Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 128


__ADS_3

Fania terus menatap ke arah Putri yang sedang sibuk dengan makanannya. Putri yang tau kalau ia di tatap oleh teman sekantor nya hanya pura pura bodoh, ia terus melahap habis makanannya sebelum pesanan suaminya datang.


"Sudah habis sayang?" Tanya Erlan terkejut, sekaligus menggelengkan kepalanya.


"Lahap banget kamu makannya sayang?" Lanjut Erlan yang tak mendapatkan respon dari sang istri.


"Maaf Pak, Bu, ini pesanan anda," Ucap Pak Tekno.


"Sayang, kamu mau makan lagi," Tanya Erlan lembut melihat sang istri meminum teh hangat nya.


"Nggak ach, nanti Putri gendut lagi!" Jawabnya yang membuat semua pengunjung tertawa terbahak bahak.


"Maaf ya sebelumnya, bukan nya aku menggurui kamu, tapi kalau wanita hamil itu nggak apa apa gemuk asal itu semua demi janin yang ada di dalam perut kamu sekarang? gumam Fania pada Putri. " Oia, sebelumnya kita belum kenalan kan, sekarang kita kenalan yuk? Biar kita tambah dekat di kantor, saya Fania Azzahra, panggil saja Fania," Lanjut Fania mengulurkan tangannya pada Putri.


Putri dengan senang hati menerima uluran tangan dari Fania, seraya berkata. "Saya Anastasya Putri, teman temanku memanggil Putri," Jawab Putri melepaskan jabatan tangannya.


"Kakak makan saja dulu, nanti keburu dingin malah nggak enak lho," Kata Putri pada semuanya, yang langsung di angguki oleh ketiganya.


"Mas Erlan? Putri minta uang dong," Bisik Putri pada suaminya yang sedang makan.


"Mau beli apa sayang? Kamu tinggal pilih saja apa yang kamu mau, nanti Mas yang akan bayar," Sahut Erlan yang seketika membuat Putri cemberut.


"Putri nggak mau yang di sini Mas, tapi Putri yang di sana?" Tunjuk Putri pada tukang penjual bubur di seberang jalan.


"Biar Mas yang bilang pada orangnya ya," Kata Erlan agar Putri tidak pergi sendiri.


Erlan beranjak dari duduknya dn melangkah menuju ke tukang bubur kacang hijau yang tak begitu jauh tempatnya mangkal, hanya saja berseberangan saja.


Beberapa menit Mas Erlan datang dengan membawa semangkuk bubur kacang hijau yang masih mengebul.

__ADS_1


"Ini sayang?" Ucap Erlan menaruh bubur tersebut di depan istri kecilnya itu, mood makannya sedang membaik, makanya apapun yang di minta oleh Putri akan ia belikan asalkan di makan sama sang istri.


"Istri kamu makannya banyak juga Lan?" Ucap ninoy tiba-tiba, karena terkejut dengan porsi makan Putri.


"Iya alhamdulillah, mungkin lagi mood nya makan banyak, kemarin kemarin jangankan makan, mencium bau bawang saja sudah muntah-muntah," Jawab Erlan meneruskan makannya.


"Ini enak sekali, besok besok kita kesini lagi oke?" Ajak Putri yang di angguki oleh Erlan suaminya.


"Asalkan sayang suka, Mas juga suka kok?" Sahut Erlan mengelus puncak kepala istri kecilnya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, ya Ibu kecil pastinya, hehehe.


"Oia, kalian jangan kasih tau pada orang orang di kantor ya," Mohon Erlan pada kedua rekan nya, seraya menangkup kedua tangan di depan wajahnya.


"Iya, kamu tenang saja, aku nggak ember kok, nich dia yang ember banget thu mulut, harus di sumpal dengan sepatu," Ujar Fania menunjuk ke arah Nino yang emang nggak suka ngegosip, padahal cowok tapi kok hobinya ngegosip!.


"Tenang saja Fania, kalau Nino sampai membocorkan perihal ini, gue lempar ke laut sekalian, biar di makan paus juga di sana!" Sahut Erlan yang membuat bulu kuduk Nino berdiri.


Kedua rekan kerja Mas Erlan sudah selesai dengan makanannya, kini tinggal Putri seorang yang belum kelar dengan bubur kacang ijo nya.


"Ech Lan? Gue balik dulu ya, sudah larut banget ini, besok ketemuan di kantor kita??" Pamit Nino yang sedari tadi cengengesan.


"Oke, hati hati di jalan," Sahut Mas Erlan.


"Gue juga balik dech kalau githu Erlan, kalau Gue tetap di sini bakalan jadi obat nyamuk dech," Kata Fania beranjak dari tempat duduk nya.


"Putri gue balik dulu ya, besok kita ngobrol di kantor," Pamit Fania pada Putri yang duduk di samping Erlan.


"Oke kak? hati hati di jalan ya," Jawab Putri melambaikan tangannya saat Fania menaiki mobilnya.


"Mbak Fania masih sendiri ya Mas?" Tanya Putri yang di angguki Erlan.

__ADS_1


"Masak sich Mas? Kan mbak Fania cantik githu," Lanjut Putri, karena jiwa keponya mulai meronta rintangan ingin tau keperibadian Fania, rekan kerja suami nya.


"Jawab dong Mas? Ich... Kesel dech," Celetuk Putri di saat sang suami hanya mengangguk pelan.


"Terus Mas harus jawab apa sayang? sedangkan Mas saja tidak tau menau keseharian dia, Mas dan Fania hanya bertemu di kantor, bertegur sapa? Juga kadang-kadang, kalau itu penting menurut Mas." Jelas Mas Erlan, Putri berpikir sejenak sampai akhir mengangguk anggukkan kepalanya.


"Mbak Fania keren ya, punya mobil githu, kerjanya juga keren di kantoran, lha Putri sendiri hanya karyawan magang dan sebentar lagi bakal jadi ibu rumah tangga?" Gumamnya pelan tapi masih di dengar oleh Erlan sang suami.


"Sayang? Harusnya kamu bersyukur bukannya sedih githu, yang bakalan di panggil Bunda oleh anak kita, ingat lho sayang? Masih banyak orang yang ingin memeiliki anak tapi... Sang Khalik tak memberi kesempatan untuk memiliki anak sendiri," Sahut Erlan merangkul tubuh kurus Putri, istri kecilnya belakangan ini emang sangat sulit makan nasi atau semacamnya. Dia selalu memuntahkan makanan yang masuk ke dalam perut nya, entah itu bawaan bayinya atau hanya sedang tidak nafsu makn saja.


"Pulang yuk sayang, sudah jam berapa ini," Ajak Erlan dan melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Astaghfirullah hal adzim," Erlan kaget setelah melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 dini hari, dan sebentar lagi waktu subuh akan hadir.


"Allah Hu akbar sayang? sudah jam segini, sedang kita masih berada di sini," Kata Mas Erlan di sela sela keterkejutan nya.


Mas mulai menyalakan mobilnya menyusuri jalanan yang masih lengang, namun sesekali melihat motor membawa banyak sayuran,mungkin mereka ingin pergi ke pasar, di saat lainnya sedang bergelut dengan selimut hangatnya, mereka malah pergi ke pasar dengan membawa banyak sayuran yang akan mereka jual, hanya untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, agar anak serta istri nya bisa membeli setiap kebutuhan nya, dan juga biaya untuk sekolah anak anaknya.


Seorang laki-laki yang di panggil Bapak, Ayah, Abi maupun Papa. Memanglah tidak tinggi derajatnya, namun beliau mati matian mencari nafkah untuk keluarga kecilnya. Maka dari sekarang berbaktilah kalian semua kepada kedua orang tua kalian semua, jangan pernah membeda bedakan orang tua kalian semua.


BERSAMBUNG


jangan pernah sia siakan mereka berdua, selagi mereka masih ada di dekat kalian semuanya.


Karena kepergian seseorang yang kita sayangi begitu membekas dan tidak akan pernah bisa kita hapus.


Author sendiri sudah merasakan itu semua, di saat si kakak masih berumur 4 tahun beliau meninggalkan author untuk selama lamanya.


Dan di saat beliau 100 hari meninggalnya, author malah hamil lagi, dan rasanya begitu menyedihkan di saat author menjalani SC(operasi cesar) yang kedua kalinya tanpa ditemani seorang Ibu😭😭. pesan author pada readers semua nya, bahagiakan lah keduanya selagi mereka masih ada di dunia ini. Terima kasih🙏🙏🙏😘😘😘💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2