


''Mau di antar nggak!'' Ucap nya ketus, tuan Daniel menurunkan kaca mobilnya sehingga memperlihatkan wajah dingin sang tuan muda.


''Pak Daniel jangan galak galak sama mbak Iroh, nanti mbak Iroh jadi takut lagi,'' balas Putri cemberut.

__ADS_1


''Sudah mbak Iroh masuk saja ke dalam,'' Putri membukakan pintu mobil buat Khumairoh, gadis baik yang begitu pintar di kampus nya, walau dia termasuk orang yang berada, namun dia tidak mau terus terusan hidup dalam bayangan bayangan kekayaan orang tuanya.


Khumairoh dari keluarga kaya, dan Ayah nya Khumairoh adalah klien dari tuan Daniel, tapi Khumairoh tidak tahu kalau sang Ayah adalah salah satu klien dari bos tempat ia bekerja.


Di dalam mobil keduanya saling berdiam diri, hanya ada keheningan di sepanjang jalan menuju ke rumah Khumairoh.


''Di mana rumah kamu!'' tanya tuan Daniel membuka obrolan nya.


''Lurus saja tuan? nanti di depan belok kanan,'' jawab Khumairoh pelan. Tuan Daniel mengangguk dan terus melajukan mobilnya hingga di persimpangan jalan, tuan Daniel membelokkan mobilnya di kawasan perumahan elit, layaknya rumah tuan Daniel.


''Rumah kamu ternyata berada di kalangan elit juga ya,'' tanya nya sembari mengetuk ngetuk jarinya pada kemudi stir nya.


''Iya, alhamdulillah tuan? tapi itu semua kan milik orang tua saya tuan, bukan milik Khumairoh,'' balas Khumairoh. ''Di depan itu rumah saya tuan, kita bisa berhenti di sana,'' tambah nya, lalu menunjuk ke arah depan, rumah besar nan mewah kini menjadi tujuan tuan Daniel.


''Kayaknya saya pernah datang ke rumah ini,'' Ucap tuan Daniel setelah sampai di depan gerbang berwarna hitam kecoklatan itu.


''Mungkin tuan salah liat kali?'' sahut Khumairoh tak percaya kalau tuan muda nya pernah datang ke rumahnya. Mereka berdua masih saja mengobrol di dalam mobil seraya menunggu pintu gerbang di buka seseorang.


''Kalau nggak salah ingat, tahun lalu saya ke sini menghadiri acara pernikahan, apa kamu sudah menikah?!'' tanya tuan Daniel lagi, dengan penuh selidik.


''Mungkin yang di maksud tuan adalah Abang saya tuan,'' jawab Khumairoh menghentikan ucapan nya, karena pintu gerbang sudah di buka oleh sang satpam.


''Maaf Nona lama bukanya? soalnya saya berada di toilet,'' kata sangat satpam menjelaskan pada sang pemilik rumah.


''Nggak apa apa kok Pak, ya sudah Khumairoh masuk dulu, assalamu'alaikum,'' jawab Khumairoh sekaligus berpamitan pada satpam nya, sang satpam mengangguk, lalu tuan Daniel melajukan mobil nya kembali sampai ke teras rumah Khumairoh.


Khumairoh turun dari mobil nya seraya berkata, ''Terima kasih tuan sudah mengantarkan Khumairoh, mungkin tuan mau mampir dulu?'' kata Khumairoh dan basa basi pada tuan muda nya. ''Semoga dia tidak mau,'' batin Khumairoh.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2