
Setelah panggilan telfon dengan sang Ayah, Erlan mencari nomer ponsel mertuanya yang tak lain adalah orang tua Putri.
Setelah ketemu nomernya Erlan pun men deal dan tersambung lah panggilan nya.
-''Hallo assalamu'alaikum,'' Ucap orang di seberang sana, yang ternyata sang mertua perempuan.
-''Waalaikum salam Bu?'' jawab Erlan.
-''Ibu? maaf Erlan mau ngasih tau kalau Putri sudah melahirkan baru saja Bu?'' tambah Erlan yang membuat sang mertua terkejut.
-''Lho bukannya masih 2 minggu lagi Le? Putri kemarin sempat bilang sama Ibu, kalau perkiraan lahiran nya 2 minggu lagi,'' tanya Bu Susi mertua nya.
-''Mungkin, adek nya mau cepat cepat bertemu kami Bu,'' jawab Erlan.
-''Bagaimana keada'an Putri sekarang Le?'' tanya Bu Susi ingin mengetahui keada'an Putri semata wayang-nya.
-''Alhamdulilah, Putri baik baik saja Bu. Nanti kalau Putri sudah bangun Erlan akan hubungi Ibu lagi, agar Ibu bisa berbicara dengan Putri,'' kata Erlan agar sang mertua tak merasa khawatir pada puteri nya.
-''Baiklah, kalau begitu Ibu mau ngasih kabar bahagia ini pada Ayah mu dulu, agar kita bisa ke sana,'' Ucap Bu Susi pada sang menantu.
-''Baiklah Ibu? kalau githu Erlan matiin telfonnya? assalamu'alaikum,'' Ucap Erlan memutuskan sambungan telfon setelah sang mertua menjawab salam nya.
Selesai menelfon Erlan beranjak dari duduk nya, dia melangkah masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan tempat Putri lahiran.
__ADS_1
''Gimana Erlan, sudah kamu hubungi orang tua kamu dan juga orang tua Putri,'' tanya Bu Widya beruntun.
''Sudah Bu? namun orang tua Erlan akan datang 2 minggu lagi, mereka bilang sudah memesan tiket pesawat di tanggal 17 Bu, kalau mertua Erlan belum bilang kapan datang nya, mungkin setelah istri Erlan bangun, Erlan akan tanyakan pada dia,'' jawab Erlan dengan jelas.
''Lebih baik kamu pesan kan mereka travel untuk mengantar mereka ke sini, bagaimanapun juga mereka mungkin masih mikir masalah transportasi nya juga Erlan?'' tuan Aries memberi ide pada Erlan agar mertua nya di cariin mobil untuk mengantar kan ke Jakarta.
''Baik Pak, mungkin Pak Aries benar, Erlan akan bicara dulu sama paman ku yang biasa mengantar orang sampai keluar jawa,'' jawab Erlan sopan.
''Baguslah? kapan Putri akan di pindahkan,'' tanya tuan Aries lagi.
''Sebentar lagi Pak, tadi waktu Erlan keluar dari ruangan, Putri sedang tidur, mungkin kelelahan setelah melahirkan kedua anak Erlan Pak,'' jawab Erlan, mengingat istri kecilnya begitu kuat melahirkan kedua bayi nya. Istri kecilnya tak mengeluh kesakitan di saat saat sudah waktu nya pembuka'an demi pembuka'an, Erlan ingat betul Putri hanya menggigit bibir bawahnya sampai mengeluarkan darah, sesekali dia membaca sholawat dan beristiqhfar seraya menahan sakit yang sungguh luar biasa sakitnya.
Di dalam ruangan Putri mengerjapkan matanya, dia melihat ke sekeliling ruangan mencari sosok orang yang begitu ia cintai, Putri lantas melihat seorang suster yang sedang duduk di meja yang berada di dalam ruangan tersebut.
''Suami nona berada di luar, mau saya panggilkan?'' tawar sang suster.
''Boleh suster, maaf merepotkan?'' balas Putri memejamkan kembali matanya.
''Maaf Bapak Erlan?'' tanya suster setelah berada di luar ruangan.
''Dia sedang ke toilet suster? ada apa ya,'' tanya Bu Widya menghampiri suster.
''Nona Putri sudah bangun? dan mencari Pak Erlan nyonya,'' jawabnya.
__ADS_1
''Biar saya saja yang masuk ke dalam suster, saya ingin menemui anak saya di dalam,'' Ucap Bu Widya pada sang suster.
''Baiklah nyonya?'' jawab suster tersebut dan berbalik, dia masuk ke ruangan bersalin bersama Bu Widya di belakang-nya.
''Sayang? kamu nggak apa apa kan?'' tanya Bu Widya setelah berada di samping Putri, Bu Widya memeluk Putri dan menciumi puncak kepalanya yang tertutup dengan hijabnya.
'Putri begitu cantik walau tanpa polesan di wajahnya, memang kecantikan Putri adalah kecantikan yang alami yang Allah berikan padanya. Dan sungguh beruntung sekali Erlan memiliki istri yang tangguh seperti Putri, yang tak merengek ketika merasa kesakitan saat akan melahirkan, dia juga tidak merintih hanya terdengar suara beristiqhfar dan bersholawat di bibir ranum nya,' batin Bu Widya, menatap wajah Putri.
Bu Widya tenggelam dalam lamunan nya sehingga Putri melambai-lambai kan tangan di depan wajah Bu Widya.
''Ibu kenapa ngelamun githu sich?'' tanya Putri ketika melihat Bu Widya terdiam dalam lamunan nya.
''Ach nggak apa apa kok sayang? Mama hanya khawatir saja tadi kamu kenapa napa, lagian kamu kenapa nggak bilang sama Mama, kalau kamu sudah mengalami mules,'' jawab Bu Widya cemas.
''Putri juga nggak tau Bu? kalau Putri akan lahiran sekarang, Putri juga nggak tau dengan pasti kalau orang lahiran tuh apa saja yang sakit, yang Putri tau hanya pecah ketuban dan sakit pinggang saja?'' kata Putri memperjelas ketidak tahuan dia.
''Kalau perut mules mules tuh sejak masih ada di yayasan tadi, tapi Putri kira adek bayinya yang nendang kekencengan, makanya terasa sakit perut Putri,'' terangnya.
''Aduh sayang, kenapa kamu nggak bilang sama Mama kalau kamu merasakan mules di perut nya,'' Ujar Bu Widya.
''Sudahlah Bu, kan adik bayinya sudah keluar dengan selamat, dan Putri juga sehat sehat saja kan?'' sahut Putri yang membuat Bu Widya terdiam. Merasa kalah debat Bu Widya pun menghampiri sang suster yang sedang mengetik sesuatu di komputer nya.
''Maaf suster? Putri kapan mau di pindah ke ruang rawat ya,'' tanya nya.
__ADS_1
''Sebentar lagi nyonya, menunggu dokter Erina dulu,'' jawab sang suster menghentikan pekerjaan nya sejenak, hanya untuk bisa menjawab pertanyaan dari nyonya Aditama.