
Di rumah kediaman Putri dan juga Erlan, Putri sedang membuat keributan, karena menyuruh Erlan pergi mencari mangga di tengah malam ini, toko buah mana coba yang buka tengah malam gini, ada ada saja sich Putri ini. Sekarang malah mendapat predikat cewek begajulan, apa'an tuh cewek begajulan, ulah dedek bayi nya belum mau berhenti bikin ulah, walau hari sudah sangat larut.
''Sayang? besok saja ya cari buah mangga nya?'' bujuk Erlan pada Putri istri kecilnya, yang belakangan ini sangat berbeda sifatnya, berbanding terbalik dengan sifat Putri sebelum dia hamil, dia sangat sopan, anggun, dan juga ramah. Tapi sekarang dia sangat menyebalkan, berani dan suka nyuruh-nyuruh suaminya.
Ya walaupun Erlan melakukannya dengan sangat ikhlas, karena keadaan sang istri yang tak memungkinkan untuk saat ini.
Dengan terpaksa Erlan berangkat mengendarai mobil nya, karena sang bumil juga memaksa untuk ikut pergi mencari buah mangga.
Kalian tau nggak, di dalam kulkas masih ada stok mangga, namun Putri meminta dari toko buah bukan dari kulkas, aneh kan?.
''Sayang? kamu jangan nyiksa Ayah kayak gini ya, kamu masih ada di dalam perut Bunda sudah membuat Ayah sesusah ini, apalagi kalau kamu sudah lahir, apa kamu tidak merepotkan Ayah,'' Ujarnya mengelus pelan perut sang istri.
Putri hanya melotot menatap Erlan suaminya, karena ucapanya yang tanpa di saring, sudah mengejek tanpa di sengaja.
''Sudah, jangan banyak omong Mas? fokus ke depan saja,'' celetuk Putri cemberut.
Erlan terkekeh seraya berkata, ''Rupanya ada yang ngerasa nich ye?'' ejeknya lagi tanpa mengalihkan pandangan nya lurus ke depan, biarpun sudah larut begini namun masih ada kendaraan yang berlalu lalang, walaupun bisa di hitung, dengan hitungan tangan.
Sampai 1 jam mereka berkeliling kota Jakarta, walau hanya sebagian saja yang mereka lintasi, kalau di kelilingi semuanya butuh berapa jam tu shay? Jakarta lebar bestie??.
''Nggak ada toko buah buka jam segini sayang? buktinya kita sudah satu jam berkeliling, namun nihil kan??''
Putri mendesah kesal, saat mendengar perkataan Erlan suami tampan nya.
''Kamu makan mangga yang ada dulu saja ya sayang, di kulkas kan masih banyak tuh yang kemarin kita beli, terus tadi juga kamu bawa dari rumah Pak Daniel, iya kan?!''
__ADS_1
''Kalau gituu, kita berhenti di depan itu saja dech!'' tunjuk Putri pada gerobak yang menjual lalapan di pertigaan jalan.
''Lalapan?'' Putri mengangguk.
Erlan menghentikan tepat di samping gerobak, dan memungkinkan mobilnya di bahu jalan, ''Pak? lalapan 2 ya.'' pesan Putri menghampiri Bapak penjual.
''Makan di sini, apa di bawa pulang Neng?''
''Makan di sini saja Pak,'' sahutnua mendudukkan diri di kursi panjang, yang emang di sediakan buat para pengunjung.
''Mas?'' panggil Putri pada suaminya yang sedang mengobrol dengan teman kantornya.
''Iya sayang?'' jawab Erlan menoleh ke arah istri nya yang sedang ikutan mengorek ngorek penggorengan, tau sendiri lah dia kan emang nyebelin sejak dia hamil!.
''Siapa Lan?'' tanya temn kantor nya.
''Gila lho bro, ternyata dia istri lho!'' tanya Nino kaget sekaligus tidak percaya kalau ternyata yang ada di hadapan nya sekarang adalah istri Erlan, cowok cuek dan cool ini punya istri yang sang cantik, dan juga berpakaian muslimah tentunya.
''Kirain dia masih gadis, nggak taunya sudah punya suami toh, hampir saja gue embat thu cewek, tapi beneran kan dia istri lho, atau jangan jangan lho malah ngeprank gur lagi?!'' tanya beruntun Nino yang langsung mendapatkan jawaban singkat padat dan jelas.
''Istri ku, dan dia lagi hamil sekarang!'' jawabnya yang membuat Nino pasrah dengan ucapan yang di lontarkan teman kantor nya, yang mengatakan dia sedang hamil.
''Berarti lho sudah lama nikahnya, atau dia yang hamil duluan,'' kata Nino mulai berburuk sangka pada temannya.
''Nikahnya sich sudah lama, sudah 2 tahun bulan kemarin, tapi baru sekarang di kasih kepercayaan untuk di panggil Ayah dan juga Bunda,'- jawabnya santai.
__ADS_1
''Mas kamu mau makan juga nggak?'' pekik Putri karena sang suami tak kunjung menghampiri nya.
''Pesankan saja sayang?'' sahut Erlan dan pamit pada temannya. Ech ternyata dia juga mau makan di warung lalapan itu juga, tau githu kan ngobrol di sana kan enak, sekalian bisa duduk nggak berdiri kayak gini. Batin Erlan.
''Sayang, ini punya Mas ya,'' tanyanya dan dengan langsung mengambil nya dari hadapan sang istri.
''Enak saja, ini semua punya Putri, punya Mas masih di goreng tuh?'' tunjuk Putri pada penggorengan di depan.
''Astagfirullah sayang? emangnya habis pesan dua gini,'' Erlan menelan ludahnya sendiri melihat sang istri nafsu banget makannya, tapi dia juga merasa senang karena istri nya bisa makan dengan 2 porsi sekaligus.
''Ya habislah Mas, kan bukan cuma Putri saja yang makan Mas, tapi anak Mas Erlan juga,'' gerutu Putri sambil menyuap kan nasi beserta ayam nya, karena Putri tidak suka lele, jadi dia memilih lalapan ayam, berbeda dengan Erlan yang penyuka lele.
''Erlan, beneran ini istri kamu,'' tanya Nino lagi yang masih belum percaya sama Erlan.
''Kurang bukti apa coba No? Putri adalah istriku dan juga di dalam sini sudah ada calon anak kita, baru 3 bulan sich makanya tidak terlalu kentara.
''Ini gadis yang tadi mual muntah di kantor itu kan?'' sambung Fania rekan kerjanya juga yang baru datang ke warung lalapan Pak Tekno.
''Iya, dia itu istri Erlan, pantas saja Erlan tadi manggil sayang, saat dia muntah di toilet tadi siang?'' kata Nino pelan.
''Beneran Lan, dia istri lho?'' tanya Fania menunjuk Putri dengan dagunya.
''Iya dia istri kecilku?'' jawab Erlan tanpa merasa bersalah sama kedua rekan kerjanya.
''Kapan kalian meryd?'' tanya Fania lagi, sedangkan Putri jangan di tanya lagi, dia lagi asyik makan lalapan ayamnya tanpa menghiraukan kedua teman kantor Erlan suaminya.
__ADS_1
''Nikahnya sudah lama sich? sebelum aku kerja di kantor Aditama, aku sudah nikah,'' Ujarnya yang membuat kedua rekannya kaget melongo, kenapa tidak kaget sebelum dia kerja di kantor Aditama sudah meryd, tapi tak seorang pun yang tau kalau dia sudah punya istri, wah...! parah parah parah, parah banget si Erlan ngumpetin Identitas istri nya pada semua teman kantor nya, terutama Fania yang emang sempat punya perasaan sama Erlan, rekan kerjanya di satu ruangan.
BERSAMBUNG