Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 119


__ADS_3

''Sudahlah sayang, jangan memasak lagi. Biar Mas nanti makan di kantin kantor saja ya,'' kata Mas Erlan ketika melihat ku kembali muntah muntah di pagi hari.


''Atau kamu Mas beliin bubur saja ya di depan, agar kamu segera minum obat kamu,'' Ucap nya lagi yang masih setia memijiki punggung ku.


''Sekalian Mas Erlan juga beli bubur nya, masa ia cuma Putri saja yang makan sich Mas,'' jawabku ketika perut ku sudah tak lagi mual.


''Iya, kamu tunggu di sini dulu ya,''


''Iya Mas?'' sahut ku pada Mas Erlan, yang sudah membaringkan aku di sofa yang ada di ruang tamu.


''Aku bahagia sekali memiliki kamu Mas, laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan juga perhatian pada istri mu yang lemah ini,'' gumam ku setelah kepergian Mas Erlan.


Tak butuh waktu lama untuk membeli bubur ayam yang di maksud Mas Erlan tadi, karena warung bubur itu sendiri sangat dekat dengan rumahku.


Sekilas aku melihat Mas Erlan menenteng 2 kantong plastik yang di bawanya ke dapur.


''Mas...? ngapain sich di sana,'' tanyaku ketika Mas Erlan berada di dapur.


''Sebentar sayang...? Mas bikin teh anget dulu,'' sahutnya lumayan kencang.


Aku hanya mengangkat sebelah alisku mendengar jawaban Mas Erlan.


Tak lama kemudian, dia sudah membawa dua mangkok bubur ayam, dan juga dua gelas teh hangat.


''Ayo makan, apa mau Mas suapin,'' tanya nya tersenyum sembari menyodorkan teh hangat ke hadapanku.


''Makasih Mas ku yang ganteng,'' akupun mencium pipi kanan Mas Erlan.


Mas Erlan hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya.


''Ayo cepetan makannya, keburu telat ke kantor nya sayang?'' celetuk Mas Erlan mengelus pundakku.

__ADS_1


Aku hanya cemberut dan segera menghabiskan bubur ayam yang di beli Mas Erlan tadi.


''Mau kemana?'' tanya Mas Erlan saat aku beranjak dari tempat duduk ku.


''Mau ngambil obat di kamar Mas,'' jawabku pelan.


Mas Erlan memegang tangan ku, dan berkata, ''Biar aku yang ambilin sayang?'' Ucap Mas Erlan beranjak pergi ke kamar.


Tak lupa Mas Erlan membawa gelas yang sudah terisi air dingin, karena aku nggak mau air yang langsung di ambil dari galon tanpa di taruh di dalam kulkas terlebih dahulu.


Mas Erlan yang tau tingkah aneh aku hanya bisa menggeleng kan kepalanya.


''Istri kecilku dulu tak pernah bertingkah kayak gini sebelumnya, namun sekarang apa apa harus ditaruh di dalam kulkas dulu,'' Gumam Mas Erlan yang masih terdengar samar samar.


''Ayo berangkat sekarang ke kantor,'' ajak Mas Erlan menarik tanganku agar segera beranjak dari tempat duduk.


''Mas, bawa mobil aja ya,'' rengek ku bergelayut manja di lengan suami ku, seakan tak ingin jauh darinya walau hanya sebentar.


Lagi lagi aku merengek layaknya anak kecil yang meminta permen pada sang Mama. ''Pokoknya naik mobil, kalau Mas Erlan nggak mau biar Putri pesan taksi online saja,'' kataku memanyunkan bibir seraya melipat kedua tanganku di dada.


Mas Erlan terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.


''Alasannya kenapa nggak mau naik motor sekarang?'' tanya Mas Erlan sebelum sampai di teras rumah.


''Ya karena banyak asap saja Mas, makanya Putri mau naik mobil ke kantor nya,'' jawab ku asal.


Mas Erlan kembali masuk ke kamar untuk mengambil kunci mobil, ''Ayo naik nanti terlambat sayang??'' ajaknya.


Di pertengahan jalan aku sengaja bertanya pada Mas Erlan, untuk membuka obrolan, ''Mas Erlan pengennya anak kita cewek atau cowok?'' tanyaku yang membuat Mas Erlan menatapku sejenak, dan kembali fokus menyetir mobil nya.


''Mas sekasihnya yang di atas saja sayang, mau cewek ataupun cowok sama saja, sama-sama anugrah yang Allah titipkan pada kita berdua, yang penting kamu sehat, adek bayinya juga sehat, itu sudah membuat Mas bahagia kok,'' jawab Mas Erlan panjang lebar.

__ADS_1


''Kalau sayang sendiri maunya apa,'' tanya balik Mas Erlan.


''Kalau Putri pengen dua dua'nya, biar lengkap githu, Mas Erlan satu, Putri juga satu,'' Gumamku yang membuat Mas Erlan melongo, namun masih mengamini perkataan.


''Seru kali Mas, kalau kita punya anak kembar cewek dan juga cowok,'' terang ku.


''Semoga saja ya sayang. Amiinn?'' jawab Mas Erlan, dan berapa lama kemudian dia menghentikan mobilnya karena sudah sampai di parkiran kantor.


''Turun sayang, sudah sampai kantor nich?'' Ucapnya seraya melepaskan seatbeld ku.


''Turun nggak ya, nanti ada yang liat aku lagi di parkiran, yang sedang berdua'an dengan sang tampan primadona wanita wanita di kantor ini,'' celetuk ku sembari membuka pintu mobil, yang di mana di luar sudah Mas Erlan yang sedang menunggu ku.


''Mas Erlan kenapa belum masuk? entar nyai Ronggeng malah ngedalbus lagi liat aku di sini sama kamu Mas,'' tegur ku pada suami tampan yang di sukai Staf di ruangan ku bekerja.


''Mas kan lagi nunggu kamu sayang? biarkan saja nyai Ronggeng mau ngedalbus, atau mau jumpalitan juga Mas nggak peduli, masa bodoh lah,'' sahut Mas Erlan merangkul bahuku untuk di bawa ke dalam kantor.


Di pintu lobby Agnes sudah menunggu mas Erlan suami tampan ku. ''Thu kan Mas, Nyai Ronggeng beneran nungguin kamu di pintu, sanah pergi aku mau masuk sendirian ke kantor nya,'' kataku menghela nafas.


''Sudahlah sayang, jangan hiraukan si Agnes, Mas kan suami kamu, emang kamu rela kalau Mas pergi jalan bareng dia.'' Ujar Mas Erlan menunjuk Agnes yang sedang melambaikan tangan nya pada Mas Erlan.


Aku menghembuskan nafas dengan kasar, ''Ya nggak lah Mas, tapi itu si Nyai Ronggeng galak amat kalau ada lihat kamu saja di dalam, pasti dia akan memakan orang itu,'' sahut Putri kesal pada Erlan sang suami.


Ya, yang di panggil Nyai Ronggeng adalah Agnes, karena emang dia selalu menggoda para karyawan kantor yang ganteng or punya tubuh yang atletis abis.


''Kenapa kalau sama Pak Daniel dia nggak berani ya,'' gumamku pelan, namun masih terdengar oleh Mas Erlan.


''Sudah nggak usah di fikirin lagi, kamu lagi hamil lho sayang, jangan sampai fikiran kamu mengganggu kesehatan janin yang ada di dalam perut kamu sekarang, ayo masuk.'' Ajak Mas Erlan memegang tangan ku.


Aku dan Mas Erlan melangkah ke lobby kantor masih dengan berpegangan tangan, hampir sampai di depan pintu lobby, Pak Daniel turun dari mobilnya, seraya bertanya padaku, ''Gimana keadaan kamu sekarang, sudah baikan?'' tanyanya pelan seraya mengumnar senyum manisnya.


''Alhamdulillah baik Pak?'' jawabku menundukkan kepala.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2