
Anastasya merasa tak enak hati pada semua teman-temannya.
"Gara-gara Anas Reno sempat adu mulut sama sisil?'' Bathin nya
" Kenapa lho An.'' tanya Zein saat melihat Anastasya melamun.
"Haaa! aku nggak apa-apa kok Zein? maaf ya gara-gara Anas kalian harus berurusan sama si Fera.'' lirihnya
" Nggak apa-apa kok ngelamun kayak githu sich Anas? dan santai aja kali kita kan teman, jadi sudah sepatutnya kayak githu. sebagai seorang teman yang baik kita harus membela temennya kalau ada yang ngerendahin kayak githu.'' kata Ani yang membuat air mata Anastasya lolos begitu saja.
"Ech... ! kenapa harus nangis kayak gini sich Anas? mana Anas yang tangguh, dan mana Anas yang selalu bilang nggak bakalan sedih?!'' ucap Mila memeluk Anastasya.
" Anas yang kita kenal nggak cengeng kayak gini, Anas yang kita kenal selalu semangat dan selalu ceria walaupun selalu di bully sekalipun.'' ucap nya lagi
"Anas menangis bukan karena di bully? Anas menangis karena Anas senang, Anas bahagia karna masih ada orang yang mau membela Anas, seperti sekarang ini.'' ucapnya dengan tangisan.
" Anas pikir!, Anas bakalan sendirian di sini, tapi ternyata masih ada juga orang-orang yang sayang sama Anas.'' lirih nya
"Sudah-sudah nggak usah nangis lagi.'' ucap Reno yang emang masih ada di dalam kelas yang di tempati Anastasya dan kawan-kawan nya untuk ujian.
" Reno? kamu kok ada di sini, lagi ngapain?!'' tanya Pak Hasan yang tiba-tiba dateng.
Reno terperanjat mendengar suara Pak Hasan, kebetulan selama ujian yang jadi guru Pengawas di kelas yang di tempati Anastasya adalah pak Hasan.
"Sudah bel masuk tha Pak?'' tanya Reno yang emang tidak mendengar suara bel berbunyi.
" Sudah dari tadi Reno, lagian punya telinga itu di pakek jangan cuma asal punya saja! lagian kalau belum bel ngapain jugabBapak ada di sini.'' jawab Pak Hasan yang kadang-kadang suka bercanda dengan semua murid-murid nya.
Berbeda dengan Guru lainnya, yang mempunyai watak yang sangat keras, membuat semua murid menjadi malas di saat mata pelajaran nya.
"Ya sudah cepat balik ke kelasnya, dan kamu Zein tolong bagikan Soal-soal ujian ini pada semua teman-teman nya.'' perintah Pak Hasan pada Zein.
Tanpa membantah lagi Zein mengerjakan apa yang disuruh Pak Hasan untuk nya.
Sedangkan Reno secepatnya balik ke kelas-nya, yang sudah ada Ibu Mery di dalam kelasnya.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum Bu?'' ucap Reno yang langsung masuk ke dalam kelasnya karena pintu kelas yang emang tidak di tutup, Reno menghampiri Bu Mery sang Guru.
"Waalaikum salam?!'' ucapnya sembari menyambut tangan Reno yang bersalaman (mencium tangan sang guru)
" Kemana saja kok baru dateng.'' tanya-nya sambil memberi lembaran soal ujiannya.
"Maaf Bu' tadi Reno masih ada di toilet jadi lama masuknya.'' ucap-nya yang terpaksa berbohong.
" Ya sudah cepat ke tempat duduknya dan kerjakan Soal-soal nya biar cepat selesai.'' ujar sang Guru
Reno mengangguk dan langsung menuju tempat duduk nya.
Reno melewati Sisil, Sisil yang lagu mengerjakan soal ujian nya hanya menatap sekilas ke arah Reno dengan tatapan benci.
"Awas saja lho entar Sil.'' gumam Reno yang masih kedengeran sama Sisil.
Lalu Reno berlalu begitu saja.
Di saat lagi mengerjakan soal-soal ujian nya, Reno teringat wajah Anastasya yang sedang menangis.
" Reno sudah selesai!'' tanya Bu Mery membuyarkan lamunan nya.
"Be-belum Bu' sedikit lagi.'' Ucap-nya.
" Cepat kerjakan, jangan ngelamun saja.'' ucap-nya tegas.
"Iya Bu. ''ucap-nya sembari menganggukkan kepala-nya.
Setelah beberapa menit kemudian bel pulang berbunyi.
Ting…Ting…Ting.
Semua siswa-siswi nya langsung mengumpulkan lembaran Soal-soal Ujian-nya, dan setelah mengumpulkan mereka semua langsung berhamburan keluar kelas setelah berpamitan pada Pak Hasan.
Di Jalan pulang Anas, Ani dan juga Mila bertemu dengan Fera, Sisil dan juga Naura.
__ADS_1
"Emang ada ya laki-laki yang mau sama si cebol inich! apakah dia juga bakalan punya suami, dan sapa juga yang bakalan mau sama dia sich gaess?!'' ujar Fera sambil memegang dagunya yang pura-pura berfikir.
" Ya nggak bakalan ada lah Fera? secara dia kan cebol mana ada laki-laki yang mau sama dia", kata Sisil
"Kalau ada…? Paling-paling dapet nya pakek dukun.'' celetuk Naura yang di susul tawaan dari temennya.
Anastasya hanya bisa mengusap dadanya sambil bergumam.
" Sabar-sabar, ini ujian buat mengangkat derajatmu Anas?'' gumam nya yang tidak terdengar oleh mereka.
" Ech...lho lagi? lho lagi? ayo Anas kita pulang.'' ucap Zein menarik tangan Anastasya.
"Kalau githu Anas duluan ya Ani, Mila?" ucapnya sambil mengikuti langkah Zein.
" Iya hati-hati di jalan.'' ucap Mila dan Ani ber barengan
Anastasya mengangguk dan terus berjalan, sesampainya di parkiran sepeda, Zein langsung mengambil sepeda-nya.
Setelahnya menyuruh Anastasya naik ke sepeda-nya Zein langsung mengayuh sepeda ontel nya sampai ke rumah Anastasya.
Setelah mengantar Anas, Zein langsung berpamitan pada Anas.
"Gue langsung balik ya An.'' pamit nya
" Iya, makasih ya Zein.'' ucap Anastasya tersenyum.
" Iya sama-sama? kamu masuk gich.''
Anastasya mengangguk dan Zein pun langsung mengayuh sepeda-nya lagi menuju ke rumah-nya.
👉👉👉
jangan lupa dukung Al-mayra kk.
dan jangan lupa like, komen dan votenya
__ADS_1
makasih🙏🙏