Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 93 Meminta restu


__ADS_3

*Kalimantan*


Sesampainya Erlan di Kalimantan langsung menghampiri sang Nenek dan juga Kakek nya yang sudah lama tidak ia jenguk, karena Erlan tak pernah pulang ke Kalimantan semenjak dia kuliah di luar negeri.


''Masih ingat toh ke rumah Nenek?'' tanya sang Nenek pada sang cucu.


''Ya masih ingat lah Nek, mana mungkin Erlan lupain Nenek tersayang ku ini,'' jawab Erlan memeluk sang Nenek.


Mereka berdua terkekeh sekaligus senang dengan kedatangan Cucunya yang nakal itu.


''Ternyata kamu nggak pernah berubah sejak dulu,'' tutur sang Nenek.


''Erlan kan bukan Power Rangers yang harus berubah sewaktu-waktu Nenek ku sayang?'' Ucap Erlan menggoda sang Nenek.


''Kapan nich Nenek akan di kasih cicit nya,'' tanya sang Nenek lagi.


''Nenek tunggu saja tanggal nya Oke, nggak akan lama lagi Erlan bakalan menikahi gadis kecil yang Erlan cintai,'' Gumam Erlan tersenyum.


''Dasar Anak nakal,'' Ujar sang Nenek memcubit pinggang Erlan cucu nya.


''Awas saja kalau nggak cepat kasih Nenek cicit, Nenek bejek bejek kamu itu biar kapok,'' tambahnya lagi yang membuat Erlan bergidik ngeri mendengar ucapan sang Nenek barusan.


Sang Kakek pun keluar dari kamarnya setelah mendengar suara cucu nakalnya.


Sang kakek lantas menghampiri Erlan yang lagi asik mengobrol dengan sang Istri, ''Asik banget kayaknya,'' celetuk sang kakek yang baru keluar dari kamar nya.


''Yach, di asik asikin saja lah kek? Nenek sekarang sangat garang sama Erlan,'' Adu Erlan pada kakek nya.


''Dasar cucu nakal, pakek bilang Nenek garang segala,'' Ucap sang nenek memukul Erlan.


''Sudah sudah, ajak Erlan makan saja, dari tadi kakek dengar cuma di ajak ngobrol doang,'' tutur sang kakek pada istri nya yang hanya mengajak sang cucu mengobrol.


''Bener thu kek, Nenek hanya mengajak Erlan untuk mengobrol, minuman saja tak tersedia di meja, padahal kan Erlan jauh jauh datang ke sini cuma untuk nemuin nenek tersayang dan juga kakek ku yang tercinta saj,'' tutur Erlan panjang kali lebar.


Sang Nenek memukuli Erlan dengan tongkat nya yang ia pegang.


Erlan berusaha untuk menghindar namun itu semua percuma, karena pukulan sang Nenek tepat mengenai punggung Erlan.

__ADS_1


Sang nenek memukuli Erlan dengan sangat perlahan, namun Erlan pura pura pura mengaduh kesakitan.


''Ampun Nek sakit?'' teriak Erlan dengan kepura-puraan nya.


''Sudahlah, hentikan guyonan kalian, emangnya pada nggak malu ya, sudah pada berumur masih saja bercanda kayak anak kecil,'' tegur sang Kakek.


Tapi tak mereka respon ucapan yang di lontarkan sang kakek, Nenek Erlan tetap saja memukuli cucu nakalnya.


Erlan mengitari meja di ruang tamu guna menghindari amukan dari sang nenek.


Kakek Erlan pun melangkah pergi menuju teras rumahnya, Erlan yang melihat sang Kakek keluar mengikuti nya dari belakang, meninggalkan sang nenek di ruang keluarga.


Erlan duduk di samping sang kakek sembari mengutarakan kedatangan nya.


''Kakek? ada yang Erlan mau omongin sekarang, sangat penting,'' Gumam Erlan memulai pembicaraan nya.


''Ada apa lhe?'' tanya sang kakek lembut.


''Sebenarnya Erlan ke sini, ada yang mau Erlan katakan pada kakek,''


''Katakan apa itu, sehingga kamu jauh jauh datang ke sini,'' tanya sang kakek mulai penasaran.


''Kalau kamu sudah siap membina rumah tangga, dan mengarungi bahtera rumah tangga dengan pasanganmu, lanjutkan lah, kakek akan selalu setuju selama itu hal yang baik buatmu dan juga buat Putri,'' jelasnya Panjang lebar.


Erlan mengangguk dan sang kakek berpesan kembali pada Erlan. ''Janganlah sekali kali kalian bertengkar, hanya masalah sepele, kalau ada amasalah dengan istri nya, cepatlah selesai oan dengan kepala dingin,'' pesan sang Kakek untuk Erlan.


''Insya Allah Kek, akan aku ingat semua pesan kakek,'' jawab Erlan.


Setelah cukup lama mengobrol dengan sang kakek, sang nenek pun memanggilnya untuk makan siang, ya walaupun sudah terlewat waktunya untuk makan siang.


*-*-*-*-*-*-*-*-*


Satu bulan kemudian.


*Di Jakarta*


Sedangkan Putri di Jakarta sedang mempersiapkan kepulangan nya, Putri sudah meminta ijin pada sang dosen untuk cuti kuliah selama 2 minggu lamanya.

__ADS_1


Reno dan juga Zein kebagian untuk mengelola Catering nya untuk sementara waktu,


Putri dan Erlan berpamitan pada Ibu ibu yang bekerja di rumah Catering nya, ''Putri titip Catering Putri dulu Ibu, Putri percaya kalau Ibu Ibu bisa,'' tutur Putri lembut.


''Reno aku titip Rumah ini ya, sekalian tolong bantu Ibu Ibu juga,'' pinta Putri pada teman nya.


''Zein, aku pamit, jangan lupa bantuin Reno untuk Putri,'' pamitnya sekaligus mengingat kan sahabat kecilnya.


Reno dan Zein mengangguk.


''Kalian tidak usah memikirkan ini lagi, kalian fokus saja pada pernikahan kalian di sana, maaf kami tidak bisa ikut kalian pulang,'' jelas Zein, dengan nada sedihnya dia meminta maaf pada sahabat kecilnya, karena tidak bisa mengikuti di mana hari penting bagi sang sahabat.


''Tidak apa apa kok Zein, kamu sudah jagain ini semua untuk Putri, Putri audah senang dan sangat bahagia karena sudah mau menjaga rumah beserta mengurus Catering Putri,'' Ucap Putri melangkah kakinya guna menuju ke Bandara.


Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta Putri dan Erlan duduk, menunggu jam keberangkatan nya.


Pesawat yang di tumpangi Putri dan Erlan pun akan lepas landas, semua penumpang memasuki dan duduk dib tempatnya masing-masing yang sudah tertera di tiketnya.


Didalam pesawat Putri tak banyak bicara, Erlan terus memandangi wajah gadis kecilnya yang mulai terdiam sejak dia naik ke atas pesawat, Putri lebih banyak diamnya.


Tak berapa lama pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan selamat, Erlan dan Putri bergegas turun dan keluar untuk mencari taksi yang membawa mereka ke rumah nya.


''Kamu kenapa sayang?'' Tanya Erlan memberanikan diri untuk bertanya pada gadis kecilnya.


''Putri nggak apa apa kok kak,'' jawabnya mencoba untuk tersenyum.


Namun nyatanya Putri gugup karena sebentar lagi dia akan menjadi istri Sah nya Erlan, sah secara hukum maupun sah secara Agama.


Putri gugup menjelang hari pernikahan nya, karena Putri takut tidak bisa menjadi istri yang suaminya ingin kan.


''Jangan terlalu banyak berfikir, nanti yang ada kamu malah sakit,'' Gumam Erlan saat melihat gadis nya masih terus berperang dengan fikiran nya.


''Ach, iya,'' jawab Putri membuyarkan lamunan nya.


''Kenapa sich bsa yang, kayaknya kamu nggak senang kalau kita menikah,'' tanya Erlan.


''Ach, bukan itu kak, Putri senang kok, tapi ada yang Putri pikirkan jadi tak fokus mendengar ucapan kak Erlan,'' jawabnya merasa bersalah pada Putri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2