Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 114


__ADS_3

Aku mengambil ponsel yang berada di atas nakas, aku mengetik pesan yang akan di kirimkan pada Kak Sandra.


[Kak, kalau sudah sampai di rumah langsung masuk saja, pintu nya nggak di kunci kok, Putri tunggu di kamar] isi pesan yang aku pesan, akupun segera mengirimkan pada Kak Sandra.


Ting... bunyi ponsel Sandra yang berada di dalam tas selempang nya.


Sandra memgambil ponselnya dengan segera dia membaca pesan dari Putri.


[Oke, aku sudah di jalan kok, sebentar lagi bakalan sampai di rumah kamu, tapi kamu nggak apa apa kan] isi balasan pesan dari Sandra yang langsung di baca oleh Putri.


Dengan segera Putri membalasnya.


[Putri baik baik saja kok Kak, hanya sedikit pusing saja tadi]


Tepat jam 9 Bu Widya dan juga kak Sandra sampai di rumah, mereka berdua langsung membuka pintu rumah ku dan menghampiri ku di dalam kamar, sebenarnya aku agak terkejut ketika ada tangan yang tiba-tiba memegang tubuhku.


Aku membuka mata dan di samping ku ternyata sudah ada Bu Widya dan juga kak Sandra yang memegang kening ku.


''Putri nggak apa apa kok Bu? nggak sengaja Putri ketiduran setelah mengirim pesan pada kak Sandra tadi,'' jelas ku, lalu ku ambil tangan Bu Widya dan menciumnya.


''Kamu beneran nggak apa apa?'' tanya Bu Widya memastikan keadaan ku.


Aku mengangguk pelan, ''Kalau kamu masih pusing, kita ke sananya besok saja bagaimana,'' tutur Bu Widya padaku.


''Jangan Bu? Putri beneran sudah nggak apa apa kok, lagian semuanya sudah Putri siapkan dari semalam,'' Ucap ku menunjuk pada bungkusan besar di dekat pintu kamar.


''Apa ini nak?'' tanya Bu Widya heran karena bungkusan nya yang lumayan besar.


''Itu hanya beberapa snack kok Bu,'' ucap ku tersenyum.


''Segini banyak nya, kamu semua yang beli,'' tanya Bu Widya kaget.


''Ingat!! kamu ini sedang hamil, dan diumur kehamilan kamu sekarang sangat rentan akan terjadi nya hal hal yang tidak kita inginkan, ingat itu sayang?!'' Ucapnya lagi karena menghawatirkan aku.

__ADS_1


''Ibu tenang saja, ini semua emang ide Putri Bu, namun bukan Putri yang jalan sendiri ke swalayan untuk membeli semua ini Bu, tadi malam Mas Erlan dan Zein yang pergi ke swalayan, jadi Putri hanya mencatat apa saja yang harus di beli,'' jelas ku pada Bu Widya.


''Och...? kirain kamu sendiri yang beli ini semua,'' sahutnya mengelus punggung ku .


''Ayo kita berangkat sekarang, tapi sebelum menuju ke Yayasan kita mampir di rumah catering dulu, soalnya aku meminta kak Rini juga ikut dan membawa makanan kesana juga Bu,'' Gumamku pelan.


''Baiklah kita berangkat sekarang, biar Pak Idan yang mengambil bungkusan ini kesini,'' akupun mengangguk dan tak lama setelah aku keluar kamar Pak Idan sudah masuk dan mengambil barang yang aku bawa pergi, mungkin kak Sandra yang memberitahu pada Pak Idan.


30 menit kemudian kita bertiga sampai di tempat usaha catering ku, yang kini di tempati oleh kak Rini dan juga Zein sahabat dari kampung.


''Assalamu'alaikum,'' ucap ku pada kak Rini yang sedang sibuk mengemas makanan yang akan di bawa ke Yayasan.


''Waalaikum salam,'' jawab kak Rini berhenti dari kesibukan nya.


''Ayo masuk, Bu Widya dan mbak Sandra juga,'' ajak kak Rini pada ku dan pada Bu Widya dan juga kak Sandra.


''Biar Putri yang bikin kan minum, tunggu sebentar ya,'' ucap ku melangkah masuk ke dapur dan bertemu dengan Ibu Ibu yang sudah lama tak bertemu, setelah kepindahan ku ke rumah yang aku beli 6 bulan yang lalu.


''Waalaikum salam,'' jawabnya hampir bersamaan, dan mereka menoleh manatap wajahku yang kebetulan aku sedang memakai masker.


Aku mengerti, melihat Ibu Ibu pekerja bingung melihat ku yang memakai masker, aku langsung membuka masker yang aku pakai, lantas semua ibu Ibu pekerja pada menghambur menghampiri ku, akupun di peluk oleh semua Ibu Ibu pekerja di rumah catering.


''Sudah lama nak Putri tak pernah kesini lagi, namun sekali ke sini malah memakai masker sehingga kami tidak bisa mengenali wajah cantik nak Putri,'' Ucap salah satu Ibu yang biasa di panggil Ibu Kuat, karena Ibu Kuat bagian mengangkat barang yang lumayan berat juga, hihihihi. Sebenarnya namanya sendiri adalah Ibu Fian, karena termasuk Ibu Ibu yang sangat kuat jadilah di panggil Ibu kuat.


''Adek...?? mana minuman nya kok belum di bawa keluar sich,''tqnya kak Rini menghampiri ku di dapur.


...''Masya Allah, aku lupa kak'' ucap ku yang baru sadar kalau ke dapur untuk membuatkan minuman buat Bu Widya dan juga kak Sandra....


''Ke asikan ngobrol sampai lupa mau bikinin minum Bu Widya,'' sahut kak Rini mengelus tanganku.


''Ya sudah, biar saya saja yang bikin minuman buat Bu Widya dan mbak Sandra.


''Nak Rini, nak Putri sudah lama nggak kesini, dan sekali kesini malah memakai masker, bikin Ibu Ibu nggak mengenalinya lagi,'' tutur salah satu Ibu yang bekerja.

__ADS_1


''Ibu?? sekarang tuh adek sedang mengandung, jadi dia nggak suka sama bau bau dapur, termasuk yang di pegang Bu Inem sekarang itu, cepat bawa pergi Bu sebelum ada yang muntah,'' kata kak Rini memberitahu pada Bu Inem yang sedang memegang bawang merah.


Bu Inem segera pergi dan mencuci tangannya agar tidak bau bawang.


''Alhamdulillah, jadi nak Putri sekarang sedang hami?'' tanya Bu Inem menghampiri ku.


''Iya Bu, Alhamdulillah sudah di beri kepercayaan oleh Allah untuk menimang buah hati,'' sahut ku santai seraya tersenyum manis.


''Selamat ya nak Putri,'' Ucap Ibu Ibu semua nya yang hampir bersama'an.


''Iya Bu? makasih banyak,'' jawabku tersenyum.


''Sayang...? masih lama nggak bikin minumnya,'' tanya Bu Widya lembut yang langsung menghampiri Putri ke dapur karena sudah lama juga nungguin nya.


''Iya Bu, ini sudah selesai kok,'' jawab Kak Rini sembari memberikan minuman pada Bu Widya.


''Makasih nak Rini,''


''Sama-sama Bu,'' jawab Kak Rini pada Bu Widya.


''Dek, semuanya sudah selesai, masukin sekarang apa nunggu entar sich,'' tanya Rini menunjukkan kardus kardus yang berisikan nasi.


''Langsung masukin ke mobil saja lah Kak, Pak Qosim ada kan Bu,'' ucapku dan bertanya pada Bu Qosim.


''Ada di depan kok nak Putri, biar Ibu panggilkan Bapak dulu,'' Ucapnya.


''Sudah Bu, biar Putri saja yang manggil Pak Qosim di depan,'' cegah ku saat Bu Qosim ingin beranjak dari duduk nya.


____-----____


mau tau lanjutan nya, yuk pantengin terus cerita nya.


Jangan lupa baca juga ''SAHABAT JADI CINTA'' semoga suka.

__ADS_1


__ADS_2