
Acara 10 Muharram selesai jam 7 malam, karena acara yang di rencanakan pada awalnya mendadak di rubah oleh ketua fatayat, yang menambahkan kegiatan kegiatan di dalam fatayat itu sendiri, walau terasa lelah dan sangat capek,namun Putri masih semangat mengikuti semua rangkaian acara, janin yang ia kandung pun seakan tidak berontak di dalam perut, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, diba' dan masih banyak lagi lainnya membuat sang janin begitu tenang di dalam perut sangat bunda nya.
Putri mengelus pelan perut nya seraya menggumamkan sesuatu pada jabang bayinya yang sekarang ia kandung. Mas Erlan yang sudah pulang dari kantor nya pun langsung menghampiri istri nya di masjid yang tak terlalu jauh dari rumah-nya.
Sebelum menghampiri Putri di masjid, Mas Erlan terperangah kaget karena melihat Pak Aries yang sudah berdiri di dekat mobilnya sembari melipat kedua tangan ke dada nya.
''Sudah lama Pak? sapa Mas Erlan mencium punggung tangan Pak Aries.
''Sudah dari tadi Erlan?'' jawabnya menghembuskan nafas nya dengan kasar.
''Kok nggak langsung masuk saja Pak? pintunya nggak di kunci kok sama istri Erlan,'' kata nya yang langsung membuka pintu rumah-nya yang emang tidak di kunci karena Putri sendiri berada di masjid belum pulang.
''Istri kamu kemana Lan?'' tanya Pak Aries celingak celinguk mencari keberadaan Puteri angkatnya.
''Kayaknya Putri masih berada di masjid Pak, itu suaranya masih bersholawat di masjid dekat rumah,'' jawab nya menuju ke dapur dan menuangkan jus ke dalam gelas yang berada di dalam kulkasnya, lalu Erlan memberikan minuman tersebut pada Pak Aries yang duduk di ruang tamu.
''Berarti Bu Widya berada di masjid juga dong Erlan?'' tanya Pak Aries.
''Kemungkinan iya Pak, soalnya istri Erlan tadi cuma bilang ada acara di masjid gitu Pak?'' sahut nya dan pamit untuk ke kamar nya, guna membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat sepulang dari kantor.
Erlan keluar dari dalam kamar nya dengan memakai sarung dan baju koko, tak lupa juga ia memakai peci hitam nya.
__ADS_1
''Mau kemana Erlan?'' tanya Pak Aries yang melihat Erlan sudah rapi dengan baju koko nya.
''Erlan mau ke masjid Pak, Pak Aries mau ikut ke masjid?'' tanya balik Erlan pada Pak Aries.
''Ayo, Bapak juga mau ketemu sama istri Bapak yang sedari tadi jam 2 siang perginya,'' sahut Pak Aries dan beranjak dari duduknya, mengikuti Erlan pergi ke masjid.
Sesampainya di masjid, Erlan langsung menghampiri sang istri yang sedang duduk di teras masjid. ''Assalamu'alaikum,'' Erlan mengucapkan salam pada istri nya, Bu Widya dan juga kak Sandra yang kebetulan lagi duduk bareng.
''Waalaikum salam,'' jwab mereka hampir bersama'an.
''Papa ke sini juga,'' kata Bu Widya yang melihat suaminya di belakang Erlan.
''Maaf Pa, tadi siang Mama buru buru pergi nya, takut telat datang ke acara yang ndi adakan Ibu Ibu komplek di sini,'' jawab-nya, seraya mengulurkan tangan pada suami nya.
Pak Aries terus menatap ke arah Bu Widya yang begitu cantik, dengan balutan baju gamis yang berwarna wardah tersebut, ''Papa? Papa kok bengong sich, lagi ngelmunin apa'an Pa?'' tanya Bu Widya yang membuyarkan lamunan Pak Aries suaminya.
''Papa nggak ngelamun kok Ma, gimana acaranya sudah selesai belum,'' tanya Pak Aries lembut.
''Sebentar lagi Pa, maaf Pa? Mama tadi ambil uang yang di laci, karena buru buru,'' kata Bu Widya. Pak Aries emang sengaja menaruh uang pecahan 50'an dan juga 20'an di laci tempat tidur nya, hanya untuk sewaktu waktu butuh uang pecahan biru maupun hijau tinggal ngambil di laci kamar nya.
*-*-*-*-*-*
__ADS_1
Di perjalanan pulang Pak Aries tak henti hentinya memandang penampilan sang istri, walaupun masih memakai hijab dia masih terlihat anggun. Dalam hati Pak Aries bergumam, ''Ya Allah, bolehkah hamba egois pada diri istri hamba, hamba ingin sekali istri dan puteri hamba terus memakai hijab seperti sekarang ini, hati hamba terasa sejuk melihat keduanya dengan hijab beserta gamis yang ia pakai, namun hamba belum bisa membuat istri hamba memakai baju yang menutupi aurat-nya, karena hamba tidak mau ada keterpaksa'an pada diri istri dan juga puteri hamba ya Allah?''
''Papa? papa kok ngelamun terus sich, ada yang salah ya sama penampilan Mama,'' tanya Bu Widya pada Pak Aries, yang sedari tadi terus memandang nya.
''Nggak kok Mah? Papa senang lihat Mama seperti ini, dan Papa harap Mama bisa selalu tampil begini di setiap acara apapun,'' jawab Pak Aries dan tersenyum.
''Tapi Papa nggak mau maksa Mama kok untuk terus berpakaian seperti ini,'' lanjut Pak Aries.
Bu Widya tersenyum mendengar penuturan dari suaminya, ''Iya Mama ngerti kok Pa? do'ain saja yang terbaik buat Mama dan juga Sandra ya Pa, semoga mendapat kan hidayah dan segera menutup aurat untuk selamanya, bukan hanya mengikuti tren masa kini saja,'' Ujar Bu Widya yang meminta do'a dari suaminya.
Pak Aries tersenyum bahagia, seraya mencium kening sang istri, dan berbisik tepat di telinga Bu Widya, ''Terima kasih sayang?''
''Papa nggak usah berterima kasih kayak gitu, mungkin ini sudah saat nya Mama mengubah penampilan Mama, lihat saja puteri bungsu ku saja sudah segede ini, berarti Mama sudah tua ya Pa?'' tanya Bu Widya pada sang suami.
''Bagi Papa, Mamah masih cantik kok, dan terima kasih sudah menjadi seorang istri dan juga seorang Ibu yang hebat di mata Papa,'' kata Pak Aries merangkul Bu Widya lembut.
''Iya Pa? Mama juga mau minta maaf, karena dulu Mama selalu menghambur hamburkan uang Papa untuk hal-hal yang tidak berguna sama sekali,'' gumam Bu Widya dengan nada sedih, menyesal apa yang sudah ia lakukan dulu sebelum kenal dengan Putri, yang sekarang sudah menjadi anak angkat nya. Bu Widya mulai sadar akan apa yang di lakukan dulu adalah hal yang begitu tidak berguna sama sekali, dia hanya bisa tau menghabiskan uang suaminya untuk hal yang tak berguna sama sekali. Tapi sekarang dia begitu sadar, kalau uang yang selama ini ia hambur hamburkan tak bisa menunggu nya di mana kelak dia sudah tiada, sedangkan Putri selalu mengajarkan dalam hal kebaikan, yang mana uang tersebut bisa menjadi jembatan untuk menuju ke surga-nya Allah.
BERSAMBUNG
Semoga para readers semua menjadi penghuni surganya Allah, Amiin, Terima kasih 🙏🙏🙏😘😘😘💕💕
__ADS_1