Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 95 Nadzar yang sudah terlaksana


__ADS_3

Akhirnya kedua pasangan tersebut menerima pemberian dari Putera dan juga Puteri nya.


''Seharusnya Ayah yang memberi suprise pada kalian berdua, ini malah kamu yang memberikan suprise pada kami,'' Ucap Pak Enggar Ayah Erlan.


''Sudah lah Yah, uang saku di tanggung sendiri ya,'' canda Erlan oada Ayah-nya.


Putri mencubit pinggang kekar suaminya karena ucapan yang asal jeplak.


''iisssh,'' ringisnya mengusap ngusap pinggang yang habis di cubit sang istri barusan.


''Di sana sudah ada uang sakunya juga kok Ayah, Ibu dan Bapak juga. Akhirnya 2 Ibu Putri dan Ayah serta Bapak akan bertolak ke Madinah,'' ucap nya senang layaknya tak ada beban pikiran lagi yang hati Putri.


Rasanya begitu plong, kalau nadzar kita sudah di laksanakan dengan baik.


''Semoga usaha nya semakin sukses, dan semakin banyak yang pesan Catering ngan kamu sayang,'' Ucap Ibu Ristie sang mertua sambil mengelus puncak kepala sang menantu.


''Makasih Ibu do'a nya, berkat kalian semua usaha Putri berjalan dengan lancar dan semakin besar seperti sekarang ini,'' sahut Putri tersenyum.


''Tanpa kalian, Putri tidak akan bisa seperti sekarang ini,'' ucap nya dengan nada sedih dan air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.


Bu Ristie memeluk sang menantu yang berada tak jauh darinya, ''Sayang, tak boleh bicara seperti itu lagi, itu sudah seharusnya selama kita bisa bantu kamu,'' ucap nya menghapus air mata yang menetes di pipi sang menantu.


''Makasih ya Bu,'' sahut nya sedih.


''Kenapa harus ada acara sedih sedihan di sini sich, harusnya kita senang karena aku sudah menjadi pengantin baru,'' tukas Erlan mengerucut kan bibir nya.


Semua nya tertawa mendengar ocehan Erlan barusan.


''Dasar bocah tengil, sudah menjadi seorang suami masih saja menjadi bocah, kapan dewasa nya kamu Erlan?'' tanya sang Ibu.


''Erlan sudah dewasa kok, bukti nya sudah menikah dan sudah punya istri,'' celetuk Erlan.


''Buktikan kalau kamu sudah dewasa,'' Ucap Pak Enggar pada putera nya.


''Bukti yang bagaimana,'' tanya Erlan.


''Buntingin Putri,'' ucap nya ngasal.

__ADS_1


''Enak saja, bilang buntingin, istri Erlan bukan sapi Yah,'' tukasnya kesal.


''Iya, maksud Ayah juga itu'' jawab sang Ayah membela dirinya.


''Wach, Ayah parah banget, menantu kesayangan Ibu di katain kayak githu,'' Ucap Erlan mengompori Ibu nya agar marah sama Pak Enggar sang Ayah.


''Si Erlan bisa saja ngomporin bini gue,'' gumam Pak Enggar pelan.


''Sayang, kamu cepat hamil ya, agar Ibu cepat punya cucu lagi dan Aab punya teman,'' Ujar Ibu Ristie.


''Do'ain yang terbaik saja lah Bu, kapan saja se kasihnya Allah,'' Gumam Putri pelan yang di angguki oleh orang tua nya.


''Tapi kan kamu masih kuliah sayang? gimana kalau kita tunda saja rencana punya anaknya,'' usul Erlan karena menurut nya sang istri masih kuliah dan masih banyak tugas yang akan di lakukan selama masa kuliah nya berlangsung.


''Kak Erlan nggak boleh ngomong kayak githu, Putri nggak apa apa kok kalau Putri hamil, itu semua sudah rezeki nya,'' sahut Putri menutup bibir sang suami.


''Thu dengerin yang di katakan istri kamu,'' tutur Bu Yuni yang sedari tadi hanya diam mendengar kan saja.


Erlan hanya garuk garuk nggak jelas mendengar ucapan sang mertua nya.


Putri hanya tersenyum, melihat sang suami terdiam di saat Ibu nya mengeluarkan ucapan walaupun hanya beberapa kata.


Satu minggu sudah pernikahan mereka di lalui dengan canda tawa dan penuh dengan kebahagia'an.


Senyuman bahagia terus terukir di bibir ranum Putri. Ketika sore hari sangat suami baru pulang dari rumah nya, guna menemui sang nenek dari Ibu nya yang kebetulan berkumpul dengan orang tua Sidul sepupu Erlan.


''Baru pulang,'' tanya Putri pada sang suami yang terlihat lesu.


''Iya sayang? penyakit nenek makin hari makin parah saja, aku harus gimana dong, sedangkan Ibu sama Ayah sudah balik ke Kalimantan,'' gumam Erlan mendudukkan diri di sofa panjang yang ada di ruang tamu.


''Terus bagaimana kita baliknya kak,'' tanya Putri yang sudah telat lima hari dari ijin cutinya.


''Atau nggak, Putri balik duluan ke Jakarta nya, ijin Putri sudah habis dari lima hari kemarin kak,'' tutur Putri menundukkan kepalanya.


''Jangan, kakak nggak rela kamu balik sendiri ke Jakarta, kita jadi balik besok ke Jakarta nya, kakak sudah bilang Paman sama Bibi kok, dia bilang berangkat saja,'' sahut Erlan memegang pundak sang istri.


Erlan merangkul istri nya dengan penuh kasih sayang, di ciumi nya pipi istri kecilnya yang baru satu minggu ia nikahi.

__ADS_1


''Ayo kita ke kamar,'' Ajak Erlan.


Putri mengerutkan keningnya mendengar ajakan dari suaminya.


''Ayo sayang?'' Ucap Erlan lagi karena outro tak beranjak dari tempat duduk nya.


''Ngapain ke kamar,'' tanya Putri penasaran.


''Kalau di kamar, emangnya mau ngapain lagi coba,'' jawab Erlan tersenyum smirk.


Tubuh Putri menegang mendengar ucapan sang suami.


''Ayo tidur, emang ngapain lagi coba selain tidur di kamar, atau kamu pengen buat dedek sekarang,'' tanya Erlan menaik turunkan Alisnya.


''Apaan sich Mas?'' Ucap Putri tanpa sadar memanggil Erlan dengan sebutan Mas.


''Sayang, kakak pengen denger pagi ucapan kamu yang barusan itu,'' kata Erlan lagi memegang bahu sang istri.


''Emangnya Putri ngucapin apa barusan?'' tanya Putri pura-pura lupa dengan ucapan nya yang barusan ia katakan.


''Ayolah sayang?'' rengek nya.


''Apa sich kak, kalau mau tidur ya tinggal tidur saja, lawong sudah besar masih minta di temenin,'' gerutu Putri.


''Sudah lah, mungkin aku salah denger kali tadi,'' tukas Erlan melangkah pergi menuju ke kamar nya, karena ngambek dengan Putri istri kecilnya.


''Emang aku salah ngomong ya,'' bisik Putri geleng-geleng kepala nya.


''Biarin sajalah, toh dia juga akan baikan dengan sendiri nya,'' Gumam nya.


Putri melangkah keluar dari rumah nya, Putri mengambil sapu lidi dan menyapu halaman rumah nya, karena Putri sudah lama tidak ikut menyapu di halaman rumah nya.


Erlan mendengus kesal, karena Putri tidak mengikuti nya ke dalam kamar.


''Bukan nya ngejar aku ke kamar, malah nyapu di halaman yang tak kotor pun dia sapu, nggak peka banget jadi istri,'' keluh Erlan.


Erlan tak jadi tidur siang, dia hanya mondar mandir di dalam kamar nya, menunggu kedatangan istri kecilnya.

__ADS_1


Sedangkan di halaman Putri asik mengobrol dengan teman temannya di saat SD dulu, yang kebetulan lewat di depan rumah nya.


BERSAMBUNG


__ADS_2