
Setelah berpamitan pada Bu Widya dan juga Sandra, Erlan dan Putri segera pulang ke rumahnya, karena di sana sudah ada Zein dan juga Rini yang sedang menunggu nya, mungkin mereka berdua bakalan ngomel-ngomel setelah aku sampai di rumah, karena aku sangat lama berada di rumah Bu Widya Mama dari Pak Daniel sang CEO di kantor tempat ku bekerja.
Tak usah menunggu lama, aku dan juga Erlan suami ku sudah sampai di halaman rumah yang tak terlalu besar, namun sangat nyaman untuk kita berdua, di tambah sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang akan hadir di tengah-tengah keluarga kecil kami.
Aku melenggang pergi meninggalkan suamiku yang masih memarkirkan motor Zein yang kami pakai barusan.
Saat aku membuka pintu, aku di kagetkan dengan Zein yang sedang bersembunyi di belakang pintu rumah.
''Astagfirullahal adzim!!'' ucapku kaget sambil mengelus dadaku untuk menghilangkan rasa terkejut ku barusan.
''Githu saja kaget, belum juga di apa apain kamu Put,'' jawab Zein melipat kedua tangan ke dadanya.
Aku kesal banget dengan sikap Zein yang sangat kekanak-kanakan menurutku. Aku melototinya seraya berkata, ''Gimana kalau aku jantungan, kamu mau bertanggung jawab,'' tanyaku ketus. Zein hanya menyunggingkan senyum smirk nya, tanpa memikirkan aku yang masih merasakan dag dig dug karena kaget barusan.
''Sudah sudah, ayo dek masuk abaikan saja dia, dia emang kayak anak kecil kelakuan nya, nggak nyadar kalau sebentar lagi bakalan jadi Bapak,'' Ucap Rini memegang tangan ku. Ya istri Zein saat ini sedang hamil 6 bulan, tak terasa ya Zein yang nikah belakangan malah di beri anugrah duluan sama yang maha Kuasa.
Aku mengelus perut buncit kak Rini, ''Kak, apa kata dokter, cewek apa cowok,'' tanyaku penasaran.
Kak Rini yang aku tanya hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan dariku, ''Rahasia,'' hanya ucapan rahasia saja yang keluar dari mulutnya.
Aku sendiri ingin mengorek kehidupan kak Rini selama dia menjalani masa kehamilan nya, agar aku sendiri tidak kaget kalau sewaktu waktu merasa ada hal yang aneh pada tubuhku.
''Masa kehamilan pertama tuh gimana sich kak rasanya, apa kak Rini mengalami mual muntah,'' tanyaku penasaran, Erlan yang tadi masuk ke kamar segera menghampiri aku yang sedang duduk di sofa bersama Zein dan juga kak Rini.
__ADS_1
''Kenapa sayang? kamu merasakan hal anech, atau pusing,'' cecar Erlan dengan nada khawatir.
Aku hanya menggeleng pelan, ''Putri nggak apa apa kok Mas,'' jawabku menepuk-nepuk tangan Erlan suamiku.
''Selama masa ada aja yang kita pengenin, kalau mual muntah sich hanya awal awal kehamilan saja sich dek,'' jawab kak Rini sambil tangannya terus mengelus perut buncit nya.
''Oia Zein, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, sebentar lagi aku juga bakalan jadi Ayah,'' Ucap Erlan tiba-tiba, suamiku emang lemes banget orang nya.
Aku hanya bisa mencubit perut suamiku, ''Lemes sich Mas,'' ucapku pelan sehingga hanya aku dan Erlan saja yang mendengar.
''Sakit sayang,'' ringisnya, mengusap usap perut yang saya cubit barusan.
''Makanya, jangan lemes jadi orang,'' gerutuku kesal.
Aku yang sadar langsung mengangguk pelan, karena bagaimana pun kehamilan ku tak dapat di sembunyikan lagi, ini adalah hal yang sangat membahagiakan untuk ku, dan juga bagi keluarga ku di kampung, dan keluarga suamiku yang berada di pulau Kalimantan.
''Alhamdulillah, Adik? selamat ya, kamu juga bakalan jadi seorang Ibu,'' gumam kak Rini yang langsung memeluk ku dengan erat. Aku kaget dengan sikap kak Rini yang ternyata sangat bahagia mendengar berita kehamilan ku saat ini.
''Iya kak. Alhamdulillah banget sudah di beri kepercayaan untuk mengandung,'' jawabku tersenyum.
''Ibu sama Bapak, sudah tau kalau kamu sedang hamil,'' tanya kak Rini, aku hanya bisa menggeleng kan kepala, karena aku juga belum mengabari kabar bahagia ini pada mereka semua.
''Belum kak, Putri juga baru tadi siang taunya, kalau Putri sesang mengandung, dari kemarin kemarin nya Putri tak menyadari kedatangannya kak,'' ucapku sedih, tanpa terasa air mata sudah membanjiri kedua pipiku.
__ADS_1
Suamiku yang sedari tadi berada di sampingku dengan segera memeluk dan menghapus air mataku yang sudah mengalir. ''Jangan menangis terus, kasian babyy nya ikutan sedih, kalau bundanya terus menerus sedih kayak gini,'' pesannya mengelus puncak kepalaku yang tertutup hijab.
''Sudah jangan sedih terus, yang di katakan suamimu itu benar, Ibu hamil nggak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, harusnya kamu senang dengan kehadiran nya sekarang,'' jelas Zein pada sahabat nya.
''Kalau soal ngabarin orang rumah tuh bisa kapan saja, yang penting kamu sekarang jangan terlalu banyak fikiran, kasian babyy yang ada di perut kamu sekarang, coba lihat kakak kamu, dia selalu tersenyum dan bahagia, walaupun aku tak pernah memberinya uang belanja, iya kan sayang??'' Ucap Zein ngasal yang sukses membuat aku melebarkan mata, 'Masak ia Zein setega itu sama kak Rini sich, jahat banget jdi suami', batinku.
''Jangan di dengerin omongan nya dek, dia emang nggak pernah ngasih aku uang, karena uang nya sudah dia tranfer semua ke rekening ku, jadi dia nggak pernah ngasih langsung uang belanja nya,'' Ujar Kak Rini menjelaskan.
''Tuh kan, baru juga aku su'udzon pada sahabat ku, ech malah ternyata dugaan ku salah besar, emang laki laki somplak lho Zein,'' Gumamku pelan.
''Su'udzon ya,'' tebak Zein yang melihat ku terdiam setelah mendengar penjelasan dari kak Rini.
''Lagian lho somplak jadi laki, hampir aku percaya kalau kamu beneran nggak ngasih uang belanjaan sama kak Rini,'' ujarku ketus karena mulai emosi dengan ucapan Zein barusan.
Zein hanya tertawa mendengar omelan ku, ''Jangan di biasakan, dikit dikit emosi, dikit dikit marah, kasian sang calon babyy,'' Ucapnya dengan masih terus tertawa, aku yang masih emosi menghampiri nya dengan membawa majalah yang tergeletak di atas meja, aku langsung memukul kan majalah tersebut pada lengan Zein sahabat ku waktu kecil.
Zein yang mendapatkan perlakuan dariku hanya bisa mengelus lengan nya yang kemungkinan sakit banget karena ulahku barusan yang memukul nya agak kencang sedikit.
Kak Rini hanya mentertawakan kelakuan kami berdua, yang kayak Tom dan Jerry selalu ada saja hal yang membuat kami berantem ataupun bertengkar lah istilahnya, namun itu semua hanya sebatas bercandaan semata, bukan yang serius seperti layaknya orang yang bertengkar beneran.
''Sudah sudah,'' lerai kak Rini lagi membuatku cemberut.
BERSAMBUNG
__ADS_1