Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 152


__ADS_3

Mereka semua akhirnya pindah ke ruang keluarga yang emang di bikin luas oleh Putri, mereka berkumpul di sana bercanda tawa sama semua nya, pertama kali bertemu dengan puteri dan putera tuan besarnya, mereka berdua empat merasa canggung, namun karena anak anak tuan besar beserta istri nya begitu ramah pada karyawan kantor nya, akhirnya mereka semua ikut berbaur dan bercerita tentang keseharian Putri di kantor nya, yang petakilan, suka joget joget nggak jelas juga.


Anggia yang mendengar tingkah laku adik angkat calon suaminya pun tertawa terbahak-bahak, ''kakak nggak nyangka lho dek? kamu kayak gitu, semoga ponakan kita nggak ikut kamu ya,'' Ujarnya yang terus tertawa terbahak-bahak.


''Benar banget itu kak? Putri emang cewek petakilan, masak ia, dia manjat pohon mangga yang ada di belakang rumah itu kak,'' kak Sandra menimpali.


''Mama di bikin panik kelakuan nya, untung Mama nggak jantungan?'' tambahnya lagi, yang membuat Bu Weni, kak Rini, kak Iroh dan kak Intan kaget mendengar nya.


Kak Rini yang kepo akhirnya bertanya pada kak Sandra, ''Maaf Nona? siapa yang hamil?!'' tanya nya penasaran.


''Putri kan sedang hamil sekarang,'' jawab kak Sandra santai, dia tak menghiraukan kedipan mata Putri padanya.


''Hamil sama siapa Putri, jangan bilang kemarin waktu muntah muntah di perusahaan itu dia sedang hamil,'' sambung kak Intan, mengingat kejadian bulan lalu yang membuat Pak Erlan dan juga sang CEO sangat perhatian sama Putri.


''Putri, kok kamu nggak pernah bilang kalau kamu sedang hamil?'' tanya kak Rini sedikit kecewa mendengar kebenaran kalau Putri sedang hamil sekarang.


''Maaf kak Rini, bukannya Putri mau nyembunyiin kehamilan Putri, tapi Putri nggak mau kalian men istimewakan aku, gara-gara kalian tau kalau Putri hamil,'' lirih nya, Putri menundukkan kepalanya karena merasa bersalah pda rekan kerjanya.


Rini menghampiri Putri yang masih menunduk, Rini mengelus ngelus punggung Putri dengan lembut seraya bertanya, ''Kalau boleh tau, siapa suami kamu Putri?''


''Kalian nggak tau siapa suami Putri?'' tanya Bryan heran. ''Suami Putri satu kantor lho sama kamu,'' lanjutnya, yang semakin membuat rekan Putri tambah penasaran.


Sedangkan Bu Widya dan juga Bu Ristie lagi sibuk di dapur mempersiapkan menu makan malam, ''Emang rekan kerja Putri pada nggak tau ya nyonya, kalau Putri dan Erlan suami istri?'' tanya Bu Ristie yang sempat mendengar obrolan anak anak muda di luar.


''Putri sengaja menyembunyikan pernikahan nya Bu? mungkin dia nggak mau orang tau, kalau dirinya di terima kerja kerja di sana gara-gara punya suami yang juga kerja di sana?!'' jelas Bu Widya yang mengetahui alasan Putri menyembunyikan pernikahan nya dari rekan kerjanya.

__ADS_1


''Och...?'' jawab Bu Ristie membulat kan bibir nya.


''Assalamu'alaikum?'' ucap Erlan dan juga tuan Daniel yang sengaja mampir ke rumah Putri.


''Waalaikum salam?'' jawab orang orang dari dalam serempak.


Pak Seno dan kedua rekannya berdiri menyambut kedatangan CEO nya.


''Tuan muda?'' sapa pak Seno ramah.


''Kalian juga ada di sini!'' tanya tuan Daniel dingin.


''I...Iya tuan? kami ingin menjenguk keadaan Putri?'' jawab Pak Seno gugup.


''Papa belum pulang juga, dari tadi siang berada di sini,'' tanya tuan Daniel yang duduk menyilangkan kedua kakinya seraya menyandarkan bahu nya ke sandaran sofa.


Di sisi lain Khumairoh membantu Bu Ristie dan juga Bu Widya di dapur, setelah tadi sempat pergi ke toilet yang berada di samping dapur, akhirnya Khumairoh memutuskan untuk membantu nya.


''Mas? sudah pulang,'' tanya Putri beranjak dari duduk nya dan menghampiri sang suami yang baru pulang kerja.


''Iya sayang?'' jawabnya mengecup kening istri kecilnya setelah Putri mencium punggung tangan Erlan suaminya.


''Jadi pak Erlan suami Putri?'' gumam Bu Weni yang masih di dengar yang lainnya.


''Ibu di mana sayang?'' tanya Erlan setelah menyapa rwian oerja sang istri.

__ADS_1


''Bunda di dapur Mas? sama ibu, mungkin mereka lagi masak,'' jawab Putri yang menoleh ke arah dapur, sekilas Putri melihat Khumairoh juga berada di dapur.


''Ada perlu sama Bunda, biar Putri panggilin,'' lanjutnya, namun Erlan menggeleng kan kepalanya.


''Nggak nggak, biar Mas saja yang nyamperin Ibu, Mas nggak mau ya kamu muntah muntah lagi,'' titahnya yang membuat Putri menggembung kan pipi chubby nya.


''Kamu lanjut lagi saja ngobrol sama yang lain, Mas ke dapur dulu? sekalian Mas ke kamar mau mandi biar wangi saat di cium istri cantiknya Mas?'' bisiknya yang membuat pipi Putri memerah merona. Putri menepuk lengan Erlan dan berlalu meninggalkan suaminya yang masih berdiri di tempat nya, Erlan tersenyum dan melangkah menuju ke dapur untuk memberi tahu sang Ibu, agar membuat minuman untuk tuan Daniel.


''Erlan? butuh sesuatu,'' tanya Bu Widya.


''Maaf sebelumnya Bu, Erlan cuma mau bilang bikinin minuman buat pak Daniel di ruang tamu,'' jawabnya yang langsung di angguki oleh Bu Widya yakni Mama tuan Daniel.


Selepas kepergian Erlan, Khumairoh menawarkan diri untuk membuat minuman yang di pesan Erlan barusan, ''Biar Khumairoh saja yang bikin nyonya,'' Ujar nya lembut.


''Baiklah, kopi nya satu sendok, dengan 2 sendok gula di tambah krimernya 2 sendok,'' Ucap Bu Widya memberitahu Khumairoh. Khumairoh melakukan apa yang di ucapkan oleh Bu Widya, di rasa sudah pas Bu Widya mengangguk dan menyuruh mengantarkan ke depan.


''Sekarang kamu antarkan ke ruang tamu,'' titah Bu Widya yang membuat Khumairoh ragu dengan perintah Bu Widya.


''Nggak usah takut, Daniel nggak makan orang kok,'' katanya membuat Bu Ristie dan Khumairoh tersenyum, mau tak mau Khumairoh yang mengantarkan kopi buat tuan Daniel.


Berbagai bacaan ia baca di dalam hati agar tak merasa gugup, Khumairoh membawa kopi tersebut ke ruang tamu. Khumairoh menunduk dan dengan berlutut dia menaruh cangkir yang berisi kopi buat sang tuan.


''Silahkan di minum tuan?'' Ucap Khumairoh pelan, seraya undur diri dari ruang tamu.


Di ruang tengah Bu Widya sedang menggelar karpet dengan di bantu Rini dan yang lainnya, kemudian mereka pun membawa makanan dan di letakkan di atas karpet berwarna ungu tersebut. Setelah siap barulah Bu Widya menyuruh yang lain untuk makan malam bersama di kediaman Putri, anggap saja syukuran atas kesehatan Putri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2