
Sejak kedatangan orang tua Erlan ke rumahnya, Putri nampak bahagia sekali, karena untuk saat ini dia tidak merasakan kesepian lagi ketika berada di rumah nya.
Sedangkan Erlan sudah aktif kembali ke kantor nya, karena sudah beberapa hari mengambil cuti untuk menjaga istri kecilnya yang sedang sakit. Setibanya di kantor pekerjaan sudah menunggu di meja kerjanya, Erlan menarik nafas panjang melihat tumpukan berkas berkas yang harus ia kerjakan.
''Kapan selesai nya kalau banyak kayak gini pekerjaan ku,'' Gumam Erlan seraya menjambak rambut nya pelan.
Erlan nampak menyandarkan dirinya ke kursi kerjanya, beberapa kali dia menghela nafas dengan kasar seraya mengerjakan berkas berkas yang sudah menumpuk di meja kerjanya.
''Kalau kayak gini, aku harus memberi tahu Ibu dan Ayah di rumah, agar mereka tidak menghawatirkan aku di sini.'' Erlan kemudian mengambil ponsel nya di saku celananya, dan dia mencari nomor ponsel istri kecilnya. Erlan menekan tombol panggil ketika sudah menemukan nomor istri kecilnya.
Tut... tut .... tut....
Panggilan nya tersambung, dan tak harus menunggu waktu lama untuk Putri mengangkat telfon dari suami tercintanya.
-''Assalamu'alaikum,'' Ucap Putri di seberang telfon.
-''Waalaikum salam sayang? kamu lagi apa sekarang, sudah makan belum, terus obat nya sudah di minum belum,'' Erlan bertanya bertubi-tubi pada sang istri.
-''Mas? satu satu dong kalau nanya?'' jawab Putri kesal, namun sebisa mungkin dia berkata seramah mungkin sama suaminya. 'Ya Allah? kenapa akhir akhir ini Putri gampang kesal sich pada mas Erlan,' batinnya, mengeluhkan keluh kesah nya kepada sang Maha pencipta.
''Siapa sayang?'' tanya Bu Ristie yang membawa segelas susu di tangannya.
''Mas Erlan Bun? Bunda kok repot repot sich bikinin Putri susu, Putri kan bisa bikin sendiri Bun,'' Ujar Putri tak enak hati dengan perlakuan mertuanya. Ya walaupun kedua orang tuanya sudah naik haji tapi Putri dan Erlan belum memanggil bunda nya dengan sebutan Umi dan Abi, mungkin mereka masih canggung untuk mengganti panggilan yang selama ini ia pakai untuk kedua orang tuanya.
''Nggak apa kok sayang, bunda ikhlas kok melakukan ini untuk menantu Bunda?'' jawab Bu Ristie.
Sedangkan Erlan beberapa kali memanggil manggil istri nya, namun tidak ada jawaban juga.
''Telfonnya sudah mati belum, kayaknya masih ada suara dech,'' Bu Ristie mengingat kan menantunya kalau ponsel nya masih tersambung dengan orang.
__ADS_1
''Astagfirullah, Putri lupa?'' kata Putri setelah mengingat kalau suaminya yang sedang menelfon nya.
-''Maaf Mas? Putri ke asyikan ngobrol sama Bunda, jadi lupa kalau panggilan nya belum di putus,'' jelas Putri pada sang suami.
-''Nggak apa kok sayang, kasih ponsel nya pada Ibu, mas ingin ngomong sesuatu sama beliau,'' perintah Erlan pada istri kecilnya.
''Bunda? mas Erlan mau ngomong sama Bunda,'' tuturnya lembut seraya memberikan ponsel nya pada sang mertua.
-''Ada apa Le?'' tanya Bu Ristie pada Erlan.
-''Begini Bu? Erlan, mau titip istri Erlan dulu. Karena pekerjaan Erlan sudah numpuk jadi mau nggak mau Erlan harus lembur untuk menyelesaikan semuanya,''
-''Baiklah, kamu jangan khawatir pada istri kamu, ada Ibu yang akan menjaga dia di rumah, kamu selesaikan kerjaan kamu, dan cepat pulang setelah selesai mengerjakan?!'' kata Bu Ristie, agar sang putera tidak merasa khawatir mikirin istri kecilnya yang sedang hamil.
-''Makasih Bu? kalau gitu Erlan matiin ya telfon nya,'' sahutnya tersenyum, karena sudah merasa tenang dengan perkataan sang Ibu barusan.
''Suami kamu bilang titip istri tercinta-nya, karena dia bilang akan lembur hari ini,'' jawab Bu Ristie mengelus puncak kepala Putri.
''Pasti kerjaan mas Erlan banyak banget saat ini Bun, karena beberapa hari ini Mas Erlan menjaga Putri di rumah sakit?'' lirih Putri menatap Bu Ristie.
''Sudah kamu jangan pikirkan itu semua, lebih baik kamu sekarang menjaga kesehatan kamu dan juga calon cucu Bunda?''
''Iya Bun? tapi Putri merasa bersalah banget pada Mas Erlan Bun?'' kata Putri pelan.
''Erlan itu suami kamu, jadi sudah seharusnya Erlan menjaga kamu sayang?'' jelas Bu Ristie.
Pak Enggar akhirnya masuk ke dalam rumah, setelah puas mengobrol dengan penjaga rumah puteranya.
''Kalian lagi ngapain nich, kok Ayah nggak di ajak gabung sich?'' celetuk Pak Enggar dan mendudukkan diri di sofa depan istri beserta menantunya.
__ADS_1
''Ayah, tadi kan lagi asyik ngobrol sama Pak Joni di luar,'' sahut Putri yang masih tiduran di pangkuan Bu Ristie mertuanya.
''Oiya, Ayah sama Bunda mau jalan jalan nggak, kalau mau jalan jalan ayo Putri temani,'' tanya Putri bangun dari tiduran nya.
''Jangan sekarang nak? kamu masih belum sehat benar, lagian suami kamu juga sedang bekerja sekarang?'' jawab Pak Enggar, mertua laki-laki nya.
''Kalau nggak, kita ke depan saja Yah? kita duduk di sana sembari makan cemilan, mau nggak Yah, Bunda?'' tanya Putri lagi.
''Tapi jalan kaki saja kita ke sana ya Yah, nggak apa apa kan,'' lanjutnya lagi.
''Boleh, tapi nggak sekarang? nanti sore saja bagaimana,'' kata Pak Enggar.
''Kenapa harus nunggu sore sich Yah? kan lebih enak sekarang jadi kita sekalian makan siang di sana,'' serunya.
''Sekarang masih panas sayang? mungkin kata Ayah-nya kayak githu,'' jelas Bu Ristie karena takut menantunya sedih dengan penolakan mertua laki-laki nya.
''Ya sudah dech kalau gitu Putri istirahat saja, Bunda sama Ayah juga istirahat ya,'' Ujar Putri beranjak pergi melangkah ke kamar nya.
Sepeninggal Putri menantu nya, Bu Ristie mendekat ke arah suaminya yakni Pak Enggar.
''Ayah kok nolak kayak githu sich, Ibu takut Putri merasa sedih dengan penolakan Ayah tadi,'' tegur nya pada Pak Enggar.
''Ayah bukan nolak kayak githu Bu, tapi kasian juga menantu kita panas panasan jalan kaki ke depan, dia juga baru sembuh dari sakitnya,'' balas Pak Enggar yang di angguki oleh Bu Ristie. Tanpa sepengetahuan mereka berdua Putri tak sengaja mendengar obrolan kedua mertuanya.
Putri nampak menyunggingkan senyumnya, dia pun berbalik ke kamar nya, agar mertuanya tak sadar kalau Putri sudah mendengar obrolan nya tadi.
''Ternyata, kedua mertua ku sangat baik dan perhatian sama Putri, pantas saja putera nya begitu baik dan penyabar menghadapi kelakuan Putri akhir akhir ini, ternyata itu semua turunan dari kedua orang tua nya, terima kasih Bunda, Ayah, karena kamu telah melahirkan seorang putera yang baik hati, dan selalu rendah hati pada semua orang, terima kasih ya Allah?'' gumam nya pelan.
BERSAMBUNG
__ADS_1