
''Tolong catat kelakuan dia di kantor ini dari sekarang, jangan biarkan HRD mencatat yang baik baik untuk dia lagi mulai dari sekarang, kalian paham kan,'' Ucap Mas Erlan lantang dan di angguki oleh kedua temannya yang emang ikut bersamanya saat ini. Putri hanya bisa menarik nafas dan menghembuskan pelan.
Putri terus mengerjakan pekerjaan nya, agar cepat selesai dan cepat istirahat, karena dia sudah lelah memandang layar laptop yang ada di depannya.
''Sudah minum obat,'' tanya Mas Erlan tiba-tiba berdiri di samping ku, jangan di tanya lagi mbak Agnes dan kak Anjas menatap ku lekat, karena aku begitu dekat dengan Mas Erlan. 'Ya iyalah dekat sama Putri, secara Putri istri cantiknya Mas Erlan githu,'' batinku melirik ke arah mbak Agnes.
Anjas yang mendengar pertanyaan Mas Erlan pun bertanya, ''Putri, kamu sakit?'' tanyanya juga.
''Putri nggak sakit kok kak, cuma minum vitamin saja bukan obat apa,'' jawabku ngasal jeplak.
''Och, kirain beneran sakit, soalnya Pak Erlan bertanya kayak githu,'' tanya kak Anjas lagi, sedangkan Mas Erlan melototi ku karena aku berinteraksi dengan kak Anjas.
''Ya sudah lanjutkan kerjaan kalian, jangan sampai CEO kami melihat sendiri kinerja kamu yang nggak bagus itu, waktu kerja ya kerja, main ponsel juga ada waktunya, kalau hanya ingin main ponsel di rumah saja nggak usah datang ke kantor lagi,'' kata Mas Erlan dengan aura dingin nya.
Selesai mengatakan itu semua, Mas Erlan melangkah pergi, untuk mengecek semua para karyawan yang sedang leha leha saat jam kerja.
Setelah kepergian Mas Erlan, mbak Agnes menghampiri meja kerjaku dan langsung menggebrak meja kerja ku.
''Ech, jangan mentang-mentang lho dapat perhatian dari Pak Erlan, jadi kamu ngelunjak sama kita kita,'' ucap ketus mbak Agnes padaku.
Aku sendiri males meladeni mbak Agnes yang semakin hari semakin kecentilan sama suami ku, yakni Mas Erlan yang ia gadang gadang akan melamarnua di waktu dekat ini. Aku mengetuk dahi lalu mengetuk meja sambil mengumpat dalam hati, ''Ich, amit amit jangan sampai itu terjadi, kalau itu sampai terjadi bakalan minta pisah dech gue, ngapain di madu, cowok banyak bray,'' batinku mengelus perutku yang seperti nya gerak gerak ada cacing yang sedang meliuk liukkan badannya di perutku.
''Sabar sayang, Papa nggak githu kok orang nya,'' bisikku sambil terus mengelus perut rata ku.
Tepat jam 12 siang semua karyawan pada berhamburan menuju ke kantin yang berada di kantor, ada juga yang pergi ke cafe depan kantor. Aku sendiri masih menyelesaikan pekerjaan ku yang tinggal sedikit lagi.
__ADS_1
''Putri ayo ke kantin,'' ajak mbak Sisil.
''Mbak Sisil duluan saja ya, aku masih mau nyelesain ini dulu, tinggal beberapa lagi kok,'' sahut ku menatap mbak Sisil, ia pun mengangguk dan melangkah pergi, ''Oia Putri, nanti aku bawain kamu sekalian ya, seperti biasakan?'' tanya mbak Sisil saat sudah ada di dekat pintu.
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaan ku, tak sampai 1 menit pekerjaan ku sudah selesai, aku meregangkan otot-otot tanganku agar tidak kebas lagi. Aku menelungkupkan wajahku di meja kantor sejenak, sebelum aku mengeluarkan kotak bekal yang sengaja aku bawa dari rumah, namun di dalam kotak bekal bukan nya berisi nasi, namun berisi potongan buang mangga, buah apel dan juga bengkuang yang ia beli semalam.
''Enak banget sich,'' Gumamku.
''Enak ya,'' tanya seseorang dari depanku, suara yang begitu familiar sekali, aku mencoba mendongakkan kepala dan di kejutkan oleh Mas Erlan yang sudah berada tepat di depan ku, aku hanya nyengir kuda melihat suamiku yang memelototiku, karena sebenarnya aku tak boleh banyak banyak makan buah yang asem seperti mangga, namun aku sangat suka nie buah, sehingga aku menyelipkan kotak yang berisi irisan buah tersebut ke dalam tas kerja ku yang selalu aku bawa.
''Hehehe, Mas Erlan mau?'' tanyaku menyodorkan buah apel pada nya.
''Sayang kamu nakal sekali sekarang ini, Mas sudah bilang makan nasi dulu baru makan rujak nya,'' jawabnya mencubit hidung mancung ku.
''Ya sudah aku makan sendiri,'' Gumamku seraya menjulurkan lidah pada Mas Erlan.
''Siang Pak Erlan?'' sapa mbak Sisil dan kak Anjas yang hampir bersama'an.
''Siang juga,'' jawab Mas Erlan tanpa berpaling menatap ku.
''Lho Put, kamu kan belum makan nasi, kenapa malah makan rujak gini sich,'' tanya mbak Sisil yang sedikit terkejut melihat ku memakan rujak dengan perut kosong.
''Nanti perut kamu bisa sakit Putri?'' kata kak Anjas mengingatkan aku.
''Nggak apa apa, ini sudah jadi kebiasaan dia sekarang,'' sahut Mas Erlan dingin.
__ADS_1
''Nich makan dulu nasinya Putri,'' kta mbak Sisil menyodorkan kantong kresek di depanku.
Saat aku menerima kantong kresek dari mbak Sisil, mbak Agnes melewati ku dan juga yang lain, sekilas dia melirik ke arah ku.
Mas Erlan mengambil kantong yang berisi makanan dari tangan mbak Sisil, lalu kemudian Mas Erlan membukanya, di saat itulah perutku serasa di aduk aduk, aku menutup mulut ku dan beranjak dari tempat duduk ku, aku berlari ke kamar mandi yang ada di samping ruangan kerjaku. Mas Erlan juga beranjak dari kursi nya dan langsung mengejar ku ke kamar mandi.
''Sayang, jangan lari larian,'' Ucap Mas Erlan seraya mengejar ku.
Semua orang yang berada di ruangan itu pun terkejut mendengar ucapan Mas Erlan yang memanggilku sayang. Mbak Sisil mengikuti aku dan Mas Erlan.
''Huekk... Hueekk...''
Mas Erlan memijat tengkuk ku dengan sangat pelan, seraya berkata, ''Sayang? kamu nggak apa apa kan,'' tanyanya lembut.
''Apa kita mau ke rumah sakit, takutnya penyakit kamu kambuh lagi,'' lanjutnya lagi, aku hanya menggeleng pelan dan tak mengeluarkan suara sepatah katapun, badanku terasa lemas ketika usai memuntahkan sesuatu dari dalam perutku.
Mas Erlan memelukku, ''Kita ke rumah sakit sekarang ya, kalau Bu Widya tau keadaan kamu kayak gini, dia bakal ngomel sama Mas sayang?!'' Ucap nya khawatir.
''Putri nggak apa apa kok Mas, beneran?'' sahutku lemah.
''Putri kamu kenapa?'' tanya mbak Sisil khawatir sekaligus masih terkejut melihat ku seperti ini sama Mas Erlan.
''Pitri nggak apa apa kok mbak,'' sahutku tersenyum lemah. Tak lama setelah itu mbak Agnes dan kak Anjas menghampiri ku juga ke toilet.
''Putri, benar kan apa yang aku bilang tadi,'' kata kak Anjas tiba-tiba.
__ADS_1
''Putri nggak apa apa, cuma mual saja kok,'' ucapku mengembangkan senyum.