
Dengan nada panik dan rasa khawatir Mas Erlan bertanya, ''Kamu kenapa sayang, ada yang sakit, atau kita ke rumah sakit saja sekarang,'' tanyanya beruntun.
Aku tersenyum dan meraih tangan Mas Erlan, ku tepuk perlahan seraya berkata, ''Putri nggak apa apa Mas, Putri hanya pusing saja, jadi nggak usah ke rumah sakit ya,'' jawabku mengerjapkan mata, ku tatap wajah Mas Erlan yang masih sangat khawatir padaku, aku sendiri merasa senang di perhatikan kayak sekarang ini.
''Sayang...? adek nggak boleh nakal di dalam sini ya, Bunda mau sholat subuh dulu, jadi adek yang nurut ya nak,'' Ucap Erlan mengelus perut rata ku.
Aku tersenyum melihat Mas Erlan ngomong di depan perutku, layaknya sedang ngobrol dengan baby nya.
''Ayo Mas kita sholat,aku sudah nggak apa apa kok,'' ajakku pada Mas Erlan.
''Beneran sudah nggak pusing lagi,'' tanyanya memastikan.
Aku mengangguk, ''Iya Mas? sejak kapan sich suamiku ini nggak percaya sama Putri,'' ledek ku yang membuat Mas Erlan mulai tersenyum, kekhawatiran yang tadi sempat terselip di diri Mas Erlan mulai hilang, Mas Erlan menggendong ku dan membawa ku ke kamar mandi.
''Mas...? Putri bisa sendiri,'' rengek ku pada Mas Erlan suamiku, namun dia tak menghiraukan ucapan ku, Mas Erlan menurunkan aku ketika sudah berada di dalam kamar mandi.
Dengan segera aku mengambil wudhu, agar Mas Erlan tak terlalu lama menungguku untuk menunaikan sholat subuh berjamaah.
Aku memakai mukenah ku sebelum menghampiri Mas Erlan yang sudah siap di atas sajadah yang sudah sedari tadi ia gelar.
''Sayang? kalau masih terasa pusing, lebih baik kamu sholat duduk saja,'' Ucapnya begitu lembut, sama seperti dulu waktu pertama bersatu.
''Insya Allah Putri bisa kok Mas, Mas tenang saja, ya sudah ayo mulai sholat nya, keburu fajar terbit,'' sahut ku mengingat kan Mas Erlan sebagai imamku.
Mas Erlan mengangguk dan langsung memulai sholat Subuh, seperti biasa aku selalu mencium tangan Mas Erlan ketika selesai sholat, dan Mas Erlan pun sebaliknya selalu mencium kening ku sembari membacakan doa untuk keselamatan ku. setelah itu di lanjut dengan wiritan dan tawassul pada leluhur leluhur kami yang sudah wafat.
__ADS_1
Aku sengaja mengambil Al-Qur'an dan membaca Surah Yusuf dan juga Surah Maryam, sengaja aku khusus kan pada si jabang bayi yang ada di perutku.
''Mas siap siap dulu ya sayang?'' pamit Mas Erlan seraya mencium kening ku mesra. Aku hanya mengangguk pelan dan melanjutkan ngajiku yang belum selesai.
Dan ketika aku selesai dengan ngaji ku, dengan segera aku menuju ke dapur, di dapur aku sedang menyiapkan bumbu bumbu yang akan aku pakai, tapi ketika mengiris bawang merah perutku terasa sangat mual yang membuat ku ingin sekali muntah, aku berlari ke kamar mandi yang berada di samping dapur dan memuntahkan cairan bening.
Hueekk...Hueeekkk.
Badanku sudah terasa lemah sekali, akupun menyandarkan punggung ku ke tembok, Mas Erlan berlari dari kamar dengan kekhawatiran nya.
''Sayang kamu nggak apa apa kan?'' tanyanya sedih.
Aku tersenyum, ''Putri nggak apa apa kok Mas, jangan khawatir kayak gitu Ok, ini emang sudah kodrat seorang wanita,'' sahut ku mengelus punggungnya.
''Apa yang menyebabkan kamu muntah,'' tanya Mas Erlan masih tetap khawatir.
Di saat aku melewati irisan bawang perutku terasa mual lagi, aku melepaskan rangkulan Mas Erlan, sambil menutup mulut aku berlari kembali ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening, karena perutku juga masih kosong hanya air putih saja tadi yang sempat aku minum ketika mau keluar dari kamar.
Mas Erlan menghampiri ku lagi, dia memijat tengkuk ku dengan lembut seraya berkata, ''Kita ke dokter saja ya sayang,''
'''Mas? nggak usah, mungkin saja anak kita nggak suka bau bawang makanya perutku jadi mual kayak gini,'' jawabku pelan.
Mas Erlan kemudian keluar dari kamar mandi, aku hanya menyandarkan bahuku ke tembok. Aku lihat Mas Erlan masuk lagi dan menghampiri ku yang terduduk lemas di lantai kamar mandi.
Mas Erlan menggendong dan membawa ku ke kamar, aku melihat bawang yang tadi aku iris sudah tak ada lagi di tempat nya, ternyata Mas Erlan keluar hanya untuk membuang bawang tersebut.
__ADS_1
Dengan sangat hati hati Mas Erlan menaruh ku di kasur, sambil menyelimuti ku dia berkata, ''Sayang? Mas khawatir mau ninggalin kamu sendirian di rumah,''
''Putri nggak apa apa kok Mas, Mas Erlan berangkat kerja saja,'' sahut ku tersenyum agar Mas Erlan pergi dengan tenang.
''Maaf ya Mas, Putri nggak bisa melayani Mas Erlan, Putri nggak bisa masak lagi,'' Ucap ku sedih.
Mas Erlan memelukku, mencium kening ku dan kemudian mencium perutku yang masih rata. ''Nggak apa apa kok sayang, Mas bisa memesan gofood, kamu mau makan apa sekarang,'' tanyanya padaku mengelus punggung ku lembut.
Aku menggeleng pelan, hari ini aku tak ada nafsu untuk makan, rasanya ingin muntah ketika mendengar kata makanan.
''Bagaimana kalau Mas ambil cuti saja sekarang, Mas masih khawatir sama kamu sayang?'' Ucapnya lagi.
''Mas kerja saja, sebentar lagi Bu Widya dan kak Sandra bakalan ke sini, Mas nggak usah khawatir lagi ya,'' sahut ku.
''Kalau soal makan, entar di jalan Putri bakalan beli sendiri kok, kalau sekarang Putri lagi males mau makan,'' akupun tersenyum melihat wajah Mas Erlan pagi ini.
Akhirnya Mas Erlan berangkat kerja juga, setelah capek membujuk nya dari tadi.
Aku berpesan pada Mas Erlan agar tak mengunci pintu depan, karena Bu Widya dan Sandra bakalan datang guna menjemputnya.
Jam 8:30 aku sudah bersiap siap dengan barang bawaan ku, yang sudah aku persiapkan dari semalam untuk anak-anak di Yayasan. Tak lupa juga aku memasukkan amplop yang sudah di isi bersama Zein dan juga kak Rini tadi malam.
Aku melakukan semua ini hanya semata-mata berucap syukur atas segala nikmat yang sudah Allah kasih selama ini padaku, bukannya aku ingin pamer ataupun ingin di puji seseorang, karena aku selalu menyempatkan untuk selalu bersedekah pada orang yang membutuhkan, itu semua hanya semata-mata karena nikmat Tuhan yang sudah aku dapatkan.
Sebenarnya permintaan ku tidak muluk-muluk, aku menginginkan suami yang perhatian, Allah kasih. Aku ingin sukses, Allah juga kasih dan sekarang beliau memberi kado yang terindah dalam hidup kami berdua yakni kehadiran si jabang bayi, yang masih berada di dalam perutku.
__ADS_1
-------
Tuhan memang akan selalu mengabulkan semua do'a do'a orang yang mau bermunajat padanya, bersujud dan menangislah ketika kita masih bisa menangis di hadapan nya.