Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 68 Ajakan Zein


__ADS_3

Satu minggu kemudian Zein mendatangi rumah Putri, Zein meminta ijin pada Bu Yuni untuk mengajak putrinya ke tempat tempat masa kecil nya dulu.


''Zein minta ijin untuk membawa Putri ke tempat kita dulu waktu masih kecil? apa di ijinin.'' Pinta Zein pada Bu Yuni Ibu nya Putri.


''Iya, Ibu ijinin asal jangan lama lama perginya.'' sahut Bu Yuni mengusap bahu sang putri.


''Terima kasih Bu? kalau githu kita pamit keluar sebentar.'' Ujar Zein beranjak dari duduk nya dan menghampiri Bu Yuni.


Zein mencium tangan Bu Yuni.


''Putri pergi dulu Bu?'' pamit Putri dan mencium punggung tangan sang Ibu.


''Hati-hati di jalan?'' pesan Bu Yuni pada mereka berdua.


''Kita jalan kaki kok Bu, motor Zein taruh di sini.'' tukas Zein yang di angguki Bu Yuni.


''Assalamu'alaikum.'' Ucap Zein dan juga Putri sebelum keluar dari rumahnya.


''Waalaikum salam?'' Jawab Bu Yuni dan menutup pintu setelah mereka berdua sudah tak terlihat lagi.


''Semoga saja tak ada omongan yang macam macam dari tetangga.'' Gumam Bu Yuni pelan dan mendudukkan diri di kursi yang sudah usang.


Zein dan juga Putri berjalan beriringan, banyak pasang mata yang melihat mereka berdua yang sedang berjalan berdua, Putri tak terlalu menghiraukan para tetangga nya yang emang suka banget gibahin orang.


Putri mengirim chat pada Erlan, Ding... Bunyi pesan di ponsel Erlan.


Erlan yang lagi membantu memasak sang chef langsung mencuci tangan nya, dan dengan segera mengambil ponsel nya di saku celana belakang nya.


📩- Kak Erlan Putri ijin pergi bareng Zein, sahabat kecil Putri, boleh kan??'' isi pesan Putri yang di baca Erlan sang tunangan.


Erlan langsung membalas chat dari gadis kecilnya, Ding... chat Erlan masuk ke ponsel Putri.


Putri membaca pelan isi chat dari tunangan nya.

__ADS_1


📩- Kakak ijinin kok? tapi ingat jangan lama lama ketemuan nya, walaupun dia adalah sahabat kecil kamu, namun siapa yang tau dia bakalan punya perasaan terhadap kamu yang sekarang. Isi pesan dari Erlan, Putri tersenyum sekilas lalu memandang ke arah Zein yang sudah duduk terlebih dulu di gubuk yang dia sering datangi kalau hari minggu, disaat masih kecil.


Putri menghembuskan nafas kasarnya, dan mulai bertanya pada Zein, niat dia mengajak ke tempat masa kecilnya dulu.


''Ada perihal apa Zein, sampai membawa aku ke tempat ini.'' tanya Putri lembut dan terus memandang layar ponsel nya.


''Nggak ada hal yang penting sich An, tapi aku kangen suasana seperti ini, kangen masa kecil kita dulu yang selalu menghabiskan waktu setengah hari hanya duduk diam di gubuk kumuh ini.'' Ucap Zein mengingatkan Putri akan masa lalunya dulu, dan Zein juga memanggil nama yang biasa ia ucapkan semasa masih ada di satu kota dengan Putri, Anas adalah panggilan kesayangan Zein waktu itu.


Dan hanya di sekolah yang sekarang panggilan Anastasya di ganti dengan Putri.


''Iya Zein, tapi sekarang kita sudah pada dewasa, nggak nyangka juga kalau sekarang bakalan terpisah dengan jarak.'' Gumam Putri memandang kayu kayu yang ada di sana, karena Putri sendiri tak pernah lagi mencari kayu bakar lagi, sejak Putri menginjak kelas 2 SMP.


''Kalau boleh tau, kamu kuliah di mana?'' Tanya Putri mencairkan suasana.


''Sekarang aku kuliah di Jakarta, disalah satu Universitas yang ada di sana.'' Tutur Zein memandang wajah cantik sahabat kecilnya.


''Habis ini kamu akan meneruskan atau langsung nikah?'' Tanya Zein ambigu.


''Kalau kau mau, aku bisa mengajukan Beasiswa untuk mu An, bagaimana?'' tanya Zein semangat.


Putri menggeleng kan kepalanya pelan.


''Putri belum tau Zein?'' Ucap Putri bingung, karena sejatinya yang membiayai sekolah Putri yang sekarang, adalah Pak Enggar orang tua dari tunangan nya.


''Kok malah bilang nggak tau githu sich Anas?'' tukas Zein kesal pada sahabat nya.


''Putri sekarang sudah punya tunangan Zein, Putri harus meminta persetujuan dari tunangan Putri dulu, belum lagi minta ijin ke orang tua kak Erlan.'' Ucap Putri memperjelas status nya yang sekarang pada sahabat kecilnya.


Zein hanya bisa mengacak rambutnya karena kesal dengan ucapan Putri.


''Mulai sekarang kamu coba bilang pada Erlan, kalau kalau aku bisa di terima kuliah di Jakarta.'' Gumam Zein dan terus memandang wajah cantik sahabat nya.


''Lusa aku kembali ke Jakarta, aku akan ajukan nama kamu mulai besok, siapa tau bisa keterima, kamu pintar An.'' Tukas Zein yang di angguki Oleh Putri.

__ADS_1


''Sudah sore Zein, pulang yuck?'' Ajak Putri dengan sengaja menghentikan obrolan nya tentang Beasiswa.


-''Lagian aku masih kelas 2,dasar Zein ada ada saja yang di omongin.'' Gumam Putri pelan sehingga Zein yang berada di samping nya tak mendengar gumaman dari Putri.


Zein dan juga Putri beranjak dari duduk nya dan berjalan menyusuri jalan setapak pinggiran sungai, yang di mana Zein pernah jatuh dulu.


Putri memandangi air di sungai yang sangat jernih, bahkan liuk liuk ikan saja bisa terlihat dari atas sungai, Putri melemparkan senyuman nya pada Zein sahabat waktu kecil.


''Mau turun.'' Tanya Zein tiba-tiba pada Putri.


''Nggak kok, lagian aku masih belum bisa berenang.'' jawab jujur Putri dan langsung di tertawakan Zein.


''Sudah tua gini masih belum bisa berenang An! hahaha.'' masih dengan tawaan nya dan tiba-tiba, ''Huk huk huk.'' Zein keselek ludahnya sendiri.


Putri yang melihat Zein batuk batuk hanya mengangkat satu alisnya dan bergumam. ''Makanya kalau ada orang lagi ngomong jangan di ketawain, kena karma kan rasain tuh, pakek bilang gue tua lagi, lhu sama gue lebih tua lhu tauk.'' Ujar Putri ketus sambil memalingkan pandangan nya melihat ke arah lain.


''Kalau ada orang batuk batuk, bantuin dong An? masak nggak di pijat githu bahuku.'' Sahut Zein masih dengan batuk batuk nya.


''Sudah ach pulang yuck, nanti mampir di warung Bu Nah, beli minuman buat kamu.'' Ucap Putri melangkah pergi.


Zein mengikuti Putri di belakang nya yang lagi ngedumel gara-gara omongan Zein yang bilang Putri tua.


Zein hanya menjadi pendengar yang baik tanpa menjawab sepatah katapun, dumelan sahabat nya.


Tiba di warung Bu Nah, Putri mengambil satu botol air kemasan dan memberikan minuman tersebut pada Zein, Zein menerima minuman yang di kasih Putri dengan senyuman manisnya.


Putri mengambil minuman dingin dan langsung menegak habis, karena cuacanya sangat panas walau sudah sore. Putri merogoh saku gamisnya diambil satu lembar uang kertas 50 ribu untuk membayar minuman yang ia beli.


Zein terus tersenyum melihat sahabat kecilnya yang kini tumbuh menjadi gadis cantik dan juga pintar.


👉👉👉👉


Jangan bosan baca karya receh ku ya kak, Makasih 🙏🙏😘💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2