Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 157


__ADS_3

Matahari mulai meninggi namun Putri masih betah dengan ke sendirian nya di halaman belakang, sesekali dia membalas chat dari Bu Widya yang menanyakan keberada'an nya.


Tinggal nong


Bunyi notif chat di ponsel Putri.


📩 - ''Ada di mana sayang? Mama sekarang ada di rumah kamu lho,'' pesan Bu Widya.


📩- ''Putri ada di yayasan Bu, tapi sebentar lagi Putri akan pulang, masih nunggu jemputan belum datang?'' balas Putri.


📩- ''Biar Mama saja yang ke sana ya?'' tawar Bu Widya pada Putri.


📩- ''Nggak usah Bu? sebentar lagi sopir pak Daniel datang menjemput Putri,'' balasnya lewat chat lagi.


Putri memasukkan kembali ponsel-nya ke dalam sling bag yang ia bawa. Terlihat beberapa anak anak yayasan datang menghambur pada Putri.


''Kak Putri? kapan adek bayi nya lahir,'' tanya salah satu anak perempuan yang masih berusia 6 tahun.


''Insya Allah dua minggu lagi sayang?'' jawab Putri mengelus punggung anak itu.


''Do'ain kakak ya, agar persalinan kakak berjalan dengan lancar, dan kedua bayi kakak sehat dan tanpa kekurangan satu apapun,'' pinta Putri pada semua adik adiknya yang menghampiri nya di halaman belakang.


''Pasti kak? kita semua akan selalu mendo'akan kak Putri dan adik bayi nya,'' jawab Farel.


''Iya kak Jihan juga akan mendo'akan kak Putri dan adik bayi nya juga,'' sambung Jihan.


''Kak Putri tapi Farel nggak salah dengar kan, kalau kak Putri bakalan punya 2 adik bayi,'' tanya nya meyakinkan, takut takut Farel salah dengar.


''Benar, kak Putri akan punya dua bayi sekaligus?'' jelas Putri seraya merangkul Jihan yang duduk di samping nya.

__ADS_1


Cukup lama mereka bermain bersama Putri di halaman belakang, walaupun Putri sendiri tak ikut main bersama mereka, Putri hanya menjadi penonton dan pendengar yang baik.


''Nak Putri,'' seru Ibu pengurus yang berjalan menghampiri nya.


''Iya Bu?'' jawab Putri, lalu menoleh ke arah sang Ibu pengurus yang memanggilnya.


''Ada apa Bu?'' tanya Putri setelah Ibu pengurus duduk di samping nya.


''Di luar sudah ada bapak bapak yang menjemput kamu nak? dia bilang suruhan tuan Daniel. Tuan Daniel itu kan kakak angkat kamu kan?'' tanya Ibu pengurus bertubi-tubi pada Putri.


''Oiya Bu, pak Daniel emang kakak angkat Putri, pak Daniel juga atasan mas Erlan suami Putri?'' jawab Putri menjelaskan pada Ibu Pengurus.


''Ya sudah kalau gitu, Putri pamit dulu Bu? takutnya pak sopir nya menunggu lama juga di luar,'' lanjut Putri yang langsung di angguki oleh Ibu pengurus.


Semua adik adik yang tadi sedang asik bermain kini sudah mengelilingi Putri, satu persatu mereka mencium punggung Putri yang sudah mereka anggap sebagai kakak nya sendiri, mereka semua hanya dekat dengan Putri dan juga Erlan, namun mereka bersikap dingin pada sebagian orang yang tak ia kenal walau mereka suka datang ke yayasan tempat tinggal mereka, Putri mengambil amplop di dalam slingbag nya dan memberikan pada Ibu pengurus, serta berpesan kalau dia akan lama tidak akan menjenguk adik adiknya di yayasan.


''Ibu, mungkin Putri nggak akan datang lagi ke sini dalan jangka yang sangat lama, Putri titip adik adik di sini ya Bu? kakak harap adik adik semua tidak berulah dan tidak merepotkan Ibu pengurus, kalian harus saling jaga satu sama lainnya,'' Ucap Putri mengingat kan semua adik adik yang tinggal di yayasan.


Sesampainya di samping mobil Putri kenapa Pak sopir yang menjemput nya di yayasan. ''Sudah lama nunggu-nya ya pak?'' tanya Putri membuka pintu mobil di samping sang sopir.


''Tidak begitu lama kok nona Putri,'' jawabnya ramah.


Putri mengangguk, ''Maaf ya Pak, jadi merepotkan kayak gini,'' Ucap Putri seraya memasang seatbelt nya.


''Oiya nona, nonya berpesan kalau nona Putri harus datang ke rumah besar sekarang,'' pak sopir yang menjemput nya.


''Ibu Widya nggak bilang apa apa tadi sama Putri pak,'' jawab Putri mengerutkan keningnya.


''Mungkin nyonya lupa nona? nyonya menghubungi saya barusan kok non?'' lanjut pak sopir menjelaskan.

__ADS_1


''Ya sudah, kita ke sana saja sekarang pak? lagian di rumah Putri hanya ada Bibi saja?'' jelasnya menyandarkan bahu ke sandaran jok mobil.


Pak sopir akhirnya menyalakan mobilnya dan melajukan dengan perlahan di halaman yayasan yang begitu luas tersebut, setelah sampai di jalan beraspal sang sopir menambah kecepatan mobilnya. Putri sudah biasa duduk di samping sang sopir kalau pas lagi di jemput oleh sopir tuan Daniel, di pertengahan jalan? Putri merasakan sakit di perutnya.


''Aduch...??'' ringis nya memegang perut buncit nya.


Pak sopir yang biasa di panggil kang Iman bertanya pada Putri di saat mendengar Putri mengaduh sakit, ''Nona kenapa?'' tanya pak Iman cemas.


''Nggak apa apa kok Pak? mungkin mereka lagi main sepak bola di dalam, nendang nya lumayan kenceng,'' jawab Putri bohong, karena Putri tak ingin Pak Iman cemas.


''Och kirain perut nya nona Putri mulai sakit sakit githu non?'' kata Pak Iman, yang tanpa sepengetahuan Pak Iman Putri menganggukkan kepala nya.


''Pak di depan sana mampir ke indomaret dulu, Putri mau beli minuman,'' kata Putri pelan, Pak Iman mengangguk dan menghentikan mobil-nya tepat di depan indomaret yang Putri katakan tadi.


''Biar saya saja yang membelikan nona,''


''Baiklah Pak?'' Putri mengambil uang di slingbag nya dan memberikan uang berwarna merah pada Pak sopir di samping nya.


''Sekalian bapak juga beli ya,'' lanjut Putri.


''baik Nona?'' jawab nya, dan membuka pintu mobil, Pak Iman masuk ke dalam dan mengambil minuman dingin untuk sang nona, dan juga untuk dirinya sendiri. Pak Iman menegak minuman nya hingga tinggal setengah, lalu kemudian menuju meja kasir untuk membayar minuman yang sudah ada di tangan nya.


Di dalam mobil Putri meringis menahan sakit di perut nya, ''Sayang? jangan nakal kayak gini dong?'' elus nya pada perut besarnya. Putri menarik nafas agar rasa sakitnya berkurang.


''Ini nona minuman nya,'' kata Pak Iman yang sudah masuk kembali ke dalam mobil.


''Makasih ya Pak?'' balas Putri dan segera meminum minuman nya hingga tandas.


'Nona Putri kayak baru pulang dari sawah saja, satu botol di habisin dengan satu tenggakan saja,' batin Pak Iman menatap anak angkat sang majikan nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2