
Tanpa terasa Adzan subuh mulai berkumandang.
Anastasya yang baru saja terpejam, harus membuka matanya kembali ketika mendengar suara adzan subuh. ia bangun dan mengucek kedua matanya yang terasa pekak karena kurang tidur.
Karena Erlan mengajak ngobrol Anastasya hingga jam 3 dini hari.
Dan sebelum ia turun dari tempat tidur,
Anastasya meregangkan ototnya yang terasa kaku, diapun bergegas menuju kamar mandi yang terletak di sebelah dapur, Bu Yuni yang sudah ada di dapur menyapa sang Putri yang begitu lemas, ''Baru bangun?'' tanya Bu Yuni yang di angguki oleh Anastasya, dia terus melangkah tanpa melihat sang Ibu.
Bu Yuni hanya mendesah karena melihat Putri nya lagi galau, bakalan di tinggal pergi sang tunangan.
Beberapa menit kemudian Anastasya keluar dari kamar mandi, dia melewati Bu Yuni begitu saja tanpa menoleh atau pun sekedar basa basi seperti kemarin.
Anastasya memasuki kamarnya untuk mengambil mukenah nya dan bergegas pergi ke musholla yang ada di dekat rumahnya.
Dia harus pura-pura tersenyum di saat ada orang yang menyapanya di dalam musholla.
Anastasya beserta jama'ah lainnya mulai menunaikan ibadah sholat subuhnya ketika sang Imam sudah berdiri di depan para jama'ah nya.
Selesai sholat subuh sang Imam memimpin wiridan dan di tutup dengan do'a.
Anastasya melipat mukenah nya dan beranjak untuk keluar dari musholla, namun di depan pintu musholla ada yang menarik tangan Anastasya, Anastasya kaget ketika tangannya di tarik teman masa kecilnya, ya yang menarik tangan Anastasya adalah Zein teman masa kecilnya.
Zein mendudukkan Anastasya di teras musholla, rasa canggung menyelimuti pertemanan keduanya, karena baik Zein dan Anastasya mereka tak saling bertemu selepas kelulusan kemarin.
''An?''
''Zein.'' Ucap keduanya bersamaan.
''Kamu dulu An.'' Ucap Zein menyuruh Anastasya duluan ngomong.
''Nggak ach! kamu kan cowok harusnya kamu yang duluan.'' sahut Anastasya tak mau dan berpaling muka dari Zein.
''Kok gitu sich kamu sekarang sama aku An? tau nggak aku thu kangen banget sama kamu, lagian kamu juga sich tak mau memberi tau nomer ponselnya?!'' Ujar Zein mengeluarkan unek-unek nya.
__ADS_1
''Kita sudah dewasa Zein, kita sudah punya kehidupan masing-masing, kamu juga sudah punya pacar, iya kan... ?'' jawab Anastasya dan tersenyum pada teman sekaligus sahabat masa kecilnya.
''Aku belom punya pacar kok, dan tidak sempat juga untuk mencarinya di sana, aku kan di sana hanya mengejar impianku saja.'' celetuk Zein yang menaruh tangan di dadanya.
Anastasya tersenyum pada Zein, sebenarnya Zein kangen dengan senyuman Anastasya yang begitu manis ketika di pandang dari dekat.
Mungkin dulu senyuman dia palsu, tapi tidak saat ini, senyuman yang sekarang adalah senyuman kebahagiaan yang selalu jadi impian Anastasya.
''Oia, kamu mau ngomong apa tadi, kan aku sudah ngomong duluan.'' tanya Zein memandang wajah teduh Anastasya. sedangkan yang di pandang hanya bisa melihat ke sembarang arah.
''Aku dan Erlan sudah tunangan Zein?'' Ucap Anastasya menundukkan kepalanya.
Zein membulat kan matanya karena terkejut akan perkataan dari Anastasya teman kecilnya.
''Kamu bahagia bersama Erlan?!'' tanya Zein yang terus memandang wajah Anastasya, Anastasya mengangguk. membuat Zein tersenyum bahagia karena teman masa kecilnya yang selalu di bully akhirnya mendapatkan kebahagiaan juga, Zein ikut senang ketika sang Ibu bilang kalau Anastasya di lamar orang, namun Zein ingin mendengar sendiri dari temannya.
''Aku turut senang mendengar nya An.'' Ucap Zein mencubit kedua pipi chubby Anastasya.
''Auw... ! sakit tau Zein, kebiasaan banget sich lho, rese' lho nggak ilang ilang dari dulu?'' mengusap pipinya yang terasa panas akibat cubitan Zein.
Zein hanya nyengir kuda melihat Anastasya mengomeli dirinya.
Anastasya mengibaskan tangannya di depan muka Zein, '' Jangan mimpi di pagi hari, woyy bangun.... ! Ucap Anastasya cengengesan.
''Udah ach pulang yuck, matahari mulai muncul nich? entar di kira kemana lagi sama babang kyu.'' ucapnya lagi yang langsung mendapatkan sentilan dari Zein.
''Kebiasaan buruk nie orang masih ada rupanya, malah semakin tambah jailnya.'' kata Anastasya beranjak pergi meninggalkan Zein sendirian di musholla.
Zein yang di tinggal pergi menyusul Anastasya yang sudah mulai menjauh. Zein berlari mengejar Anastasya dengan nafas tersengal sengalnya.
''Kamu cewek? tapi jalannya cepat banget kayak punya sayap saja.'' gumam Zein yang masih di dengar Anastasya.
Anastasya menepuk bahu Zein dan berkata. ''Sudahlah Zein kamu pulang saja ya! aku ada urusan sama Erlan.'' Ujar Anastasya yang sukses bikin Zein cemberut, dan tanpa ia sadari Anastasya sudah mengusir nya secara halus.
''Tega kamu Anas?'' pura-pura sedih namun Anastasya malah tersenyum, dan berlalu menuju ke rumahnya.
__ADS_1
Setibanya di rumah Anastasya sudah di tunggu Bu Yuni di ruang tamu.
''Ndok, dari mana kok sampai terang gini.'' tanya Bu Yuni memandang sang Putri.
Anastasya menghentikan langkahnya menoleh ke arah sang Ibu.
''Tadi waktu Anas mau pulang, malah bertemu Zein di musholla Bu? jadi kita keasyikan ngobrol di sana.'' Ucap Anastasya menjelaskan.
Bu Yuni mengangguk, ''Sudah pulang kah Zein nya.'' tanyanya lagi ketika Anastasya mulai melangkahkan kakinya.
''Dia hanya liburan saja di sini Bu?'' sahut Anastasya melangkah pergi.
Bu Yuni hanya menggeleng dengan sikap dingin sang Putri sekarang ini.
Anastasya bergegas pergi ke kamarnya dan langsung meraih ponselnya, Anastasya terkejut ketika melihat layar di ponsel yang terdapat puluhan panggilan.
''Thu kan benar? kak Erlan nelfon Anas, apa dia sudah berangkat sekarang.'' gumamnya terus melihat ke layar ponsel nya, menunggu Erlan menghubungi nya lagi.
3 Menit berlalu namun ponselnya tidak berdering. Anastasya mulai frustasi dengan ponselnya, ponsel yang ia pegang dibanting diatas kasurnya, dia pun mengacak acak rambut nya yang kebetulan ia belum sisir.
Ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya, menuju ke ruang tamu di mana televisi nya berada, sedangkan Bu Yuni sudah berangkat ke sawah menyusul sang suami yang sudah berangkat lebih dulu.
Anastasya menyalakan televisinya, dia tidak fokus dengan satu chanel, remot TV yang ia pegang terus menerus ia pencet, sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya lagi, guna melihat ponselnya, apakah sang pangeran pujaan hatinya sudah menghubunginya lagi atau belum.
Dia terus memegang ponselnya, membolak balikkan ponselnya berharap sang tunangan menghubungi nya lagi.
Dan ketika ponsel nya berdering Anastasya buru buru menerima panggilan tersebut, karena yang menelvonnya adalah Erlan sang tunangan.
Anastasya tersenyum ketika di layar menampilkan wajah sang tunangan.
''Padahal cuma sekarang nggak ketemunya, kok aku jadi kangen gini ya.'' lirihnya yang tak di dengar Erlan.
👉👉👉👉
makasih kk yang selalu dukung karya receh Al-mahyra.
__ADS_1
Dan jangan lupa like, komen,vote dan hadiahnya kakak.
Makasih🙏🙏🙏