Keinginan Anastasya

Keinginan Anastasya
Bab 96 Bertemu kawan lama


__ADS_3

''Putri belum balik juga,'' tanyanya.


''Belum, kamu mau kemana nich rame rame gini,'' jawab Putri sekaligus bertanya juga.


''Kita kita mau pulang Putri, masak ia jalan lewat sini ditanya mau ke mana,'' jawabnya yang bikin Putri pusing.


''Emang rumah kalian di mana,'' tanya Putri.


''Maaf maaf, Putri lupa,'' Ucap Putri lagi.


''Iya, nggak apa apa kok Putri, maklum lah Putri kan orang sibuk sekarang,'' tukas yang lain yang sama-sama bawa anak juga.


''Sudah punya anak berapa sekarang,'' tanya Putri.


''Aku sudah 2 sama yang ini,'' menunjuk anak di dalam gendongan nya.


Putri tersenyum,seraya berkata, ''kalau kamu sudah berapa anaknya,''


''Masih ini di dalam perut,'' jawab teman yang satunya.


''Kalau kamu sendiri gimana Putri, sudah isi belum,'' tanya balik mereka.


''Kalau Putri sich masih proses,'' jawab nya terkekeh. Yang lain juga ikutan tertawa mendengar ucapan Putri.


''Jangan lama lama nundanya Putri, takutnya kayak aku ini, setelah 6 tahun menunggu baru di kasih keturunan,'' Tutur teman nya yang sedang hamil tersebut.


''Alhamdulillah, semoga sehat Ibu dan dedek nya sampai hari H ya,'' Ucap Putri mengelus perut teman nya.


Putri merasakan pergerakan di saat Putri sedang memegang perut besar nya.


Putri tersenyum, ''Dia gerak lho,'' gumam Putri senang.


Erlan ngedumel melihat sang istri lagi asik mengobrol di halaman rumah nya.


''Terus saja cuekin suaminya kayak gini, awas saja entar kalau masuk ke dalam kamar,'' Gumam Erlan pelan mengacak rambut nya.


Setelah di rasa sudah lama mengobrol dengan teman lamanya, akhirnya mereka ber empat pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Ya mereka ber empat baru pulang dari Posyandu, untuk menimbang buah hatinya dan juga untuk mendapatkan imunisasi secara gratis di Posyandu tersebut.


Setelah kepergian teman teman nya, Putri memilih masuk ke dalam rumah dan menghampiri sang suami yang masih cemberut di dalam kamar.


''Katanya mau tidur,'' Tanya Putri pada Erlan, namun tak Erlan jawab pertanyaan Putri.


Putri mengangkat satu alisnya dan langsung menyambar handuk yang di gantung di belakang pintu kamar nya.


Putri bergegas masuk ke dalam kamar mandi, guna untuk membersihkan badan nya yang berkeringat, gara-gara menyapu di halaman rumah nya yang lumayan terik sinar matahari nya.


''Gitu doang nanya nya?'' Gumam Erlan kesal.


''Ya Allah, aku juga ingin di sayang sama istri hamba, apa itu salah,'' keluh nya.


Putri keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya, dengan rambut basahnya yang dia gerai begitu saja.


Erlan hanya bisa menelan ludahnya, melihat penampilan sang bidadari kecilnya.


''Kalau nggak mau tidur, kita sholat dhuhur Jama'ah,'' ajak Putri mengambil mukenah serta sajadah.


Tanpa menjawab ajakan Putri, Erlan bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil Wudhu. Di luar Putri sudah membentangkan sajadah nya dan sajadah sang suami.


Erlan terlebih dahulu Iqamah sebelum memulai sholat nya, selesai nya Erlan langsung memulai Sholat Dzuhur nya.


Dengan khusuk mereka menjalankan Ibadah Sholat nya, setelah selesai Sholat Putri nampak mencium tangan sang suami dan di lanjutkan dengan wirid dan di tutup dengan do'a.


Kemudian Putri menuju tempat tidur nya karena dia sudah sangat mengantuk.


Erlan hanya menatap sang istri, dan diapun mengikuti Putri berbaring di kasur empuk nya. Putri mengabaikan Erlan karena Putri merasa suami nya masih marah padanya, gara-gara tadi nggak mau ngikutin kemauan suami nya.


Tak butuh waktu lama mereka berdua sudah terlelap dalam tidurnya, mengelilingi alam mimpi yang sangat indah.


Erlan memeluk Putri dengan erat, begitu juga sebaliknya, Putri memeluk suami nya tanpa sadar.


Samar samar Putri mendengar suara Adzan, dia pun memicingkan mata nya dan mencoba untuk bangun, namun tubuh Putri terasa ada yang menindih nya, di saat Putri melihat ke bawah ia melihat tangan besar yang sedang melingkar di perut Putri. Dengan sangat perlahan Putri memindahkan tangan kekar suaminya, lalu Putri bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil Wudhu.


Tanpa menunggu sang suami yang sedang terlelap dalam tidurnya, Putri menunaikan kewajiban nya sebagai umat muslim yang taat dengan Agama.

__ADS_1


Erlan meraba-raba tempat tidur nya, yang ternyata sudah kosong, Erlan pun menyingkap selimut nya dengan perlahan dan mulai menyelusuri kamar nya. Erlan tersenyum saat melihat sang istri sedang bersujud ke haribaan sang Ilahi.


''Sayang? kenapa kamu nggak bangunin Mas juga,'' Gumam Erlan pelan, namun tak terdengar oleh Putri.


Setelah selesai berdo'a Putri memandang ke arah suaminya dan bergegas menghampiri sang suami, Putri mengulurkan tangan pada Erlan, dan Putri pun langsung mencium tangan suami nya.


''Kenapa nggak bangunin Mas sich sayang?'' Ucap Erlan lembut.


''Putri nggak tega untuk bangunin Kak Erlan yang begitu nyenyak dalam tidurnya,'' sahut Putri duduk di samping nya dan melepaskan mukenah nya.


Nampak Putri menggulung rambut panjang nya, yang sudah mulai mengering.


''Sini biar Mas saja yang ikatin rambut nya,'' tutur Erlan mengambil alih untuk mengikat rambut panjang istri nya.


''Kenapa nggak di potong saja sich sayang, emang nya nggak susah githu,'' tanya Erlan.


''Nggak lah Kak, Putri sudah terbiasa dengan rambut panjang, lagian sayang juga kalau harus di potong pendek,'' Gumam Putri, yang di angguki Erlan.


''Ya sudah terserah kamu saja kalau githu,'' jawab nya.


''Kak Erlan sholat dulu gih, Putri mau mengemas barang yang akan di bawa besok,'' Ucap Putri.


Erlan beranjak dari duduk nya, lalu melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar nya.


Erlan mengambil Wudhu dan dengan cepat menunaikan ibadah sholat Ashar nya.


Putri yang sedang sibuk memasukkan sebagian baju nya, yang akan ia bawa balik ke Jakarta besok, Putri tak menghiraukan kedatangan suaminya yang sekarang sudah berada di dekatnya.


Erlan memeluk Putri dari belakang, Erlan mencium leher istri nya yang sedang sibuk mengemas barang bawa'an nya.


''Kak? jangan githu dong, geli??'' bisik Putri.


''Panggil aku Mas sayang, kita kan sudah menjadi suami istri, masak ia kamu masih memanggil kakak sich,'' Gumam Erlan tak menghiraukan indahan Putri.


''Tapi Putri sudah terbiasa memanggil kakak, terasa aneh rasanya kalau Putri memanggil kak Erlan dengan sebutan Mas,'' jawab Erlan.


Erlan membalik tubuh Putri, sehingga Putri dan Erlan saling bertatap.

__ADS_1


Erlan menatap mata Putri yang lebar namun begitu indah, lalu Erlan memandang ke arah bibir ranum sang istri yang tanpa polesan apapun di bibir manisnya. Erlan memajukan wajahnya ingin mencium istrinya, namun kegiatannya tertunda karena pintu di ketuk dari luar.


BERSAMBUNG


__ADS_2