
Sherly Anggia sesekali tersenyum melihat keluarga dari calon suaminya yang saling menyayangi antara satu dengan lainnya.
''Permisi, tuan, nyonya,'' sapa sang waiter yang membawa banyak makanan, dan dengan cekatan dia menata semua makanan itu di atas meja.
''Silahkan di nikmati? tuan dan nyonya,'' lanjut sang waiter seraya undur diri dri hadapan keluarga Aditama.
''Adek? banyak banget makanan nya?'' tanya Bu Widya pada anak bungsu nya.
''Kita harus banyak pesan makanan Ma? apalagi bumil yang doyan makan,'' Jawab Sandra melirik Putri yang masih sibuk dengan rumahnya.
''Cerita nya ledekin Putri nich? tapi beneran kok Putri sudah laper banget,'' celoteh nya, dan mengambil udang saos tiram di depan nya.
''Ya sudah, kita makan dulu ya?'' Ucap Pak Aries menatap Anggia.
Anggia yang di tatap pun hanya mengangguk pelan, dan mengambil steak daging ayam yang ada di depan nya.
''Maafin keluarga aku ya sayang, mereka bukannya cuek sama kamu, tapi kalau sudah saling kenal, mereka bakalan mengajak kamu juga untuk bercanda,'' bisik Bryan pada Anggia, agar dia tidak merasa di tirikan dengan kehadiran nya di tengah-tengah keluarga Aditama sekarang ini.
''Iya, Anggia ngerti kok sayang? kamu jangan berpikir yang aneh aneh dech, aku cuma merasa senang saja, berada di tengah-tengah keluarga kamu yang begitu harmonis dan juga penyayang, satu sama lainnya.
''Terima kasih ya sayang, sudah mengerti mereka,'' Gumam Bryan memegang tangan Anggia dan menepuk pelan.
''Aku harap? kamu nggak salah paham lagi sama kita,''
''Kita??'' tanya Anggia tak mengerti.
''Iya, kita. Aku dan adik angkat ku? seperti tadi pas pertama bertemu, padahal sudah sering aku cerita sama kamu, kalau ku punya adik angkat perempuan yang somplak banget, tapi nyatanya kamu malah cemburu dan hampir saja salah faham,'' jelas Bryan pada Anggia, Anggia hanya menyunggingkan senyum manisnya mengingat pertemuan pertamanya dengan keluarga sang calon suami.
''Iya, aku minta maaf ya sayang?'' jawab Anggia menepuk pelan pipi Bryan, laki-laki yang ia cintai.
__ADS_1
''Hem...! pacarannya di lanjut nanti saja, sekarang kita makan yuck,'' ledek Putri yang membuat Anggia menjadi canggung dan kikuk, karena ketahuan memegang pipi pujaan hati nya.
Pak Aries hanya menggeleng pelan, sedangkan Pak Daniel jangan di tanya lagi, dia masih betah dengan sikap dinginnya. Bahkan dia juga tidak mengatakan sepatah katapun sejak ia sampai di restoran, di mana dia makan sekarang.
Pak Daniel nampak termenung, entah apa yang ia pikirkan saat ini, Putri yang ratu kepo pun langsung bertanya pada kakak angkat nya.
''Kenapa Pak? lagi mikirin hutang atau mikirin gadis,'' celetuk Putri yang berkata seenak jidad dan seenak e dewe.
''Putri? mana mungkin Abang ku punya hutang,'' balas Kak Sandra yang juga sudah menyelesaikan makanan nya.
''Terus kalau nggak mikirin itu, mikirin apa dong kak?'' tanya Putri lagi yang membuat ruangan VVIP itu riuh seketika.
''Mungkin, kakak kamu sedang mikirin jodohnya, yang sampai saat ini belum juga muncul Putri?'' sambung Pak Aries yang membuat Pak Daniel membelalak kan matanya, dia nggak nyangka kalau sang Papa akan berkata demikian.
Namun itu di benarkan oleh Daniel, dia bergumam di dalam hatinya, ''Dekat kanlah jodoh hamba ya Allah, hamba tau kalau hamba banyak menuntut dan meminta yang berlebihan, namun Engkaulah tempat ku untuk berkeluh kesah untuk saat ini dan untuk selamanya.'' do'a nya di dalam hati.
''Kalau kayak gitu, biar Putri bantu cari dech Pak?'' Ujar Putri yang sukses membuat pak Daniel memelototi Putri.
''Kita kumpul di sini, buat bahas Bryan dan pacarnya. Bukan mau membahas tentang ku dan jodohku yang sekarang entah ada di mana?'' Gumam Daniel pelan namun bisa membuat orang orang takut mendengar nya, namun tidak berlaku pada Putri, gadis petakilan dan nggak pernah merasa takut. Entah itu efek dari baby nya atau dia saja yang bar bar.
''Anggia menatap pada sangat kekasih di sampingnya, guna untuk menghilangkan rasa gugupnya karena sedari tadi di lihatin terus oleh orang tua Bryan.
''Papa Mama kamu menyetujui, kalau kamu dengan Bryan menjalin hubungan?'' tanya Pak Aries memulai pembicaraan nya.
''Insya Allah mereka semua setuju tuan?'' jawab Anggia takut takut, dan menundukkan kepalanya.
''Nggak usah takut sayang? Papa Bryan cuma bertanya saja sama kamu, kalau keluarga kamu semua nya sudah setuju, jadi kami juga merestui kalian, jadi kapan kami bertemu dengan orang tua kamu sayang?'' Ucap Bu Widya menghampiri Anggia.
''Mama sama Papa mungkin besok sudah berada di Jakarta nyo....?''
__ADS_1
''Panggil saya Mama seperti Bryan memanggilku,'' potong Bu Widya, karena Anggia memanggilnya dengan nyonya.
''Panggil Ibu saja kak, biar enak nggak belibet lidah nya?'' celetuk Putri yang langsung mendapatkan pelototan dari Bu Widya.
Anggia hanya tersenyum melihat orang orang di sekeliling saat ini, yang semua suka pada ngelawak atau guyonan.
''Adek? jangan jadi provokator dech, biar kakak ipar kamu memanggil dengan sebutan Mama,'' sahut Bryan.
''Ya kan, biar Puput ada temannya untuk memanggil Ibu kak??'' rengek nya, menggembungkan pipi chubby nya.
''Kan Mama sudah nyuruh kamu buat memnggil Mama, tapi kamu nggak mau di atur sama Mama,'' cerocos Bu Widya.
''Ibu, jangan galak galak? nanti kak Anggia takut sama Ibu,'' jawab Putri tanpa merasa bersalah.
''Mama nggak galak kok Anggia, jadi ucapan Putri jangan di ambil hati ya?'' Ucap Bu Widya yang masih duduk di samping Anggia.
''Iya Ma?'' jawab Anggia lembut dan tersenyum.
''Oiya Putri, kapan kita jenguk si baby boy,'' tanya kak Sandra.
''Iya sayang? Mama sudah kangen sama baby boy yang gembul itu,'' sambung Bu Widya yang sukses membuat Pak Aries dan juga Pak Daniel terperangah menatap mereka berdua.
''Baby siapa Ma?'' tanya Pak Aries pada istri nya.
''Baby boy Pa? dia lucu banget, pipinya gembul dan juga gemesin,'' jawab Bu Widya yang tersenyum manis pada suami nya.
''Yang di maksud Ibu dan juga kak Sandra itu, baby boy yang ada di yayasan Pak? anaknya emang gemesin?'' Putri menimpali ucapan Bu Widya dan juga Pak Aries.
''Insya Allah besok Bu, kak? kak Anggia mau ikut nggak, sekalian Putri besok mau berbagi pada adik adik, karena kandungan Putri sudah menginjak 4 bulan, kalau kata Ibu Putri di kampung sich, memanggil arwah si jabang bayi,'' jelas Putri yang di angguki oleh semua nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Makasih kakak yang selalu mampir baca karya receh ku🙏🙏🙏😘😘😘😘💕💕💕