
''Bagaimana dengan rapatnya Bos,'' Ucap Erlan sopan, sedangkan Putri sudah mulai lemas di rangkulan Erlan, Erlan segera menggendong sang istri sembari menunggu jawaban dari sang Bosnya.
''Kalau kamu mau ikut rapat silahkan, biar saya saja yang jaga Putri,'' jawab Daniel singkat.
Erlan membelalakkan matanya, karena terkejut dengan jawaban sang Bos.
''Erlan, cepat bawa Putri ke ruangan yang di suruh Pak Daniel, kasian dia,'' potong sang sekretaris ketika Erlan mau mengatakan sesuatu lagi.
''Baik, Bu,'' sahut Erlan melangkah pergi menuju ke ruangan yang di perintahkan sang Bos tadi.
Dalam perjalanan Erlan tak hentinya berbicara pada sang istri, namun tak mendapatkan respon apapun dari Putri sang istri.
''Kamu kenapa sayang? maafkan Mas yang tak tau kalau ternyata kamu lagi sakit, Mas yang udah paksa kamu untuk berangkat ke kantor tadi pagi,'' Lirih nya seraya mengecup kening sang istri setelah Erlan meletakkan di ranjang, di mana Daniel kalau sedang rehat dari kerjanya.
Tak semua karyawan bisa menempati ruangan tersebut, Erlan sendiri kaget setelah mendengar perkataan sang Bos yang menyuruh untuk di bawa ke ruangan peristirahatan nya. Sejenak Erlan berfikir kenapa sang Bos menyuruh nya untuk membawa sang istri kesini.
Putri mengerjapkan matanya, melihat ke sekeliling tempat yang ia tempati sekarang ini, lalu dia menoleh ke arah sang suami. ''Mas?'' lirih nya.
Erlan yang mendengar langsung mendongak kan kepalanya, menatap wajah sang istri yang terlihat pucat.
''Mas, kita ada di mana,'' tanya Putri mencoba untuk bangun dari tidur nya.
''Kita di ruangan Pak Bos sayang??'' jawab Erlan lembut sembari mencium kening sang istri.
''Kamu mau kemana,'' tanya Erlan ketika melihat sang istri mau turun dari tempat tidur.
''Mas, kayaknya nggak sopan banget dech kita berada di sini, ini tempat Pak Daniel untuk istirahat,'' Gumam Putri menyambut uluran tangan Erlan.
''Terus kita mau kemana sayang, nanti Pak Bos marah kalau kamu nggak ada di sini,'' kata Erlan menghentikan langkah sang istri.
Putri menuntun Erlan keluar dari ruangan tersebut, Putri lebih memilih tiduran di sofa dari pada berada di ruangan istirahat sang Bos.
Tanpa Erlan dan Putri sadari, ternyata ada dua orang tiba-tiba masuk ke ruangan sang Bos.
''Kalian kok pada ada di sini sich, nggak kerja Erlan, Putri,'' tanya Bu Widya.
Iya ternyata yang nyelonong masuk tanpa ngetuk pintu adalah Mama Daniel sang Bos.
__ADS_1
''Maaf Bu, saya sedang ngejaga Putri di sini, tadi Pak Bos nyuruh bawa Putri ke ruangan nya,'' jelasnya.
Bu Widya tertegun, ''Apa terjadi sesuatu pada Putri,'' tanya nya khawatir.
''Nggak apa apa kok Bu, Putri hanya merasa ngantuk saja tadi,'' sahut Putri.
''Tadi istri ku ping...'' Ucapan Erlan terhenti karena bibir sang suami di tutupi oleh Putri.
''Putri beneran nggak apa apa kok Bu?'' lanjut Putri.
Tak berapa lama setelah Putri berucap, pintu ruangan di ketuk dari luar.
''Masuk!!'' Ucap Sandra. Sandra adalah adik bungsu Daniel yang kebetulan juga mau ikut karena sudah kangen juga pada Putri, ketika tadi sang Mama bilang mau menemui Putri di kantor sang Abang, Sandra merengek minta ikut.
''Dokter? siapa yang sakit,'' tanya Sandra kaget ketika melihat dokter keluarga nya datang ke kantor sang Abang.
''Tadi Pak Daniel nelfon Aisyah, di suruh cepat datang ke kantor, dia bilang karyawan nya ada yang pingsan,'' jelas sang dokter pada Sandra dan juga Bu Widya.
Sandra dan Mama nya langsung menoleh pada kedua sejoli yang sejak tadi berduaan di ruangan Daniel.
Erlan hanya mengangguk pelan.
'Selalu saja aku merepotkan mereka, padahal aku hanya ngantuk, bukannya pingsan,' Batin Putri meremas ujung hijabnya.
''Dokter cepat periksa sekarang,'' Ucap Bu Widya tiba-tiba, menuntun dokter Aisyah menuju ke sofa yang di duduki Putri saat ini.
''Putri nggak apa apa kok Bu, beneran?'' ucap Putri pada Bu Widya.
Sang dokter langsung menyuruh Putri untuk berbaring, dan langsung memeriksa tekanan darah beserta suhu badannya, ''Semuanya normal,'' kata dokter Aisyah pelan.
Dokter Aisyah menaruh stetoskop di dada Putri seraya bertanya pada Putri, ''Terakhir Men(datang bulan) kapan,''
Putri masih berfikir, ia lupa kalau dirinya sudah telat 1 bulan lebih.
''Kira kita 1 bulanan dok,'' jawab Putri ragu ragu.
Dokter Aisyah mengangguk pelan tanda mengerti ucapan Putri, lalu kemudian sang dokter mengambil Test Pack dari dalam tasnya.
__ADS_1
''Coba pakai ini,'' memberikan test pack pada Putri.
''Maksud dokter? Putri sedang hamil,'' tanya Bu Widya bahagia.
''Belum pasti Bu, makanya aku nyuruh mbak Putri untuk tes urine dulu,'' jawabnya.
Dengan langkah gugup Putri menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan Daniel, sebenarnya Putri ingin pergi ke toilet karyawan di luar, namun Bu Widya langsung menuntun Putri menuju toilet pribadi Puteranya.
''Ayo masuk, jangan lama lama, Ibu penasaran dengan hasilnya,'' ucap Bu Widya dengan antusias.
Putri melangkahkan kakinya ke dalam toilet, menempatkan urine nya di wadah yang dokter kasih barusan padanya.
Setelahnya Putri menempatkan test pack di wadah tersebut, kini dia menunggu hasilnya dengan harap harap cemas.
''Ya Allah, semoga saja garis dua,'' Gumam nya sembari menunggu hasilnya.
Sedangkan di luar toilet, Erlan dan juga Bu Widya mondar-mandir nggak jelas.
''Lama banget Putri di kamar mandi nya sich,'' tukas Bu Widya yang sudah tak sabaran menunggu Putri keluar.
''Mama tenanglah, Putri di dalam belum lahiran, kenapa mondar-mandir nggak jelas gitu sich,'' celetuk Sandra yang sudah ngeh melihat sang Mama yang sedari tadi mondar-mandir.
Di dalam toilet Putri meneteskan air matanya, karena hasilnya adalah garis dua, yang berarti saat ini dia sedang hamil. ''Alhamdulillah,'' ucap Putri merasa bersyukur pada yang Maha Kuasa. Diapun tanpa sengaja mengelus perutnya yang masih rata.
Putri membuka pintu membuat Bu Widya langsung beranjak dari tempat duduk nya, ia menghampiri Putri dengan pertanyaan pertanyaan.
''Gimana sayang,'' tanya nya merangkul Putri yang sudah ia anggap sebagai anaknya.
Putri memberikan test pack yang di bungkus dengan tisu pada Bu Widya sembari mengulas senyum.
Bu Widya membuka bungkusan dan ia melihat test pack yang garis dua, ''Kamu hamil sayang,'' tanya Bu Widya bahagia, Putri hanya mengangguk dan terus tersenyum.
Erlan yang mendengar segera menghampiri sang istri yang berada tak jauh darinya, Erlan memeluk Putri seraya berkata, ''Beneran sayang??'' tanya nya. Lagi lagi Putri hanya mengangguk.
Bu Widya memeberikan test pack yang ia pegang pada dokter Aisyah, ''Beneran ini Dok?''
BERSAMBUNG
__ADS_1