Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 105 Tangisan pagi


__ADS_3

Putri menitikkan air matanya, dia mengira sang suami sudah tidak lagi


mencintainya, Putri berfikir kalau suaminya akan meninggalkan dia demi seorang cewek yang lebih cantik darinya, pikiran pikiran buruk terlintas begitu saja di otak Putri, Putri membaringkan tubuhnya dengan tangisan pilunya.


''Mungkinkah aku salah, dan mungkinkah aku sudah tak cantik lagi,'' gumaman kecil Putri di sela sela isak tangisnya.


Putri tak ingat kejadian tadi sore yang membuat sang suami marah dan memilih kembali ke tempat kerja nya untuk mengambil lemburan.


Erlan yang sudah selesai makan langsung mencuci piring kotor nya sendiri, lalu menyusul Putri sang istri ke kamarnya.


Erlan kaget ketika membuka pintu kamar nya, karena melihat istri kecil nya sedang menangis pilu. Erlan segera menghampiri Putri dan bertanya, ''Kenapa menangis, apa ada yang sakit,'' tanya Erlan dingin.


Putri menggeleng, ''Lalu kenapa kamu menangis kayak gini,'' tanya nya lagi.


Lagi lagi Putri hanya menggeleng kan kepala nya, tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan dari sang suami.


''Ya sudah, kalau nggak ada yang sakit, aku mau tidur capek,'' Ucap Erlan beranjak dari duduk nya, Erlan mencoba untuk tetap sabar menghadapi istri nya, yang emosinya sedang naik turun, Erlan berfikir kalau Putri sedang datang bulan.


Putri memegang tangan Erlan seraya mengencangkan tangisan nya.


''Kalau nggak ada yang sakit kenapa nangisnya tambah kenceng githu sich dek, malu sama tetangga ini sudah larut malam, entar di kiranya aku malah mukul kamu lagi,'' ucap Erlan pelan.


''Aku nangis gara gara kamu tau nggak, kamu selalu nyuekin aku,'' teriak Putri pada Erlan sang suami.


Putri begitu kesal dengan sikap Erlan yang selalu menghindar darinya sejak pulang dari kantor tadi, tanpa sadar Putri menimpakan semua kesalahan nya pada Erlan sang suami.


Putri tak berfikir karena semua sikap Erlan itu hanya semata mata menuruti permintaan nya saja.


Putri selalu mengusir Erlan kalau dia mendekat, sedangkan kalau Erlan menjauh Putri menjadi sedih sendiri.


''Sudah, nggak usah nangis lagi, kalau Mas punya salah, Mas minta maaf ya,'' ujar Erlan mengelus puncak kepala sang istri.


''Ayo, kita tidur, Mas juga sudah ngantuk?'' ucap nya lagi.

__ADS_1


''Tapi Putri sudah nggak ngantuk lagi,'' Ucap nya cemberut.


''Kalau nggak ngantuk, tiduran saja sini,'' jawab Erlan menepuk lengannya.


Erlan tak langsung memejamkan matanya, fikiran nya melayang memikirkan perubahan sang istri akhir akhir ini. ''Sudah seminggu ini sikap istri ku aneh, tapi dia selalu lembut padaku, namun sekarang dia sangat kasar,'' batinnya.


Erlan melirik Putri di sampingnya yang sudah tertidur lelap dengan dengkuran halus.


Erlan tersenyum melihat sang istri yang sudah pulas dalam tidurnya. ''Bilangnya nggak ngantuk?'' gumamnya pelan seraya mencium kening Putri sang istri.


Erlan menyadari perubahan istri kecil nya dari seminggu lalu, namun Erlan tak pernah menyadari akan hal itu.


Menjelang pagi hari, Putri menangis seperti anak kecil yang sedang merajuk pada orang tua nya. Ketika dia tidak melihat Erlan sang suami di samping nya, dengan buru buru Erlan menyelesaikan mandinya, Erlan dengan cepat keluar dari kamar mandi nya, hanya dengan memakai handuk yang di lilitkan pada tubuh nya.


Erlan heran melihat istri kecil nya yang menangis meraung raung, Erlan menghampiri sang istri dan berkata.


''Kenapa sayang?'' tanyanya lembut sembari mengelus pundak sang istri.


''Kak Erlan kemana,'' Putri berbalik tanya.


''Mas, kan sedang mandi sayang?'' jawab Erlan mendudukkan istri kecil nya di sisi ranjang tempat tidur nya.


''Jangan tinggalin aku,'' rengek Putri bergelayut manja.


''Siapa yang ninggalin sich sayang, Mas lagi mandi, kan mau berangkat kerja,'' ucapnya.


''Lagian kamu kenapa sich sayang? pagi pagi sudah nangis kayak gini, ayo mandi emangnya kamu nggak mau kerja githu,'' ucap Erlan sekaligus bertanya pada sang istri.


''Putri takut di tinggal pergi sama kak Erlan, dan juga Putri lagi malas kerja kak, temani aku di rumah??'' rengek nya sembari mengeratkan pelukannya.


''Ya nggak boleh githu dong sayang, mau ijin apa coba Mas sama Kepala HRD,'' Ucap Erlan mengelus puncak kepala sang istri.


''Ayo Mas mandiin biar cepat,'' Ucap nya seraya menggendong Putri ke kamar mandi dan dengan segera memandikan nya layak nya anak kecil.

__ADS_1


Selesai memandikan sang Istri, Erlan segera memakai baju kantor nya, dan mengambilkan baju untuk sang istri yang masih berdiam diri seperti patung, hanya dengan memakai baju mandi nya.


''Sayang, ayo cepetan, kita akan telat ke kantor nya kalau kamu kayak gini terus,'' teriak Erlan dari luar kamar nya.


''Lagian kamu kan banyak tugas yang harus cepat di selesai kan di kantor,'' Ucap Erlan lagi mengingat kan istri nya.


Karena Erlan dan Putri bekerja di kantor yang sama, akan tetapi banyak orang yang tidak mengetahui kalau Erlan dan juga Putri adalah pasangan suami istri.


Putri kerja magang di perusahaan Daniel, sedangkan sang suami sudah menjadi pegawai tetap di perusahaan Daniel.


Dengan malas Putri mengambil baju yang diambil kan oleh suami nya tadi, dia memakai baju layak orang tak suka dengan baju tersebut.


Lalu Putri menyambar jilbab yang tergeletak di lantai karena jatuh saat Putri mengambil baju yang ia sudah kenakan sekarang.


Putri terus saja merengut menghampiri suami nya yang sudah menunggu di ruang tamu. iya, sekarang Putri dan Erlan sudah tak menempati rumah kontrakan nya lagi, mereka sudah membeli rumah walau tak terlalu besar untuk mereka tinggali berdua.


Rumah kontrakan nya hanya untuk tempat usaha Cateringan nya saja, namun hanya sesekali Putri kesana untuk melihat lihat ke sana, karena Putri sudah menyerahkan semua nya pada Nina, tempat Cateringan yang ia kelola sudah ia percayakan pada sahabat nya.


*Mengingat ucapan yang kemarin*


Putri sangat percaya pada sahabat nya, maka dari itu dia mempercayakan pada nya.


Nina adalah istri dari Zein, Nina sekaligus teman kampus Putri, Nina sangat baik pada Putri waktu itu, sehingga Putri menganggap Nina sebagai kakak nya sendiri di kota jakarta, dan kini Nina juga sudah menjadi istri dari sahabat kecil nya.


Zein belum lama menikah dengan Nina, hanya berjalan satu bulan saja pernikahan Zein dengan Nina.


Zein menempati rumah kontrakan sekaligus tempat usaha Cateringan Putri, karena paksaan Putri sendiri.


Pertamanya Zein dan juga Nina menolak tawaran dari Putri, karena mereka sudah sangat nyaman dengan tempat tinggal nya yang dulu.


BERSAMBUNG


Terima kasih kakak yang selalu dukung karya receh Almahyra 🙏🙏💕😘

__ADS_1


__ADS_2