Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 115


__ADS_3

Akupun menuju teras rumah dan melihat Pak Qosim yang sedang minum kopi sambil mengobrol dengan Pak Parman di pos satpam, ya Pak Parman adalah satpam di kompleks perumahan di mana usaha Catering ku berada sekarang.


''Assalamu'alaikum Pak,'' ucapku saat sudah berada di dekat nya.


''Waalaikum salam,'' jawab Pak Qosim dan juga Pak Parman.


''Ech ada neng Putri?'' Ucap Pak Parman menyapaku.


''Iya Pak, Putri ganggu nggak nich,'' tanyaku sambil mencium tangan keduanya sebagai rasa sopan santun ku pada Pak Qosim dan juga Pak Parman.


''Nggak ganggu kok neng, kita cuma ngobrol sekalian ngopi,'' sahut Pak Qosim.


''Ada apa neng, Bapak bisa bantu sekarang kok?'' Ucapnya lagi beranjak dari duduk nya.


''Habiskan dulu kopinya Pak, Putri nggak buru buru kok, Putri cuma mau minta tolong buat mindahin kardus kardus nasi kotak yang berada di dapur,'' sahut Putri lembut merasa tak enak hati pada Pak Qosim.


''Baik neng, Bapak akan pindahin sekarang, mau di taruh mobil Catering atau mobil Bu Widya,'' tanya Pak Qosim.


''Pakek mobil Catering saja Pak, soalnya di mobil Bu Widya sudah penuh dengan snack yang Putri bawa dari rumah,'' jelasku pada pada Pak Qosim.


''Biar saya ikut bantu juga neng,'' kata Pak Parman menawarkan diri untuk membantu Pak Qosim.


''Makasih ya Pak sudah mau membantu Putri,'' jawabku sopan.


Pak Qosim dan juga Pak Parman beranjak dari tempat nya menuju ke dapur guna mengangkat kardus kardus yang berisikan nasi kotak.


Tiba di dapur Putri memakai masker nya kembali, karena nggak lucu juga sampai muntah muntah di depan banyak orang.


''Adek jangan nakal ya, kita akan pergi ke tempat saudara kita yang kurang beruntung,'' Gumam ku mengelus elus perut.

__ADS_1


''Neng Putri nggak usah ikutan ngangkat kardus kardus ini, biar Bapak saja yang mengangkat semua ini,'' cegah Pak Qosim saat aku mau mengangkat satu kardus, 'Padahal kan nggak berat juga,' batinku.


Aku hanya mengangguk, menuruti perkataan Pak Qosim yang sedang membawa kardus kardus ke depan dan langsung di masukkan ke dalam mobil, yang sengaja aku beli dulu sebelum membeli rumah, karena mobil tersebut untuk mengantarkan semua Catering Catering ku ke tempat orang yang pesan makanan.


Sengaja aku tak membawa mobil tersebut, karena untuk mempermudah Pak Qosim mengantar semua pesanan yang silih berganti, kasian juga dulu sebelum aku sukses Pak Qosim bolak balik mengantarkan semua pesanan orang orang yang kebetulan memesan di rumah Catering ku ini.


Aku tersenyum melihat wajah Pak Qosim dan juga wajah Pak Parman yang sudah setengah tua, mereka berdua tak mempedulikan usia tuanya, yang orang bilang usia tua untuk menikmati hidup dengan duduk santai di rumah, mereka berdua sangat antusias dalam bekerja, Pak Parman yang notabene nya sebagai satpam, dia selalu membantu pekerjaan di rumah Catering di kala sedang santai.


Aku tak memejamkan mata untuk semua yang di kerjakan Pak Parman, aku selalu memberi upah walaupun Pak Parman tak pernah mau dengan yang aku kasih.


Alasan nya hanya membantu di saat waktu nya sedang senggang.


Aku selalu mewanti wanti pada Kak Rini untuk selalu memberi uang untuk Pak Sarman, di kala beliau membantu pekerjaan di rumah Catering nya.


''Sudah selesai neng, apa langsung berangkat ke sana,'' tanya Pak Qosim tiba-tiba, yang membuyarkan lamunan ku.


''Baiklah neng, tempat biasanya itu kan neng?'' tanya Pak Qosim, aku mengangguk pelan, ''Iya Pak seperti biasanya,'' Gumam ku sembari tersenyum.


''Neng Putri selalu menyempatkan untuk pergi ke sana,'' kata Pak Sarman pada Pak Qosim.


''Iya Pak, neng Putri tak pernah absen untuk pergi ke sana,'' jawab Pak Qosim yang di angguki oleh Pak Sarman.


''Alhamdulillah Pak, semakin kita gencar untuk berbagi ke sesama, semakin gencar juga rezeki yang Allah kasih pada kita,'' sambung ku sopan.


''Benar itu neng, kalau sekarang dalam rangka apa neng, kok tumben tumbenan Bu Widya ikutan juga, biasanya hanya di wakili neng Putri saja,'' tanya Pak Parman yang mulai penasaran.


''Syukuran saja Pak, karena Putri sudah di beri kepercayaan untuk menjadi seorang Ibu,'' tutur ku yang membuat Pak Parman terkejut sekaligus merasa senang.


''Alhamdulillah kalau gitu neng, kok Pak Qosim nggak woro woro tadi kalau neng Putri sedang hamil?'' tanya nya sembari menatap Pak Qosim yang hanya cuek bebek.

__ADS_1


''Pak Qosim, sudah selesai belum masukin barang barang nya,'' tanya Bu Widya yang mengagetkan aku karena sedang asik mengobrol dengan Pak Qosim dan juga Pak Parman.


''Och sudah selesai Bu, ini mau berangkat,'' jawab Pak Qosim menuju ke mobil yang akan di bawanya ke Yayasan sebentar lagi.


''Ibu sendiri, sudah selesai minum teh nya,'' tanya ku lembut.


''Sudah, ayo kita berangkat sekarang saja, takutnya kesiangan nantinya,'' ajak Bu Widya, akupun mengangguk dan mengikutinya dari belakang, setelah berpamitan dengan Ibu Ibu pekerja di rumah Catering Putri.


Beberapa menit kemudian, kami tiba di tempat yang kita tuju, Bu Widya, Kak Sandra, Kak Rini dan juga aku sendiri yang mulai keluar dari mobil yang kita semua tumpangi. Sedangkan Pak Qosim dan juga Pak Anang sopir Bu Widya menurunkan barang yang kita bawa tadi.


Kita berempat pun langsung menuju ke kantor Yayasan menemui Ibu pengurus di Yayasan Panti asuhan yang kita datangi.


Beberapa anak anak di Panti menghambur keluar menyambut kedatangan ku, sebelum aku sampai di ruangan Ibu pengurus.


''Hore....? Kak Putri datang,'' seru salah satu anak Panti yang sudah kenal banget denganku. Mereka semua mencium tangan ku dan tangan Bu Widya, Kak Rini dan juga Kak Sandra.


''Ibu pengurus ada di mana Adik?'' tanyaku lembut seraya mengelus puncak kepala nya.


''Tadi Ibu pengurus ada di ruangan nya Kak, mungkin sekarang masih sama di sana,'' Ucap anak laki-laki yang lebih besar, kira kira berusia 10 tahun.


''Kak Putri kok lama banget nggak main ke sini sich, cuma makanan dan juga snack yang datang ke sini, sedangkan orang nya nggak pernah nongol,'' Ujar anak perempuan kecil yang usianya masih 5 tahun.


''Maaf sayang? Kak Putri sibuk banget kemarin, ini saja Kak Putri mengambil cuti buat bertemu kalian semua nya,'' sahut ku pada gadis kecil tersebut.


''Sebenarnya, nggak papa juga sich Kak, walaupun Kak Putri nggak datang ke sini, asal Kak Putri sehat saja, aku sudah senang kok kak,'' Gumam nya.


Jangan lupa baca karya ku yang lainnya juga ya Kak, '''SAHABAT JADI CINTA'''.


Terima kasih😘💕

__ADS_1


__ADS_2