
Pak Daniel dan kak Sandra duduk di kursi yang ada di depan IGD, namun tidak dengan Mas Erlan yang sedari tadi mondar mandir menunggu dokter keluar dari ruang IGD.
Kebetulan dokter yang menangani ku saat ini adalah dokter keluarga Aditama, Pak Daniel meminta dokter Erina untuk menangani adik angkat nya, dokter Erina sudah kenal dengan Putri, yang menurut dokter Erina Putri adalah wanita kuat dan tangguh, jadi dia yakin akan melewati rasa sakit nya tanpa mengeluh pada siapapun. Dan buktinya memang benar, selama di perjalanan Putri tak mengeluh walau rasa sakit nya amat teramat sakit, serasa di iris iris pisau yang tajam.
''Daniel!'' panggil Bu Widya ketika sudah sampai di rumah sakit Medika.
''Mama?'' sahut Pak Daniel menghampiri Bu Widya sang Mama.
''Siapa yang sakit Daniel?'' tanya nya lagi.
''Putri Ma, dia jatuh di toilet tadi?!'' jawab Daniel yang langsung memeluk bsang Mama, agar tidak menerobos masuk ke dalam IGD.
''Daniel Mama ingin tengok dia.'' lirih Bu Widya mulai meneteskan air mata nya.
''Ma, Putri masih di tangani dokter di dalam?'' sambung Sandra merapat sang Mama agar ia duduk di kursi tunggu.
''Tapi dia baik baik saja kan dek?'' tanya Bu Widya pada puteri nya yang bisa di panggil adek tersebut.
''Kita do'akan saja yang terbaik buat mereka berdua ya Ma, semoga Putri dan calon ponakan Sandra nggak apa apa, dan Putri cepat berada di tengah-tengah kita lagi, seperti tadi tertawa bareng,'' jawabnya merangkul sang Mama.
''Kak Anggia, ada di sini juga?'' tanya Sandra saat melihat gadis kakak nya.
''Iya dek? Anggia tadi ke rumah dan kata Bibi di sana Mama sama yang lainnya ada di rumah sakit,'' jelas Anggia dan duduk di samping Bu Widya.
''Erlan, gimana kejadiannya? kok bisa Putri sampai jatuh di toilet,'' tanya Bryan pada suami Putri.
''Erlan juga nggak tau Kak, tapi kak Sandra tadi yang memberi tahu Erlan, kalau istri Erlan jatuh di dalam toilet,'' jawab Erlan apa adanya, karena Erlan taunya sang istri sudah merintih kesakitan di sana.
''Tadi adek Putri sehat sehat saja, apa mungkin dia pusing terus jatuh githu ya Ma?'' kata Anggia lembut, sedangkan tangannya mengusap usap bahu Bu Widya, Mama dari Bryan.
__ADS_1
''Sandra juga nggak tau kejadiannya kak? yang Sandra tau ada seorang pelayan wanita yang mencari Erlan, saat itu Sandra sedang telfonan sama temen Sandra. Dan dia bertanya kenal sama Pak Erlan, Sandra jawab kenal lah, setelah itu dia baru mengatakan kalau Putri jatuh di toilet, Sandra panik dan segera menghampiri Erlan yang kebetulan sedang berada di dalam mobil bersama kak Daniel,'' jelas Sandra.
''Tapi kamu lihat nggak Putri ngeluarin darah waktu itu,'' Sandra menggeleng cepat, ''Bagus lah, kalau githu Mama bisa bernafas lega, kemungkinan bayi nya selamat, semoga bundanya cepat sadar ya,'' tambahnya, yang di angguki oleh Sandra dan juga Anggia.
Daniel pergi menjauh dari orang orang yang menunggu Putri, terlihat Daniel mengeluarkan ponselnya di saat sudah berada di halaman rumah sakit Medika.
''Halo Tuan,'' Ucap seseorang di seberang telfon.
''Kamu aku tugaskan untuk mencari tau kejadian yang menimpa adek angkat ku, di restoran Blue. Segera kabari kalau sudah mendapatkan informasi tersebut,'' titah Daniel pada anak buahnya.
''Baik tuan? segera saya selidiki,'' sahutnya tegas.
''Bagus, laksanakan sekarang!'' sahut Daniel mematikan sambungan telfon nya.
''Aku curiga pada seseorang, apa mungkin dia yang melakukan itu pada adek ku,'' Gumam Daniel mengepal tangannya, karena mengingat pertemuan tadi pagi antara Putri dengan Agnes.
''Kalau sampai dia terbukti melakukan semua ini, aku nggak akan tinggal diam membiarkan gadis itu untuk hidup tenang,'' di rasa sudah cukup lama di luar, Daniel memutuskan untuk masuk ke dalam, melihat perkembangan sang adek yang terbaring lemah.
''Dokter Erina? bagaimana janin Putri Dok?'' lirih nya meraba perutnya yang mulai membuncit.
''Alhamdulillah sekali, janin kamu tidak apa apa, dia sangat kuat seperti bundanya yang kuat merasakan sakit,'' jawab dokter Erina memberi botol air pada Putri.
''Alhamdulillah, terima kasih dokter? Putri nggak tau harus bilang apa kalau sampai janin ku nggak ada di sini,'' Ucap Putri mengelus elus perut nya.
Dokter Erina tersenyum, ''Kalian hebat dan kuat, kalau orang lain yang jatuh seperti itu, saya tidak tau pasti apa yang terjadi. Karena kamu jatuh cukup keras tadi, tapi yang aku herankan? kenapa bibir kamu yang terluka??'' tanya dokter Erina pada Putri.
''Ini nggak sakit kok dok, apa boleh Putri pulang sekarang?'' tanya Putri ingin bangun dari tiduran nya.
''No no no. Kamu harus tetap berada di rumah sakit selama 2 hari ini, tubuh kamu masih terlalu lemas?''
__ADS_1
''Tapi Putri sudah nggak apa apa kok dokter,'' bantah Putri yang masih terus ingin bangun dari tidur nya.
Salah satu suster memanggil Erlan sebagai suami dari Putri.
Krieet.... Pintu terbuka dan nampak lah seorang suster yang keluar dari ruangan itu.
''Ada yang namanya Bapak Erlangga?'' tanya sang suster.
''Saya suster, gimana keadaan istri saya,'' tanya Erlan berjalan menghampiri sang suster.
''Pak Erlangga boleh masuk, dan yang lain di harapkan untuk menunggu di luar,'' titah sang suster, suster pun melangkah masuk yang di ikuti Erlan dari belakang.
''Semoga Putri nggak apa apa ya Ma?'' lirih kak Sandra pada Bu Widya.
''Lho jeng? ngapain di rumah sakit?!'' tanya teman arisan Bu Widya, yang kebetulan mengetahui keberadaan Bu Widya yang duduk sambil menutup muka dengan tangan nya.
''Jeng Kelin? ada di rumah sakit juga,'' bukan nya menjawab pertanyaan sang teman, Bu Widya malah balik tanya sama jeng Kelin.
''Iya nich jeng? anak dari saudara sepupu ku sedang di rawat di rumah sakit ini,'' jawabnya memilih duduk di samping Anggia.
''Jeng Widya siapa yang sakit,'' tanya Jeng Kelin lagi.
''Puteri ku yang paling kecil berada di rumah sakit ini juga,'' balasnya pelan.
''Semoga lekas sembuh ya jeng puteri nya, kalau begitu saya permisi dulu mau menjenguk saudara ku dulu,'' Ucap jeng Kelin sembari beranjak dari tempat duduk nya, namun dia kembali duduk setelah melihat wanita di samping nya yang di rasa tidak ia kenali.
''Wanita ini siapa jeng?'' tanya nya lagi.
''Och, ini calon menantu ku jeng?'' jawab Bu Widya, ''Sayang? kenalkan dia teman Mama,'' jawab Bu Widya tersenyum pada calon menantu nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG