Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 124


__ADS_3

''Kalian di bayar di sini bukan cuma buat ngomongin orang di belakang nya saja, tapi kalian di bayar di kantor ini buat bekerja, bukan buat nge ghibah? kalau kalian sudah bosan bekerja di kantor ini, kalian sudah tau kan jalan keluar kantor ini!!'' geram sang sekretaris, kepada para karyawan yang sukanya nge ghibah, gibahan yang sama sekali tidak ada faidah nya.


''Maaf Pak?'' jawab salah seorang karyawan beranjak pergi dan kembali ke tempat kerjanya.


''Dan satu hal lagi yang kalian harus ketahui, di ruangan ini sudah terpasang CCTV, jadi? siapapun yang cuma kerjanya main ponsel, saya harap mulai dari sekarang kebiasaan buruk kalian cepat berubah, sebelum CEO kita langsung memecat kalian secara tidak hormat!'' kata sang sekretaris lantang, sedangkan bola matanya menatap ke arah mbak Agnes yang mengangkat satu alisnya mendengar ucapan dari sang sekretaris.


''Agnes! saya harap kebiasaan buruk kamu yang semena menang pada junior mu cepat di hentikan, sayak tidak segan segan melaporkan kelakuan buruk kamu pada Pak Daniel,'' lanjut sang sekretaris mengarah pada Agnes, namun tidak ia tanggapi, dia mengabaikan peringatan sang sekretaris, karena menurut Agnes dia masih saudara'an dengan sang bigboss, walau hanya saudara jauh nya saja.


Setelah semua unek-unek dan memperingati Agnes karena tingkah laku nya yang layaknya seorang Bos, bisanya cuma main ponsel, dan menyuruh para junior nya untuk mengerjakan semua pekerjaan nya di kantor Aditama Grub, sang sekretaris melangkah pergi meninggalkan ruangan yang hanya bikin dia naik darah dan juga emosi, melihat sikap Agnes yang tak pernah menghiraukan peringatan nya, ya Agnes berani melawan sang sekretaris karena Pak Aries selalu membela nya.


''Halah, kalian semua cemen hanya menghadapi sekretaris itu doang!'' pekik Agnes pada tekan kerjanya di satu ruangan tersebut.


''Sudah lah Agnes, kerjakan saja pekerjaan mu jangan ngerundel terus, emang kamu nggak lihat seberapa marahnya sekretaris Pak Daniel tadi,'' jawab salah satu karyawan di ruangan itu.


''Aku nggak pernah takut sama dia, apa kalian lupa? kalau aku ini adalah ponakan Pak Aries, yang berarti aku adalah sepupu CEO kalian, kenapa harus takut,'' sombongnya membusungkan dada.


''Sudah lah, kalian jangan hiraukan ucapan Agnes lagi, kalau kalian di pecat Agnes nggak bakalan bisa bantu kalian semua,'' jawab lagi seorang karyawan yang selalu berani pada Agnes.


Semua rekan kerjanya mengangguk semua nya, setelah intruksi dari karyawan yang berani itu.


mbak Sisil dan juga kak Anjas hanya geleng-geleng kepala, karena nggak ngerti dengan semua sifat Agnes yang selalu mengatakan kalau dirinya adalah sepupu sang CEO.

__ADS_1


''Anjas? lho percaya nggak, kalau Agnes sepupu CEO kita,'' bisik mbak Sisil yang selalu penasaran dengan kebenaran tentang dia, kalau sebenarnya Agnes saudara dari CEO di kantor nya.


Kak Anjas hanya mengangkat bahunya pertanda dia juga nggak tau tentang itu semua. ''Ech, tapi Sil? tadi nyonya Aditama kan berada di pintu itu,'' bisik Anjas balik yang membuat Sisil menjadi semakin penasaran dengan perkataan teman nya yang cuma sepotong itu.


''Anjas! jangan bikin aku penasaran kayak gini dong?'' Gumam mbak Sisil melotot kan matanya pada kak Anjas.


''Serem banget sich lho Sil, kalau lagi penasaran, tapin lucu kok? imut... kayak marmut?!'' Ucap kak Anjas menggoda mbak Sisil, mbak Sisil sendiri sudah mulai merasa kesal dengan rekan kerjanya, yang emang suka godain mbak Sisil kalau lagi kesal.


''Bomat lah?'' sahut mbak Sisil dengan ketus.


''Apa'an tuch?!'' tanya kak Anjas yang juga mulai penasaran. Maklum lah dia kan cuma sibuk mengetik keyboard laptop nya, di banding dengan bergaul dengan anak anak jaman now jaman sekarang, yang semua perkata'an di bikin gaul oleh anak-anak jaman now.


Kalau Kak Anjas mah anak jaman old, alias jaman dulu, hehehe... Kasian banget sich kamu kak?.


*-*-*-*-*-*-*


Di rumah besar Aditama, Bu Widya menyuruh Putri untuk mengistirahatkan tubuhnya, agar ia kembali sehat dan Fit kembali, namun di sana juga ada drama yang kini menyelimuti kediaman keluarga orang terpandang di kota Jakarta.


''Putri nggak ngantuk Bu? Putri mau makan rujak boleh ya?'' pinta Putri pada Bu Widya sang ibu angkat.


''Makan nasi dulu ya sayang? baru setelah itu makan rujak, biar Mang Udin yang ambil mangga di belakang rumah,'' sahut Bu Widya membujuk puteri angkatnya.

__ADS_1


''Putri maunya sekarang Bu? Putri mau panggil Pak Udin dulu ya, bye Ibu?!'' kata Putri yang langsung berlari ke depan untuk memanggil Mang Udin, yang bertugas untuk membersihkan halaman, mau halaman depan atau halaman belakang, Mang Udin lah yang membersihkan semua nya. Walaupun Pak Aries sendiri melarang Mang Udin untuk membersihkan halaman belakang yang lumayan cukup luas, ketimbang halaman depan rumahnya.


''Astaghfirullah, anak itu ya bikin spot jantung saja, masak iya sedang hamil lari lari kayak gitu,'' gumam Bu Widya geleng-geleng kepala melihat tingkah Putri yang kayak anak kecil lagi kegirangan.


''Putri jangan lari lari kayak gitu, nanti jatuh bagaimana!'' teriak Bu Widya dari dalam rumah besar nya, yang terdengar sangat menggelegar, tapi yang di teriakin sudah sampai di halaman belakang bersama Mang Udin dan juga Bi Siti istri Mang Udin.


Mereka berdua memegang galah panjang untuk mengambil buah mangga uang ada di atas pohon tersebut. Namun Putri malah melipat gamisnya ke atas, dan di ikatkan ke perut ratanya.


''Mau ngapain neng?'' Tanya Bi Siti yang melihat Putri melipat gamisnya dan menyisakan celana leging panjang sampai mata kakinya.


Putri tak menjawab pertanya'an Bi Siti, namun Putri langsung saja memeluk pohon mangga dan dengan segera ia manjat ke atas pohon tersebut. Teriakan Bi Siti tak di hiraukan oleh Putri, dia tetap memanjat sampai ke atas, dan diapun duduk santai di atas dahan setelah mengambil satu buah mangga yang sudah hampir matang.


Bi Siti berlari ke dalam rumah besar, beliau memanggil sang nyonya.


''Nyonya... Nyonya!! panggil Bi Siti sambil berlarian.


''Ada apa Bi? teriak teriak kayak gitu, kayak di kejar dogi saja,'' tanya Bu Widya dari lantai atas.


''Nyonya... Anu nyonya, Ne... Neng Putri ada di atas pohon mangga Nya?'' jawab Bi Siti yang masih terlihat ngos ngosan, karena dia berlarian dari halaman belakang menuju ke rumah besar Aditama yang lumayan menguras tenaga banyak.


''Apa!!'' pekik Bu Widya yang buru buru turun dari lantai atas, semua asisten rumah nya pun mengikuti Bu Widya ke halaman belakang rumah nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2