Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 110


__ADS_3

"Sudah jangan di pikirin lagi,yang kamu harus lakukan sekarang adalah menjaga kandungan nya dengan baik dari sekarang," pesan Bu Widya pada Putri yang sudah di anggap sebagai anaknya sendiri. Karena menurut Bu Widya Putri adalah seorang yang sangat berjasa di dalam hidupnya, karena Putri sudah menyadarkan Bu Widya dari perbuatan riyak.


''Bu, tolong ijinkan Putri pada Pak Daniel, besok Putri ijin nggak masuk kantor dulu, Putri akan mengunjungi Yayasan anak anak yatim, sebagai rasa syukur Putri yang sudah di beri kepercayaan untuk menjadi seorang Ibu,'' ucap Putri memegang kedia tangan Bu Widya.


Bu Widya tersenyum dan mengiyakan permintaan Putri, ''Baiklah, namun besok Ibu juga harus ikut kamu ke Yayasan tersebut,'' jawabnya memberi syarat.


''Oke dech, assiap kalau githu,'' Ujar Putri senang sembari menyunggingkan senyuman nya. Mereka berdua tertawa bersama di dalam kamar yang di tempati Putri sekarang.


Sandra yang mendengar suara tawa memutuskan untuk keluar dari kamarnya, dan mencari sumber suara tersebut, Sandra menuruni anak tangga satu persatu, setelah tiba di bawah Sandra menghampiri kamar tersebut, dia mana suara tawaan yang begitu familiar baginya, kenapa tidak, karena yang sedang tertawa adalah Mama nya dan juga Putri, entah mereka menertawakan apa, akupun tak tau pasti. Aku yang penasaran langsung saja membuka pintu kamar yang sedari tadi berisi canda dan tawa.


Kriiett.... Suara pintu di buka olehku, aku melihat Putri dan Mama sedang tertawa sembari berpelukan, ''Pelukan kok nggak ajak ajak Sandra sich,'' Ucapku merengut pura pura sedih.


''Mama kira kamu lagi tidur sayang, makanya Mama ke kamar Putri untuk ngobrol,'' sahut Mamaku.


''Ya sudah, sini peluk,'' Seru Putri merentangkan kedua tangannya pada Sandra, Sandra segera menghambur memeluk Putri dengan erat, Putri yang di peluk hanya bisa mengelus punggung Sandra.


''Mama sangat senang melihat kalian bisa akur kayak gini, dan Mama harap kelak kalau Mama dan Papa sudah tiada kalian semua tetap akur kayak gini,'' Ujar Bu Widya sedih, sedangkan di pelupuk matanya sudah mulai mengembun.


Sandra dan juga Putri menghambur memeluk Bu Widya yang sekarang sedang bersedih. Putri berkata, ''Ibu nggak boleh ngomong kayak githu, Putri do'a kan semoga Ibu dan juga Bapak selalu sehat dan di beri umur yang panjang,'' sahut Putri mulai meneteskan air matanya.


''Iya, Mama nggak boleh ngomong kayak githu lagi, kalau sampai ngomong githu lagi, Sandra nggak mau ngomong sama Mama,'' jelas Sandra memeluk sang Mama sembari menangis.


''Sudah sudah, kalian kok nangis kayak gini sich, Mama kan hanya berpesan sama kalian berdua, melihat kalian berdua akur kayak gini perasaan Mama bahagia dan juga adem lihatnya,'' jelas Bu Widya, mengusap air mata Putri dan Sandra sang Putri bungsu.


''Sudah jangan nangis lagi, jelek tau kalau nangis,'' ledek Bu Widya yang spontan membuat Sandra menggembungkan pipinya, Putri yang melihat Sandra cemberut hanya bisa mentertawakan nya, Bu Widya juga demikian mentertawakan sang Putri.


''Ich...., sebel dech, malah ngetawain aku githu,'' celetuknya dan beranjak dari tempat duduk nya, Sandra keluar dari kamar dengan menghentak hentakkan kakinya karena kesal, layaknya seorang anak kecil yang sedang kesal pada Mama nya karena tak di belikan mainan. Hehehe...

__ADS_1


Jam lima sore Erlan datang ke rumah Bu Widya dengan mengendarai motor sport milik Zein, sahabat Putri dari kecil.


Di perjalanan pulang dari kantor Erlan tak sengaja bertemu dengan Zein bersama istri nya yang sedang kerepotan membawa barang belanjaan nya.


''Heyy, Erlan!!'' sapa Zein sedikit berteriak karena kebetulan sedang banyak pengguna motor yang lewat, sehingga jalanan sedikit bising dengan suara suara motor motor yang lewat.


''Ech lho Zein?'' sahut Erlan menghentikan motor matic nya.


''Ech, lho mau kemana Lan, kok bisa lewat jalan sini,'' tanya Zein penasaran setelah berada di samping Erlan.


''Och, aku mau menjemput istri ku di rumah Pak Bos,'' jawabnya sedikit tersenyum.


''Ya sudah, kalau gitu kita tukeran motor dulu saja ya, susah nich bawanya,'' kata Zein turun dari atas motor nya. Sedangkan Rini hanya menjadi pendengar yang baik untuk kedua orang di depannya.


Setelah Erlan mengambil alih motor sport Zein, Erlan segera menyalakan mesin motor nya seraya berkata, ''Ya


Putri yang melihat motor sahabat nya di naiki sang suami tak lantas langsung bertanya pada suami nya, melainkan Erlan sang suami sendiri yang harus menjelaskan padanya.


''Nanti aku ceritakan, kenapa aku bisa bawa motor Zein,'' Ucap Erlan pada istri nya, Erlan langsung mengerti akan tatapan istri kecilnya.


''Ya sudah masuk yuck, masak langsung pulang gitu saja kan nggak sopan,'' kata Erlan cengengesan dan mengelus pelan perut Putri sang istri.


Putri mengangguk pelan dan menggandeng tangan Erlan, Bu Widya dan juga Sandra sedang berada di ruang tamu, Daniel dan juga suami Bu Widya belum juga pulang, karena masih ada meeting di tempat lain.


''Assalamu'alaikum Bu,''


''Waalaikum salam,'' jawab Bu Widya dan juga Sandra hampir bersamaan.

__ADS_1


Erlan mencium punggung tangan Bu Widya, dan menyalami Sandra juga.


''Baru sampe Lan,'' tanya Bu Widya.


''Iya Bu, maaf kalau Erlan merepotkan Bu Widya seharian ini,'' kata Erlan menundukkan kepalanya.


''Ibu nggak repot kok Erlan, Ibu malah senang kalau Putri tinggal di sini,'' sahut Bu Widya.


''Iya Lan, biar Sandra ada teman ngobrol di rumah,'' timpal Sandra.


''Putri kan juga harus bekerja Bu,'' sahut Putri pelan.


''Gimana kalau kamu ambil cuti saja dari sekarang,'' usul Bu Widya.


''Kalau Putri ambil cuti dari sekarang, berarti kuliah Putri akan nambah 1 tahun lagi dong Bu?'' tambah Putri lagi.


Sandra mengangguk mengerti, ''Ya sudah, kamu nggak apa apa lanjutin kerjanya, namun jangan terlalu di forsir ya, jangan terlalu lelah, nanti aku akan bilang sama Abang,'' kata Sandra.


''Nggak usah sampai segitunya lah kak, nggak enak juga pada teman yang lain di kantor, namun yang Putri khawatirkan, semua teman teman di kantor pada nggak tau kalau Putri sebenarnya sudah punya suami,'' jelas Putri.


''Gimana ceritanya mereka pada nggak tau kalau kamu sudah menikah,'' cecar Sandra penasaran.


''Sebenarnya aku sendiri yang nggak bilang, lagian kan nggak ada yang nanya juga, jadi ngapain juga Putri harus memberitahu pada mereka semua,'' jawab Putri memberi alasan yang sesungguhnya pada Sandra.


Sandra mengangguk pelan, sedangkan Bu Widya hanya menjadi pendengar yang baik.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2