Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 118


__ADS_3

Di perjalanan pulang aku melihat ada toko buah, yang kebetulan sekali ada buah mangga yang terletak di pinggir jalan Raya. Putri menarik baju sang suami seraya berkata. ''Mas, Putri pengen itu?'' Ucap nya menunjuk Toko buah yang sudah ia lewati barusan.


''Sayang pengen buah?'' tanya Mas Erlan menghentikan motor nya sejenak. Putri hanya mengangguk pelan.


Mas Erlan pun memutar motor nya menuju ke Toko buah yang sudah di lewati nya, karena jarak penjual buah sudah lumayan jauh, ketika sudah sampai, Mas Erlan bertanya. ''Sayang? mulai ngidam ya,'' tanya Mas Erlan lembut.


''Nggak tau juga Mas, Putri hanya pengen buah Mangga saja,'' jawab ku seraya menyunggingkan senyuman ku yang sangat manis.


Beberapa setelah pembicara'an aku dan juga Mas Erlan, penjaga toko buah pun keluar dari dalam menghampiri kita berdua yang sedang memilih beberapa buah.


''Mau beli yang mana Mbak,'' tanya sang penjual ramah.


Aku sekilas menatap Mas Erlan yang sedang mengecek ponsel nya karena barusan bergetar tanda ada pesan.


''Pilih saja sayang, buah apa yang kamu mau,'' Ucapnya yang mengerti akan tatapan ku sedari tadi.


Akupun segera memilih beberapa buah mangga, bengkuang, dan juga buah apel.


Mas Erlan terlihat mengerutkan keningnya, melihat aku memilih beberapa buah yang tak aku makan sedari aku menikah dengan Mas Erlan.


''Sayang? yakin dengan semua buah yang sayang ambil ini,'' tanya Mas Erlan lembut seraya menunjuk buah buah yang sudah aku kantongin.


''Iya Mas, Putri mau bikin rujak, kayak nya enak banget dech,'' Ucap ku tersenyum ketika melihat Mas Erlan masih menggabungkan kedua alis nya.


''Pleaseee...?'' mohon ku seraya menggabungkan kedua tangan 🙏.


''Ya sudah di bungkus yang itu Pak,'' Ucap Mas Erlan pada pemilik toko sembari menghela nafas panjang nya.


''Apa nggak mau nambah mangga muda nya Mas?'' tanya lagi sang pemilik toko.


''Emangnya ada yang muda ya Pak,'' jawab ku antusias.


''Ada Mbak, kebetulan baru di petik di kebun saya sendiri, sebentar saya ambilkan dulu,'' pemilik toko pun beranjak pergi ke samping toko nya dan membawa beberapa buah mangga muda, yang kalau di lihat lihat kayaknya sangat asem.

__ADS_1


''Lagi... Sayang? kamu yakin mau membeli mangga muda juga,'' tanya Mas Erlan khawatir karena aku punya penyakit tipes yang tak di perbolehkan untuk memakan buah yang asem.


''Mbak nya hamil?'' tanya sang pemilik toko ramah.


''Alhamdulillah iya Pak, tapi istri saya punya penyakit tipes, apa nggak apa apa mengonsumsi mangga muda, kelihatan nya sangat masam,'' tanya Mas Erlan yang memegang satu buah mangga muda tersebut.


''Sebenarnya nggak apa apa Mas, asal jangan terlalu berlebihan makannya,'' jawab Bapak pemilik toko tersebut.


''Boleh ya Mas? ini kan kemauan anak kita,'' sahut ku memohon lagi, agar Mas Erlan membelikan mangga yang masih muda juga, yang kelihatan nya sangat enak.


Tak terasa air liur ku menetes, Mas Erlan yang melihat berinisiatif mengusap air liur ku dengan tangan nya.


''Belum apa apa udah ileran kayak gini sich sayang,'' celetuk Mas Erlan menggoda ku, aku hanya cemberut mendengar nya, karena mungkin juga Bapak pemilik toko buah mendengar ucapan Mas Erlan barusan.


'Rese' banget sich Mas Erlan nich, mana ketawa lagi Bapak penjual buahnya,' batin ku menghela nafas dan menghembuskan secara kasar.


''Bungkus yang itu juga ya Pak,'' kata Mas Erlan tiba-tiba, ''Takutnya istri kecilku ini ileran lagi,'' tambah nya yang membuat Bapak penjaga toko itu sontak tertawa mendengar nya.


Aku hanya cemberut karena kesal pada Mas Erlan yang mengatakan hal itu lagi. ''Rese' banget sich Mas Erlan ini,'' batin ku memalingkan ke arah lain, sedangkan kedua tanganku menyilang di dada.


Ketika sudah jauh dari toko buah aku bersorak riang karena Bapak tadi memberi bonus petis Madura yang terkenal enak kalau buat rujak, ''Alhamdulillah, dapat petis juga jadi nggak usah beli dech,'' girang ku yang terus tertawa di atas motor.


''Petis kayak gitu banyak sayang di Pasar, kenapa girang gitu sich kayak anak kecil saja,'' Ucap Mas Erlan menggeleng kan Kepala nya pelan.


''Kalau di pasar kan masih harus beli Mas, lha ini kan di kasih, hehehe,'' Ucap ku yang langsung mendapatkan cubitan kecil di hidung.


''Gratis, maksudnya githu,'' tanya Mas Erlan.


''Iya Mas, gratis gratis,'' jawab ku memeluk erat pada pinggang suami ku yang sudah 2 tahun bersama.


Mas Erlan tertawa mendengar aku bilang gratis, ''Dasar, istri kecilku memang selalu menggemaskan,'' Mas Erlan mengeratkan pegangan ku pada perutnya.


''Mas...? nanti dedek nya malah sesak lagi,'' Gumamku yang teringat kalau di dalam perut sudah ada isinya, yakni calon buah hatinya bersama sang suami tercinta.

__ADS_1


Mas Erlan hanya terkekeh menanggapi perkataan ku barusan.


'Mana bisa sesak sich sayang, perut kamu aja masih rata kayak gitu,'' Gumamnya pelan.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


Kring....kring...kring...


Suara alarm berbunyi ketika jam sudah menunjukkan pukul lima pagi.


Suara adzan mulai terdengar berkumandang pertanda sudah Subuh, aku mengerjapkan mata, lalu menyibak selimut dan bergegas ke kamar mandi guna mengambil air wudhu.


Sebelumnya aku sudah membangunkan Mas Erlan dengan menggoyang goyang kan bahunya.


''Mas... bangun sudah Subuh,'' kataku pelan, setelah di rasa Mas Erlan sudah bangun dari tidur nya, dengan segera aku mengambil air wudhu di kamar mandi yang ada di dalam kamar.


''Sayang? Mas ke masjid saja ya,'' teriak Mas Erlan dari luar.


''Tunggu Mas, Putri ikut?!'' rengek ku yang tak mau di tinggal sendirian di rumah. Entah kenapa hari ini aku merasakan takut berada di rumah sendirian.


Buru buru aku mengambil mukenah dan memakainya di jalan agar nggak ketinggalan untuk sholat berjama'ah nya.


Mas Erlan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ku yang akhir akhir ini berubah menjadi kekanak-kanakan.


Sesampainya di sana sudah banyak jamaah yang sudah mendatangi masjid untuk sholat subuh berjama'ah bersama.


Aku menggelar sajadah yang aku bawa dari rumah, ada ibu Ibu yang tersenyum padaku ketika aku mau mendudukkan diri di atas sajadah yang sudah aku gelar.


Aku membalas senyuman Ibu ibu itu dengan senyuman juga dan mengangguk kan kepala sopan.


Ibu yang tersenyum padaku tak lain Ibu RW yang emang ramah pada setiap orang di sekitar perumahan yang aku tempati sekarang ini.


Aku beranjak dari tempat duduk ku setelah mendengar suara iqamah, dan Imam mulai takbir.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2