
Erlan yang mengerti rasa takut sang istri, mulai mengendur kan pelukan nya dan meminta maaf pada Putri, Erlan pun bergegas melangkah pergi keluar dari kamarnya.
Erlan menggerutuki kesalahan nya yang secara spontan ia lakukan pada istri kecilnya, ''Aku tak boleh seperti ini terus, ini membuat istri kecilku ketakutan,'' Gumamnya pelan.
''Istri nya mana Lhe,'' tanya Pak Amin sang Mertua.
''Masih ganti baju Pak,'' jawab nya menduduk kan diri di ruang tamu.
Di dalam kamar Putri yang sudah selesai memakai baju nya, memandangi lehernya yang tadi di gigit oleh suaminya.
Putri memegang tanda merah di leher nya seraya bergumam. ''Keterlaluan banget nggak sich aku ini sama kak Erlan, apa kak Erlan marah karena aku tak menuruti kemauan nya, tapi aku harus bagaimana, aku masih malu banget,'' gumam nya pelan sambil memakai hijab panjang nya.
Setelah di kira semua nya sudah, Putri beranjak dari duduk nya dan bergegas menyusul suami nya yang dari tadi keluar dari kamar nya.
Putri melihat Erlan sedang mengobrol dengan Ayahnya di ruang tamu, lantas menghampiri nya dan duduk di samping Erlan.
''Sudah selesai?'' tanya Erlan lembut.
Putri mengangguk seraya berkata, ''Sudah kak,'' jawab nya pelan.
''Ya sudah kita langsung sarapan saja, kalian kan sebentar lagi akan berangkat,'' ajak teman Pak Amin pada kedua nya.
Erlan dan Putri mengangguk dan mengikuti langkah Pak Amin ke meja makan.
Tak berselang lama setelah mereka sarapan pagi, mobil travel yang di pesan Putri datang dan sudah menunggu di teras rumah nya.
Bu Yuni membuatkan segelas teh hangat buat sang sopir yang akan mengantar Puteri nya kembali ke Jakarta.
Putri dan juga Erlan sudah bersiap siap di dalam kamar nya.
Pak mengobrol dengan supir travel yang kebetulan masih saudara jauhnya Pak Amin.
''Aku titip Puteri ku, jangan ngebut ngebut bawa mobilnya, pelan pelan asal selamat,'' pesan Pak Amin pada saudara nya.
''Aku juga tau Mas, bagaimana punya juga Putri masih keponakan ku.'' jawab nya.
Putri membawa tas jinjingnya sedangkan Erlan menarik koper yang berisi baju bajunya serta oleh oleh untuk para Ibu Ibu yang bekerja di rumah Catering nya.
__ADS_1
Tak lupa pula Putri membelikan juga buat sahabat dan juga temannya yang sudah bersedia membantu nya selama dia tinggal pergi.
''Mau berangkat sekarang,'' tanya Pak Dhe nya yang akan menyopiri Putri dan juga Erlan.
''Habisin dulu teh nya Pak Dhe,'' Ucap Putri sedangkan Erlan membuka bagasi mobil untuk menaruh barang bawaan nya di dalam.
''Kalau mau berangkat sekarang ayo,'' Ajaknya lagi sang Pak Dhe.
Erlan mengangguk seraya berkata, ''Ya sudah ayo Pak Dhe,'' jawab nya.
''Biar nggak terlalu macet,'' tambah nya.
Sang sopir yang panggil Pak Dhe beranjak dari duduk nya setelah menghabiskan teh hangat nya.
Putri dan juga Erlan berpamitan pada Bu Yuni dan juga Pak Amin, mereka berdua mencium tangan Bu Yuni dan tangan Pak Amin.
''Putri pamit Pak, Bu? jaga diri baik baik ya,'' pesan Putri memeluk sang Ibu.
''Iya Nak, Tole aku titip puteri Ibu sama kamu ya, tolong jagain dia untuk Ibu,'' pesan Bu Yuni pada menantu nya.
Erlan mengangguk dan berkata, ''Iya Bu, Erlan akan menjaga nya dengan baik, Ibu dan Bapak juga sehat sehat ya di sini,'' Sahut Erlan lalu melangkah pergi menuju mobil travel nya.
Erlan memilih duduk di bangku samping sang sopir, karena Erlan merasa tak enak hati kalau dia duduk di belakang bersama istri kecilnya.
Karena yang menjadi sopir masih Pak Dhe dari istri nya.
Erlan mengajak ngobrol Pak dhe nya untuk sekedar bertanya tanya.
''Setiap hari nya kerja apa saja Pak,'' Tanya Erlan memulai pertanyaan nya.
''Ya kalau nggak ada orderan paling bapak ke sawah saja Lhe,'' jawab nya masih fokus pada jalanan di depannya.
''Kalau di Jakarta banyak Pak, emangnya nggak mau pergi ke sana,'' tanya Erlan lagi.
''Nggak lah Lhe, lebih nyaman tinggal bareng keluarga di rumah, walau cuma makan tahu tempe kalau bersama keluarga lebih enak saja, dari pada berjauhan,'' jawab nya menjelaskan.
''Iya juga ya Pak, walau agak susah tapi kalau berkumpul emang lebih enak dan nyaman juga,'' Ucap Erlan mengangguk ngangguk kan kepala nya.
__ADS_1
Putri yang berada di belakang nya hanya menjadi pendengar yang baik, dan sesekali dia menengok ke depan guna melihat suami nya yang akan berkata ngawur.
''Menurut kamu gimana sayang?'' tanya Erlan tiba-tiba pada sang istri.
''Apanya yang gimana kak,'' tanya balik Putri.
''Berkumpul dengan keluarga enak nggak,'' tanya lagi Erlan.
''Ya menurut kak Erlan sendiri gimana, kan kak Erlan sudah pernah merasakan semua itu,'' tanya balik istri nya.
''Ich, sayang? kan kakak nanya sama kamu, kenapa harus tanya balik kaya gitu sich,'' jawab Erlan kesal.
Putri tak lgi menjawab pertanyaan dari suami nya, karena menurut Putri Erlan sudah tau apa jawaban nya.
Putri memilih memejamkan matanya hanya untuk menghindari pertanyaan pertanyaan dari sang suami.
Pak dhe nya hanya melihat mereka berdua sebentar lalu kembali fokus pada jalanan yang lenggang.
Tanpak jalanan begitu sepi sehingga Pak dhe Putri menambah kecepatan nya lagi, agar segera sampai ke tempat tujuan.
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
*Di Jakarta*
Reno dan juga Zein seperti biasanya, menjaga rumah Catering sahabat kecilnya. Sering kali Zein ikut serta mengirim makanan dan mengecek bahan makanan yang datang sesuai pesanan dari Putri.
Ibu Ibu yang bekerja di rumah Catering nya pun, lebih semangat lagi dalam bekerja, mereka tak lantas males malesan sepeninggal Putri kemarin.
Karena Putri sudah sangat percaya pada Ibu Ibu yang bekerja di sana, Putri tak pilih kasih pada setiap pekerjanya.
Putri selalu Adil dalam segala hal kepada para pekerja nya. Jadi Ibu Ibu yang bekerja juga sudah menganggap Putri sebagai anak sendiri, jadi para Ibu Ibu tak pernah saling suruh menyuruh pada yang lainnya juga.
Menurut salah satu Ibu yang bekerja pun lebih enak bekerja di rumah Catering Putri, tanpa target dari sang pemilik rumah Catering.
Sedangkan yang lain hanya membayar upah mereka sesuai target dari kemampuan mereka yang bekerja.
Banyak Ibu Ibu yang ingin bekerja di rumah Catering Putri, namun Putri sudah tak membutuhkan pekerja lagi.
__ADS_1
Zein dan Reno memasukkan bahan makanan yang akan di masak besok, dengan di bantu oleh Pak Santo dan juga kedua pekerja nya yang lain.
BERSAMBUNG