Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 143


__ADS_3

''Pak, Bapak lihat laki-laki pegas tas hitam nggak, atau mungkin dia sudah keluar dari area parkir ini,'' jawab Yuna, sekaligus bertanya juga pada sang satpam yang juga bekerja di restoran, tempatnya ia bekerja.


''Tidak?'' jawab nya singkat.


''Ayo Pak, tolong bantu cari dia, ini sangat darurat sekali'' Ucap Yuna dengan rasa ke khawatiran nya, menengok kondisi Putri yang sudah pucat pasih.


''Coba aku panggil lewat pengeras saja kalau begitu,'' sahut sang satpam melangkah pergi.


Yuna masih mencari keberadaan Erlan beserta keluarga Putri lainnya.


''Maaf mbak? apa mbak kenal dengan Mas Erlan?'' tanya Yuna pada Sandra yang kebetulan berdiri di dekat pos satpam sambil telfonan dengan temannya.


''Iya, saya kenal dengan Erlan? emang ada apa ya mbak?'' bukannya menjawab pertanyaan Yuna, tapi Sandra malah tanya balik pada Yuna.


''Ya sudah, kalau gitu ayo mbak, bawa aku ke Pak Erlan, ini mendesak sekali,'' Ucap Yuna menarik tangan Sandra, karena Yuna sangat menghawatirkan keadaan Putri di dalam toilet.


''Mendesak kenapa sich! aku lagi telfonan ini,'' jawab kak Sandra ingin melepaskan tangan nya dari tangan Yuna, namun Yuna memegang tangan Sandra begitu erat.


''Ini masalah nyawa mbak, mbak Putri jatuh di toilet, sekarang keadaan dia cukup memperihatinkan mbak, ayo mbak tolong Yuna, untuk segera memberitahu Pak Erlan,'' jelas Yuna, dia sudah mengeluarkan air mata nya mengingat keadaan Putri.


''Apa kamu bilang, Putri jatuh di toilet!'' tanya kak Sandra dengan keterkejutan nya, dia menutup mulut nya dengan sebelah tangan nya.


''Dengan saudara Erlan, harap ke Pos panggilan, di karena kan ada hal yang penting?'' Ucap Pak satpam dengan pengeras suara yang ada di pos satpam.


''Erlan!!'' panggil kak Sandra, dia segera menghampiri Erlan yang duduk di dalam mobil milik bos nya.


''Erlan? kok kamu di panggil dengan pengeras suara, ada apa?'' kata Pak Daniel yang juga berada di dalam mobilnya.


''Nggak tau juga Pak?'' jawab Erlan.

__ADS_1


''Erlan? ayo kita ke toilet sekarang, Putri jatuh di sana!'' Ujar kak Sandra, namun sebelum Erlan bertanya lagi kak Sandra sudah melangkah pergi menuju toilet, ternyata di sana sudah ada beberapa orang, yang menemani Putri dan juga memberikan air minum untuk mengurangi rasa sakitnya.


Tadinya seseorang sudah memanggil rekan kerja nya untuk menggendong Putri dan segera di bawa ke rumah sakit, namun Putri menolak dengan alasan ingin menunggu suaminya yang sebentar lagi akan datang ke sini.


Pak Daniel dan Erlan membuka pintu mobil dan segera berlari ke arah yang di tuju Sandra barusan.


''Putri?'' sapa kak Sandra duduk di sampingnya seraya merangkul tubuh Putri yang sudah sangat lemas.


Putri tersenyum dan menjawab sapa'an kak Sandra, ''Kak Sandra?'' Ucapnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Sandra.


Sandra mengusap dahi Putri yang di penuhi dengan keringat dingin, Sandra juga mengusap perut Putri pelan seraya berkata, ''Dedek yang kuat ya di dalam sini, do'ain Bunda juga agar tidak terjadi apa apa pada Bunda dan juga dedek?'' Gumam nya.


''Mbak ini lagi hamil?'' tanya seorang yang tadi menemani Putri di dalam toilet.


''Iya dia sedang mengandung sekarang?'' jawab kak Sandra menaruh kepalanya Putri di dadanya.


''Tadi mau di anterin malah nggak mau?'' lanjut Erlan meng khawatirkan istri kecilnya.


''Erlan, sudah cepat angkat dia dan bawa ke rumah sakit sekarang juga, takutnya terjadi sesuatu sama kandungan nya dan juga pada Putri,'' Ucap Pak Daniel, yang langsung di angguki oleh Mas Erlan.


Mas Erlan mulai menggendong Putri, dengan langkah besarnya Erlan membawa Putri ke mobil, kak Sandra dengan cekatan langsung membuka pintu mobil Pak Daniel sangat kakak, Mas Erlan masih tetap menggendong ku dia menaruh tubuhku di pangkuannya.


''Mas? jangan nangis, Putri nggak apa apa kok, cuma lemas saja,'' Ucapnya lirih dan mencoba untuk tetap tersenyum pada suaminya yang sangat khawatir.


''Maafkan Mas sayang? Mas nggak becus jagain kamu hari ini,'' sesal Erlan yang telah membuat sang istri celaka.


''Ini bukan salah Mas Erlan kok, Putri saja yang nggak hati hati,'' Ucap Putri menenangkan suami tampan nya, agar tidak terlalu menghawatirkan nya. Putri menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang sangat hebat.


''Kak Sandra, boleh minta tisu nya,'' Ucap Mas Erlan menyodorkan tangannya ke arah Sandra yang berada di depan, di samping Pak Daniel yang mengemudi mobil nya.

__ADS_1


Nampak kak Sandra melihat ke belakang dan melihat darah segar yang keluar dari bibir Putri, ''Erlan? kenapa bibir Putri berdarah,'' tanyanya terkejut menatap ku, namun aku sudah memejamkan mata agar rasa sakitku tidak terlalu terasa.


''Entah lah kak, mungkin Putri menggigit bibir nya agar tidak bersuara di saat merasakan sakit,'' jawab Erlan mengelap darah yang terus keluar dari bibir bawahnya.


''Bang, cepat dong? lama banget sampai nya,'' gerutu Sandra pada sang kakak yang sedang sibuk menyetir.


''Jangan bicara terus, bisa bisa konsentrasi ku buyar dengerin kamu ngomel, lebih baik kamu telfon Mama. Kasih tau dia kalau kita berada di rumah sakit,'' kata Pak Daniel menyuruh sang adik agar menghubungi orang tuanya. Karena mereka semua sempat mengatakan akan menunggu nya di rumah besarnya, sekalian menunggu kedatangan calon menantu nya.


Tut... Tut... Tut...


''Angkat dong Ma?'' di saat kak Sandra sedang menunggu panggilan nya di angkat di meng gerutu nggak jelas, sampai akhirnya di seberang menjawab telfonnya.


''Halo? ada apa dek?'' tanya Bu Widya pada puteri bungsunya.


''Mama ada di mana sekarang!'' tanya Sandra balik pada sang Mama.


''Mama sudah sampai di rumah, kamu kenapa kok belom sampai di rumah,'' jawab Bu Widya dan balik tanya pada puteri kecilnya.


''Sandra sekarang lagi menuju ke rumah sakit Ma?'' Ucapnya dan menatap ke arah belakang, di mana Putri berada.


''Siapa yang sakit dek? Mama akan nyusul kamu sekarang!'' sahut Bu Widya di seberang telfon, sekaligus menutup sepihak telfon dari Putri.


''Mama... Ma? yah kok di matiin sich!'' kesal Sandra melihat ponselnya yang sudah mati.


Pak Daniel dan Mas Erlan sudah keluar dari mobil, Mas Erlan berlari membawaku ke dalam rumah sakit, tanpa mau menaruh ku di ranjang pasien yang sengaja di dorong oleh suster saat melihat ku di gendong.


Mas Erlan langsung membawaku ke ruang IGD, sang suster menatap ke arah Mas Erlan yang sudah menurunkan tubuhku di sana, mungkin dia kesal dengan Mas Erlan yang tak menghiraukan sang suster.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2