
Jam 9 pagi keluarga Erlan sudah siap siap untuk mengantarkan kepergian putra bungsu nya, ke Bandara internasional Syamsudin Noor
Erlan menggeret kopernya keluar kamar, dia melewati semua keluarga nya yang duduk di ruang tamu.
Erlan duduk di teras rumahnya sambil memandangi layar ponsel nya.
Erlan memutuskan mengirim chat pada gadis kecil nya.
Ting...suara notif pesan di ponsel Putri.
π©- Sayang? kakak berangkat sekarang ya, jaga diri baik baik dan jaga kesehatan juga, kakak akan selalu sayang dan rindu pada gadis kecil kakak.
Isi pesan chat Erlan, Putri mulai berkaca kaca membaca chat dari kekasih halalnya.
Putri membalas pesan Erlan sambil menitikkan air matanya yang sudah tak terbendung lagi.
π©- Kak Erlan juga jaga kesehatan nya, jangan sampai sakit disana Oke?
Putri juga sayang kak Erlan, dan akan sangat merindukan kak Erlanπππ.
Erlan membaca isi pesan gadisnya sembari tersenyum, dia tau kalau gadis nya tak pernah menuntut apapun dari dia selama ini.
''Ayo berangkat sekarang?'' Ujar Kevin pada Adiknya.
Kevin membawakan koper Erlan, di taruhnya di bagasi mobil, Erlan dan juga keluarga nya sudah memasuki mobil mereka, untuk mengantar Erlan ke Bandara.
Sedangkan di Bandara sudah ada Agus gembul yang menunggu Erlan dari tadi, Agus beberapa kali menggerutu karena Erlan belum juga datang.
''Awas saja kalau belum datang, gue tinggal beneran lho Erlan.'' Desis Agus gembul mengacak-acak rambut rapinya.
''Agus! kenapa lho frustasi githu?'' tanya Pak kepala sekolah nya.
''Ini Pak? Erlan belum juga menampakkan diri di Bandara ini.'' Ujar Agus pada Pak kepsek yang akan ikut mengantarkan muridnya ke Australia.
''Erlan sudah di depan kok, mungkin dia masih kangen kangenan sama keluarga nya.'' Timpal Pak kepsek.
Tak lama setelah Pak kepsek dan Agus berkata, Erlan datang menghampiri keduanya.
''Apa Erlan telat datang nya?'' Tanya Erlan pada keduanya.
''Nggak telat kok, sebentar lagi Lan.'' Ucap Pak kepsek.
Erlan mengangguk dan mendudukkan diri di kursi kosong di depannya.
Β
__ADS_1
Di tempat lain Dewi dan juga Wulan melihat Putri sedang menangis di taman belakang sekolahnya.
Dewi dan Wulan saling pandang sebelum mereka berdua menghampiri Putri yang lagi duduk sendirian.
Wulan melangkah menghampiri Putri dan bertanya. ''Kamu kenapa Put, kok nangis seperti ini.'' mengelus pundak Putri sahabatnya.
Putri tak menjawab, namun dia langsung memeluk Wulan dengan terus menangis.
Wulan melepaskan pelukannya dan bertanya lagi pada sahabat kecilnya.
''Kamu kenapa menangis seperti ini sich Putri? ada apa sebenarnya?'' tanya Wulan mengguncang tubuh sahabatnya karena tak mau menjawab.
''Jawab aku Put?!'' Ucap Wulan lagi yang sudah mulai kesal dengan sikap Putri sang sahabat.
Dewi menghampiri Wulan dan juga Putri dengan sebotol air di tangannya.
''Nich minum dulu, setelah itu kamu jelasin pada kita kita, kenapa kamu menangis?'' Ujar Dewi memberikan minuman pada Putri.
Putri mengambil minuman pemberian Dewi, dan langsung meminumnya hingga tandas.
''Haus Bu?'' celetuk Dewi yang melihat botolnya sudah kosong.
Putri tersenyum pada keduanya, Putri menghela nafas panjang nya, dan menghembuskan dengan kasar.
Wulan dan juga Dewi mengerutkan keningnya, dan saling pandang sejenak. Wulan menggeleng saat di tanya oleh Dewi dengan bahasa isyarat.
''Maksud kamu sendirian gimana sich Putri, jangan bikin aku penasaran kenapa?'' Tanya Dewi merapatkan duduknya.
''Dia pergi Lan, dia sudah pergi sekarang.'' jawab Putri, yang membuat keduanya makin bingung dan pusing di buatnya.
''Jangan main teka teki kayak gini ach! nggak lucu tau nggak?'' ucap Wulan kesal.
Putri mengerutkan keningnya, mendengar Wulan bilang teka teki.
''Siapa yang main teka teki sich shay? ini beneran tau, sumpah nggak bohong.'' Ucap Putri cemberut.
''Lha terus yang kamu maksud btadi tu apa, aku bukan paranormal yang bisa tau dengan kode kode mbek kayak githu.'' Seru Dewi karena sudah tak sabar lagi mendengar semuanya dari sahabat nya.
Putri memberikan ponsel nya pada Wulan dan Dewi.
Dewi yang penasaran langsung mengambil ponsel tersebut, dia mulai membuka ponsel Putri dan membaca setiap chat dari Erlan.
Dewi manggut-manggut mengerti yang di tangisi Putri tadi.
''Jadi gara-gara ini kamu menangis, cengeng banget sich lho Put, gitu saja nangis?'' Ujar Dewi pada Putri.
__ADS_1
''Tapi kan kangen Wi?'' sahut Putri menjawab ucapan Dewi.
Wulan yang penasaran langsung merampas ponsel Putri yang lagi di pegang Dewi.
''Apaan sich lho Lan, main rampas rampas kayak githu.'' Ucap Dewi kesal.
''Lha gue penasaran, lho juga nggak nggak ngasih tau ke gue, penyebab Putri menangis.'' sahut Wulan tak kalah kesalnya.
''Yee? biasa saja kali Lan, nggak usah pakek otot, gue kan masih ngomong sama Putri.'' Ucap Dewi, namun Wulan tak menghiraukan ucapan Dewi yang di peruntukkan pada dirinya.
Wulan hanya menjulurkan lidahnya pada Dewi, dan membuka chat dari Erlan.
Beberapa detik kemudian Wulan mulai berceloteh lagi.
''Jadi hanya karena Erlan terbang ke Australia, lho nangis sampai sesenggukan githu?!'' Ucap Wulan pada Putri, Putri hanya mengangguk pelan.
''Harusnya kamu senang, punya tunangan hebat kayak Erlan, dia terbang ke Australia bukan nyari cewek lho, kamu sudah baca kan chat terakhir Erlan.'' tutur Wulan. Putri mengangguk lagi.
''Putri sudah baca kok semuanya.'' sahut Putri menunduk.
''Terus kenapa masih menangis? buang buang air mata saja kamu nich Putri.'' tukas Wulan lagi.
''Ya sudah jangan ngomel-ngomel terus, sudah Bel tuh, ayo cepetan masuk kelas, sekarang Guru killer yang ngajar di kelas kita.'' celetuk Dewi, yang di angguki keduanya.
mereka bertiga berjalan di lorong kelas kelas, sebelum sampai ke kelasnya sendiri.
''Untung Guru killer nya belum masuk, kalau sudah Beee? bisa kena hukuman kita.'' Ucap Wulan dengan gaya lebaynya.
''Dari mana saja kalian, di cari di mana mana nggak ada.'' Tanya Davin pada Wulan, Dewi dan juga Putri.
''Kita nge-mall dulu, lagian kamu juga nggak mau di ajak, ya cuma bertiga saja perginya.'' Jawab Dewi ngasal.
''Kapan kalian ngajak aku Wi?'' tanya Davin lagi.
''Kita kita ada di halaman belakang sekolah kok Vin, mau saja lho di kibulin Dewi.'' Tukas Putri pada Kevin, yang merasa kasian melihat temannya di kibulin oleh sahabat nya Dewi.
''Dasar kamu Wi? untung ada orang yang kasian sama aku.'' celetuk Davin dan melototi Wulan dan juga Dewi.
''Melotot nya kok malah ke aku juga sich Vin, aku kan nggak ikutan ngibulin kamu, tuh Dewi!'' Ujar Wulan yang juga di pelototi oleh Davin.
ππππ
Makasih kakak yang sudah mampir.
Maaf kalau ceritanya membosankan yaπππ
__ADS_1