
Pagi itu Erlan mengirim surat lamaran pada salah satu perusahaan di Jakarta, karena sebentar lagi kuliah nya akan segera usai.
''Semoga keterima ya Allah,'' gumam Erlan saat e-mail yang berisi surat lamaran kerjanya sudah dia kirim ke perusahaan tersebut.
''Sayang? tunggu kakak, setelah itu kita akan segera menikah, dan akan hidup bersama,'' Gumam Erlan.
Erlan yang mengambil jurusan Bussiness management di Melbourne Universitas Australia sedang menjalani sidang skripsi nya. Tak lupa Erlan meminta do'a pada orang tuanya dan juga pada gadis kecilnya.
Erlan menghembuskan nafas saat di panggil untuk sidang skripsi nya.
Setelah sidang selesai Erlan di sambut dengan gembira oleh semua temannya yang sama sama dari Indonesia.
''Gimana?'' tanya teman nya.
''Alhamdulillah, lancar,'' jawab Erlan.
''Semangat semuanya?'' tutur Erlan menyemangati teman temannya yang akan menjalani sidang skripsi nya juga.
Setelah sidang Erlan bergegas menuju Restoran tempat ia bekerja. Erlan menyapa temannya yang datang lebih dulu.
''Katanya ijin, kok malah masuk kerja,'' berondong sang teman.
''Sidang skripsi nya sudah selesai, dari pada sendirian di Asrama, mending kerja ia nggak, cuan itu penting bro,'' sahut Erlan tertawa.
''Ya elah mata duitan banget sich Lan?'' tukas teman satunya.
''Iya lah, penting banget. Karena gue mau menikah setelah pulang dari sini,'' Ucap Erlan yang tiba-tiba membuat suasana di Restoran menjadi hening.
''Lho bakalan Resign dari sini,'' tanya nya.
''Iyalah, kalau gue nggak Resign istri gue gimana?'' tanya Erlan balik.
Teman temannya pada mengangguk, ini semua di lakukan Erlan karena begitu sayang pada Putri sang gadis.
''Sudah kerja semua nya, tuh para tamu mulai berdatangan,'' tunjuk Erlan pada salah satu temannya.
Teman Erlan menghampiri pengunjung dan bertanya ingin memesan apa pada pengunjung nya.
Erlan bergegas ke dapur guna membantu mempersiapkan makanan yang akan di pesan oleh pengunjung restorannya, karena Koki yang satunya meminta ijin karena istri nya akan melahirkan di salah satu rumah sakit terbesar yang ada di negara tersebut.
*-*-*-*-*-*-*-*
*Kontrakan Putri*
Pagi pagi sekali Putri pergi ke Stasiun kereta untuk menjemput sang Ibu.
Putri memilih naik sepeda motor yang dia beli di saat Erlan sedang bersama nya, karena Putri sendiri merasa tidak enak hati kalau terus terusan memakai motor Zein sahabat kecilnya.
__ADS_1
Sesampainya di Stasiun Putri menunggu sang Ibu sambil memainkan ponsel nya.
Putri tidak memperhatikan lalu lalang orang orang di sekitar nya, sampai ada seseorang yang menyapa nya di sana.
''Putri?'' Panggil Boy.
Putri menoleh ke asal suara yang tadi memanggil namanya.
''Sedang apa di Stasiun?'' Tanya lembut Boy.
''Putri lagi menunggu Ibu,'' jawab nya menghentikan bermain ponsel.
Putri memasukkan ponsel nya ke dalam tasnya seraya bertanya pada Boy.
''Kakak senior sendiri ngapain di Stasiun,'' tanya Putri ramah, walau ada rasa malas untuk mengobrol dengan Boy, namun tidak sopan ketika ada yang menyapa tapi menjawab.
''Aku juga nunggu Abangku di sini,'' sahut nya tak kalah ramah.
''Och, ya sudah kalau githu Putri ke sana dulu ya,'' pamit Putri menghindari Boy karena takut kena omelan Mak Lampir nya yang selalu nempel di dekat Boy.
''Putri, di sini saja, Diandra nggak ikut kok,'' Ucap Boy.
''Lagian kamu kenapa sich selalu menghindar dari aku,'' tanya Boy.
''Iya nggak apa apa, kamu kan sudah punya Diandra, lagian aku juga sudah punya tunangan,'' jawab Putri jujur.
''Tapi nggak harus githu Putri?'' Ucap Boy pelan.
Tiba-tiba ada suara yang memanggil Putri tepat di belakang nya.
Putri menoleh dan langsung menghambur ke pelukan sang Ibu yang sedari tadi di tunggu nya.
''Lama banget sich Bu sampai nya?'' rengek Putri dalam pelukan sang Ibu.
''Ya mau bagaimana lagi, kan bukan aku yang bawa kereta nya,'' celetuk Bu Yuni pada puterinya.
Putri terkekeh mendengar ucapan sang Ibu, ''Ibu bisa saja?'' Ujar nya melepaskan pelukan nya.
Boy yang ada di sana hanya menatap Putri yang sedang mengobrol dengan Ibu nya.
''Boy,'' sapa seorang laki-laki tampan berumur 29 tahun.
''Abang?'' sahut Boy.
''Sudah lama nunggu nya,'' sapanya lagi.
''Sudah dari tadi nunggu nya, sampai jamuran nich,'' canda Boy.
__ADS_1
Daniel memandang ke arah Putri dan juga Ibu nya yang masih mengobrol. Daniel mengerutkan keningnya mengingat ngingat perempuan yang ada di depannya.
Cukup lama Daniel memikirkan siapa perempuan tersebut, ''Ach aku ingat sekarang,'' Gumam nya pelan.
Boy merasa heran pada sang Abang karena ngomong sendiri.
''Anastasya Putri,'' sapa Daniel mantan pegawai di salah satu tokonya dulu.
Putri menatap Daniel dan menjawab sapa'an nya.
''Iya, Pak Daniel sedang apa di sini,'' tanya Putri.
''Kalian saling kenal, kok aku nggak tau,'' tanya Boy.
Daniel tidak menjawab pertanyaan sang Adik, Daniel malah menghampiri Putri dan juga Ibu nya Putri.
''Putri ngapain di sini,'' tanya Daniel.
''Putri, menjemput Ibu Pak?'' kata Putri sopan.
Boy menghampiri Putri dan juga Daniel dan bertanya sekali lagi pada Abangnya.
''Abang kenal dengan Putri,'' tanyanya.
''Iya kenal, dulu dia pegawai Abang,'' jawab nya.
''Kok dulu sich Bang?'' tanya Boy lagi.
''Putri dulu waktu masih SMA magang di toko Pak Daniel senior?'' jawab Putri.
''Kalian berdua satu kampus?'' tanya Daniel baru mengetahui nya.
''Iya,'' jawab Putri dan Boy hampir bersamaan.
Putri akhirnya pamit untuk Pulang terlebih dulu karena pekerjaan di rumahnya sudah menunggu sejak tadi.
Putri membawa tas yang berisi baju baju Ibu nya, di taruh nya di depannya dan Putri pun melajukan motor bebeknya menelusuri jalanan Jakarta yang super macet saat di jam jam tertentu.
Putri yang sudah terbiasa mengendarai motor nya menerobos kemacetan dan memasuki gang gang kecil guna menghindari dari kemacetan di depannya.
Putri mengurangi kecepatan motor nya setelah dekat dengan rumah kontrakan nya. Dan di sana sudah ada Zein dan juga Reno yang sedang menunggu nya di teras rumahnya
Putri menaruh motornya dan menyapa Zein dan Reno yang bergegas menghampiri sangat Ibu.
Zein dan juga Reno mencium tangan Putri tanda rasa sopan santun sebagai anak yang di besarkan di desa, Zein dan Reno masih menjunjung tinggi tatakrama.
Setelah bertegur sapa, Putri membawa sang Ibu ke kamar yang sudah ia bersihkan tadi sebelum berangkat menjemput.
__ADS_1
Sedang di dapur kegiatan nya seperti biasa, hanya Ibu Ibu yang di pekerjakan oleh Putri karena ingin membantu keuangan keluarga mereka.
BERSAMBUNG